A.
Perkembangan kepribdian
Kepribadian anak
merupakan gabungan dari pengaruh hereditas, terutama dalam wujud tempramen yang
diwariskan, dan faktor lingkungan seperti perilaku orang tua dan eksspektasi
budaya.
Tempramen
Secara umum tempramen
adalah tendensi umum untuk merespon dan menangani peristiwa- peristiwa
lingkungan dengan cara tertentu. Tiap anak memiliki mengiddentifikasi berbagai
gaya tempramen yang muncul pada anak usia dini dan relatif bertahan lama,
meliputi tingkat aktivitas umum, adaptabilitas, kegigihan, peramah, pemalu,
pendiam, penakut pemarah dsb. Sebagian besar psikolog berpendapat bahwa
perbedaan tempramen tersebut berbasis biologis dan hereditas.
Tempramen anak yang
diwariskan memengaruhi kesempatan- kesempatan belajar yang mereka dapatkan dan
juga memengaruhi faktor- faktor lingkunganyang berperan membentuk perkembangan
sosial dan pribadi mereka.
Pengaruh
orang tua
Para orang tua dapat
memengaruhi kepribadian anak- anak mereka yang secara signifikan melalui
berbagai macam hal yang mereka lakukan dan yang tidak mereka lakukan. Ada tiga aspek
hubungan arang tua- anak yang tampaknya saling berpengaruh : kelekatan, pola
asuh, dan pemberian perlakuan yang tidak tepat terhadap anak.
1.
Kelekatan
Banyak orangtuadan anggota keluarga yang penting
berinteraksi penuh kasih sayang dengan seorang bayi. Secara konsisten, mereka
memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis bayi tersebut. Saat hal tersebut
dilakukan, terbentuklah ikatan emosional yang kuat dan antara bayi dan
pengasuhnya, yang disebut kelekatan.
Bayi yang sejak dini mengalamikelekatan dengan orang
tua cenderung berkembang menjadi anak- anak yang ramah, mandiri dan percaya
diri.
2.
Pola
asuh
Para peneliti telah mengidentifikasi sejumlah ragam
pola pengasuhan anak yang dilakukan orang tua. Pola asuh yang berbeda- beda
berhubungan dengan prilaku dan kepribadian yang berbeda- beda pada anak. Ada
empat pola asuh yang umum yaitu: otoriter, otoritatif, permisif, acuh tak acuh.
3.
Salah
asuh
Dalam beberapa contoh yang patut disayangkan,
prilaku- prilaku orang tua terhadap anak merupakan bentuk salah asuh. Dalam
beberapa kasus orangtua mengabaikan anak, mereka gagal menyediakanmakanan yang
bergizi, pakaian yang layak dan kebutuhan dasar lainnya.
Pengabaian yang dilakukan orang tua sangat
berpengaruh pada perkembangan pribadi seorang anak. Umumnya anak yang secara
rutin diabaikan memilik rasa harga diri yang rendah, keteramplan sosial yang
kurang berkembang, dan prestasi sosialyang kurang memuaskan
Ekspektasi budaya dan
sosialisasi
Kelompok- kelompok budaya dapat memengaruhi
kepribadian anak melalui pola asuh yang mereka dorong.tetapi juga memiliki
pengaruh yang lebih langsung pada perkembangan pribadi anak melalui proses
sosialisasi. Yaitu anggota- anggota sebuah kelompok budaya bekerja keras
membantu anak- anak yang sedang tumbuh untuk mengadopsi berbagai prilaku dan
keyakinan yang dipegang teguh kelompok itu. Orang tua dan anggota keluarga lain
mengajari anak paling awal tentang standar dan ekspektasi prilaku dan
budayanya.
B.
Perkembangan perasaan
Perasaan diri adalah
persepsi, keyakinan, penilaian, dan perasaan anda tentang siapa anda sebagai
seorang pribadi. Anyak ahli yang membedakan antara dua aspek perasaan diri:
konsep diri yaitu penilaian terhadap karakter, kekuatan dan kelemahan diri
seseorang. Dan rasa harga diri yaitu peniaian dan perasaan tentang nilai dan
harga diri seseorang.
Faktor-
faktor yang memengaruhi perasaan diri
1.
Performa
sebelumnya
Para siswa cenderung mempercayaibahwa mereka
memiliki bakat matematika jika dalam keas sebelumnya mereka meraih prestasi
bagus dibidang matematika. Cenderung meyakini bahwa mereka adalah individu yang
menyenangkan jia mereka berhasil mempertahankan banyak teman.
