Pages

Tuesday, November 14, 2017

perkembangan pribadi dan sosial



A.    Perkembangan  kepribdian
Kepribadian anak merupakan gabungan dari pengaruh hereditas, terutama dalam wujud tempramen yang diwariskan, dan faktor lingkungan seperti perilaku orang tua dan eksspektasi budaya.
Tempramen
Secara umum tempramen adalah tendensi umum untuk merespon dan menangani peristiwa- peristiwa lingkungan dengan cara tertentu. Tiap anak memiliki mengiddentifikasi berbagai gaya tempramen yang muncul pada anak usia dini dan relatif bertahan lama, meliputi tingkat aktivitas umum, adaptabilitas, kegigihan, peramah, pemalu, pendiam, penakut pemarah dsb. Sebagian besar psikolog berpendapat bahwa perbedaan tempramen tersebut berbasis biologis dan hereditas.
Tempramen anak yang diwariskan memengaruhi kesempatan- kesempatan belajar yang mereka dapatkan dan juga memengaruhi faktor- faktor lingkunganyang berperan membentuk perkembangan sosial dan pribadi mereka.
Pengaruh orang tua
Para orang tua dapat memengaruhi kepribadian anak- anak mereka yang secara signifikan melalui berbagai macam hal yang mereka lakukan dan yang tidak mereka lakukan. Ada tiga aspek hubungan arang tua- anak yang tampaknya saling berpengaruh : kelekatan, pola asuh, dan pemberian perlakuan yang tidak tepat terhadap anak.
1.      Kelekatan
Banyak orangtuadan anggota keluarga yang penting berinteraksi penuh kasih sayang dengan seorang bayi. Secara konsisten, mereka memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis bayi tersebut. Saat hal tersebut dilakukan, terbentuklah ikatan emosional yang kuat dan antara bayi dan pengasuhnya, yang disebut kelekatan.
Bayi yang sejak dini mengalamikelekatan dengan orang tua cenderung berkembang menjadi anak- anak yang ramah, mandiri dan percaya diri.
2.      Pola asuh
Para peneliti telah mengidentifikasi sejumlah ragam pola pengasuhan anak yang dilakukan orang tua. Pola asuh yang berbeda- beda berhubungan dengan prilaku dan kepribadian yang berbeda- beda pada anak. Ada empat pola asuh yang umum yaitu: otoriter, otoritatif, permisif, acuh tak acuh.
3.      Salah asuh
Dalam beberapa contoh yang patut disayangkan, prilaku- prilaku orang tua terhadap anak merupakan bentuk salah asuh. Dalam beberapa kasus orangtua mengabaikan anak, mereka gagal menyediakanmakanan yang bergizi, pakaian yang layak dan kebutuhan dasar lainnya.
Pengabaian yang dilakukan orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan pribadi seorang anak. Umumnya anak yang secara rutin diabaikan memilik rasa harga diri yang rendah, keteramplan sosial yang kurang berkembang, dan prestasi sosialyang kurang memuaskan
Ekspektasi budaya dan sosialisasi
Kelompok- kelompok budaya dapat memengaruhi kepribadian anak melalui pola asuh yang mereka dorong.tetapi juga memiliki pengaruh yang lebih langsung pada perkembangan pribadi anak melalui proses sosialisasi. Yaitu anggota- anggota sebuah kelompok budaya bekerja keras membantu anak- anak yang sedang tumbuh untuk mengadopsi berbagai prilaku dan keyakinan yang dipegang teguh kelompok itu. Orang tua dan anggota keluarga lain mengajari anak paling awal tentang standar dan ekspektasi prilaku dan budayanya.
B.     Perkembangan  perasaan
Perasaan diri adalah persepsi, keyakinan, penilaian, dan perasaan anda tentang siapa anda sebagai seorang pribadi. Anyak ahli yang membedakan antara dua aspek perasaan diri: konsep diri yaitu penilaian terhadap karakter, kekuatan dan kelemahan diri seseorang. Dan rasa harga diri yaitu peniaian dan perasaan tentang nilai dan harga diri seseorang.
Faktor- faktor yang memengaruhi perasaan diri
1.      Performa sebelumnya
Para siswa cenderung mempercayaibahwa mereka memiliki bakat matematika jika dalam keas sebelumnya mereka meraih prestasi bagus dibidang matematika. Cenderung meyakini bahwa mereka adalah individu yang menyenangkan jia mereka berhasil mempertahankan banyak teman.