2.
Prilaku
orang lain
Prilaku orang lain mempengaruhi persepsi diri siswa
setidaknya dengan dua cara. Pertama, cara siswa mengevaluasi dirinya sendiri
bergantung pada seberapa jauh siswa tersebut membandingkan performanya degan
performa individu- individu lainnya, terutama teman sebayanya.
Kedua, persepsi diri siswa dipengaruhi oleh orang
lain terhadap diri mereka. Orang dewasa dan teman sebaya mengkomuniksikan
penilaian mereka terhadap sesorang melalui beragam prilaku. Contohnya orang tua
dan guru mendorong konsep diri yang semakin positif saat mereka menyampaika
ekspektasi tinggi bagi performa anak dan memberikan dukungan dan semangat atas
tercapainya sasaran yang menantang.
3.
Keanggotaan
dan prestasi kelompok
Menjadianggota dalam satu atau lebih kelompok dapat
juga meningkatkan perasaan diri siswa. Jika mengenang masa sekolah, anda
mungkin pernah ikut merasa bangga terhadap prestasi yag diraih seluruh kelas,
merasa senag jika proyek pelayanan komunitas diselesaikan bersama dalam satu
klub ekstrakulikuler. Secara umum, para siswa cenderung memiliki kepercayaan
diri tinggi bila mereka bergabung dalam kelompok- kelompok yang sukses.
Perubahan- perubahan
terkait perasaan diri.
1.
Masa
anak- anak
Anak- anak SD cenderung membayangkan diri mereka
secara kongkret, dengan karasteristik- karasteristik fisik dan prilaku yang
dapat diamati dengan mudah.
2.
Masa
remaja awal
Memasuki masa remaja awal dan semakin menguasai
kemampuan berpikir abstrak, para siswa semakin mampu mengidentivikasi dirinya
dalam kerangka trait- trait yang umumdan relatif stabil
3.
Masa
remaja akhir
Mayoritas remaja akhir teah melampaui masa- masa
purbetas yang sarat kebingungan dan naik turunnya emosi dan juga telah
melampaui pengalaman brsekolahyang tidak selalu menyenangkan, sehingga mampu
menikmati konsep diri dan kesehatan mental yang positif.
C.
Perkembangan hubungan dengan teman sebaya
1.
Peran
teman sebaya dalam perkembangan anak
Hubungan dengan teman sebaya, terutama sahabat
karib, memiliki sejumlah peran penting dalam perkembangan pribadi dalam
perkembangan pribadi dan sosial remaja. Pertama- tama hubungan pertemanan
menjadi suatu medan pembelajarandan pelatihan berbagai keterampilan sosial para
remaja, termasuk negosiasi, persuasi, kerja sama, kompromi, kendali emosi, dan
penyelesaian konflik.
2.
Fakta
mengenai tekanan teman sebaya
Sebuah kekeliruan pendapat yang lazim bahwa teman
sebaya niscaya memeberikan pengaruh buruk terhadap seseorang. Faktanya tidak selalu demikian.
Banyak teman sebaya yang mendorong kualitas yang baik seperti kejujuran,
keadilan, kerjasama, dan kehidupanyang bersih dai alkohol. Teman yang lainnya
mendorong ke hal yang berlawanan seperti agresi, aktivitas kriminal, dan
prilaku antisosial lainnya.
3.
Karasteristik
hubungan pertemanan
a.
Persahabatan
Para sahabat menentukan aktivitas- aktivitas yang
dapat dinikmati dan dimaknai bersama, dan seiring waktu mereka rangkaian
pengalaman serupa, yang memungkinkan terjadinya saling bertukar prsfektif
tertentu mengeai kehidupan.
b.
Kelompok
sosial yang lebih besar
Saat mulai bergabung dalam sebuah kelompok, remaja
atau anak- anak lebih menyukai kedekatan dengan anggota kelompoktersebut
dibandingkan dengan individu- individu yang bukan anggota kelompok.
c.
Hubungan
romantik
Seiring
dimulainya masa purbetas, perubahan- perubahan biologis sering disertai dengan
munculnya perasaan dan hasrat seksual yang seringkali menimbulkan perasaan
tidak nyaman. Tidak mengherankan jika hubungan asmara seringkali memenuhi
pikiran para remaja dan kerapmenjadi topik pembicaraan di sekolah.
No comments:
Post a Comment