2.      Prilaku orang lain
Prilaku orang lain mempengaruhi persepsi diri siswa setidaknya dengan dua cara. Pertama, cara siswa mengevaluasi dirinya sendiri bergantung pada seberapa jauh siswa tersebut membandingkan performanya degan performa individu- individu lainnya, terutama teman sebayanya.
Kedua, persepsi diri siswa dipengaruhi oleh orang lain terhadap diri mereka. Orang dewasa dan teman sebaya mengkomuniksikan penilaian mereka terhadap sesorang melalui beragam prilaku. Contohnya orang tua dan guru mendorong konsep diri yang semakin positif saat mereka menyampaika ekspektasi tinggi bagi performa anak dan memberikan dukungan dan semangat atas tercapainya sasaran yang menantang.
3.      Keanggotaan dan prestasi kelompok
Menjadianggota dalam satu atau lebih kelompok dapat juga meningkatkan perasaan diri siswa. Jika mengenang masa sekolah, anda mungkin pernah ikut merasa bangga terhadap prestasi yag diraih seluruh kelas, merasa senag jika proyek pelayanan komunitas diselesaikan bersama dalam satu klub ekstrakulikuler. Secara umum, para siswa cenderung memiliki kepercayaan diri tinggi bila mereka bergabung dalam kelompok- kelompok yang sukses.
Perubahan- perubahan terkait perasaan diri.
1.      Masa anak- anak
Anak- anak SD cenderung membayangkan diri mereka secara kongkret, dengan karasteristik- karasteristik fisik dan prilaku yang dapat diamati dengan mudah.
2.      Masa remaja awal
Memasuki masa remaja awal dan semakin menguasai kemampuan berpikir abstrak, para siswa semakin mampu mengidentivikasi dirinya dalam kerangka trait- trait yang umumdan relatif stabil
3.      Masa remaja akhir
Mayoritas remaja akhir teah melampaui masa- masa purbetas yang sarat kebingungan dan naik turunnya emosi dan juga telah melampaui pengalaman brsekolahyang tidak selalu menyenangkan, sehingga mampu menikmati konsep diri dan kesehatan mental yang positif.
C.     Perkembangan  hubungan dengan teman sebaya
1.      Peran teman sebaya dalam perkembangan anak
Hubungan dengan teman sebaya, terutama sahabat karib, memiliki sejumlah peran penting dalam perkembangan pribadi dalam perkembangan pribadi dan sosial remaja. Pertama- tama hubungan pertemanan menjadi suatu medan pembelajarandan pelatihan berbagai keterampilan sosial para remaja, termasuk negosiasi, persuasi, kerja sama, kompromi, kendali emosi, dan penyelesaian konflik.
2.      Fakta mengenai tekanan teman sebaya
Sebuah kekeliruan pendapat yang lazim bahwa teman sebaya niscaya memeberikan pengaruh buruk terhadap  seseorang. Faktanya tidak selalu demikian. Banyak teman sebaya yang mendorong kualitas yang baik seperti kejujuran, keadilan, kerjasama, dan kehidupanyang bersih dai alkohol. Teman yang lainnya mendorong ke hal yang berlawanan seperti agresi, aktivitas kriminal, dan prilaku antisosial lainnya.
3.      Karasteristik hubungan pertemanan
a.       Persahabatan
Para sahabat menentukan aktivitas- aktivitas yang dapat dinikmati dan dimaknai bersama, dan seiring waktu mereka rangkaian pengalaman serupa, yang memungkinkan terjadinya saling bertukar prsfektif tertentu mengeai kehidupan.
b.      Kelompok sosial yang lebih besar
Saat mulai bergabung dalam sebuah kelompok, remaja atau anak- anak lebih menyukai kedekatan dengan anggota kelompoktersebut dibandingkan dengan individu- individu yang bukan anggota kelompok.
c.       Hubungan romantik
Seiring dimulainya masa purbetas, perubahan- perubahan biologis sering disertai dengan munculnya perasaan dan hasrat seksual yang seringkali menimbulkan perasaan tidak nyaman. Tidak mengherankan jika hubungan asmara seringkali memenuhi pikiran para remaja dan kerapmenjadi topik pembicaraan di sekolah.

No comments:

Post a Comment