A. Perkembangan Moral Dan Prososial
Keyakian siswa mengenai prilaku bermoral dan tidak
bermoral yaitu keyakinan mengenai yang mana yang benar dan maa yang salah
memengaruhi priaku mereka di sekolah. Sebagai contoh siswa yang menghormati
keselamatan dan hak milik orang lain, mereka cenderung tidak terlihat dalam
aksi agresi, vandalisme, dan pencurian.
Sebagai guru kita memainkan peranan penting dalam
pengembangan moral dan proposional para
siswa. Guru mendorong sikap mempertimbangkan perspektif orang lain dan
mengarahkan para siswanya untuk bertindak secara prososial terhadap si
pendatang baru.
1.
Tren
perkembangan sosial dan prilaku prososial
a.
Sejak
usia dini, anak mulai menggunakan standard-standard internal untuk mengevaluasi
prilaku.
b.
Anak-
anak semakin mampu membedakan antara pelanggaran moral dan pelanggaran konvensional.
c.
Seiring
berlalunya tahun- tahun sekolah, anak- anak semakin mampu memberikan respon
emosional terhadap kesusahan dan penderitaan orang lain.
d.
Seiring
bertambahnya usia, penalaran mengenai isu- isu moral menjadi semakin berbentuk
absrak dan fleksibel.
e.
Seiring
bertambahnya usia, anak- anak berprilaku semakin selaras dengan standar-
standar moral pilhan mereka sendiri.
2.
Faktor
yang memengaruhi perkembangan moral
a.
Perkembangan
kogntif umum
Penalaran
yang dalam mengenai hukum moral dan nilai- nilai luhurseperti kesetaraan,
keadilan, hak asasi manusia memerlukan refleksi yang mendalam mengenai hal- hal
abstrak. Dengan demikian dalam batas- batas tertentu perkembangan moral
bergantung pada perkembangan kognitif.
b.
Penggunaan
ratio dan rationale
Anak-
anak akan cenderung memperoleh mamfaat dalam perkembangan moral ketika mereka
memikirkan kerugian fisik dan emosional yang ditimbulkan prilaku- prilaku
tertentu terhadap orang lain.
c.
Isu
dan dilema moral
Anak-
anak berkembang secara moral ketika mereka menghadapi suatu dilema moral yang
tidak ditangani secara memadai dengan meenggunakan tingkat penalaran moralnya
saat itu.
d.
Perasaan
diri
Anak-
anak cenderung terlibat dalam prilaku moral ketika mereka berpikir bahwa
mwereka sesunguhnya mampu menolong orang lain. Dengan kata lain ketika mereka
memiliki efikasi diri yang tinggi mengenai kemampuan mereka membuat suatu
perbedaan.
3.
Mendorong
prilaku dan perkembangan moral di dalam kelas.
Beberapa individu yang beritikad
baik menyatakan bahwa masyarakat sedang mengalami kemerosotan moral yang
drastis dan mendesak orang tua dan para pedidik utuk menanamkan nilai- nilai
moral yang baik melalui pembelajaran di sekolah dan di rumah, serta melalaui
kontrol yang tegas terhadap prilaku anak- anak. Berikut adalah beberapa saran
umum berdasarkan hasil- hasil penelitian:
a.
Jelaskan
mengapa beberapa perilaku tidak dapat diterima. Mesipun pemberian hukuman
terhadap prilaku tidak bermoral dan anti sosial itu penting, namun hukuman
seringkali malah membuat anak berfokus pada rasa sakit dan kesusahan yang
dialami oleh anak tersebut. Kita bisa menjelaskan kepada siswa bagaimana
prilaku tertentu melukai orang lain baik secara fisik maupun secara psikologis.
b.
Doronglah
sikap selal mempertimbamgkan persfektif orang lain, empati , dan prilaku
prososial. Dalam kegiatan belajar mengajar dimanapun, banyak menawarkan kesempatan
untuk mengembangkan pertimbangan persfektif orang lain, empati dan perilaku
prososial. Contoh : dalam diskusi mengenai peristiwa terkini( perang, bencana,
dll) kita dapat memperlihatkan lepada siswa bahwa kebutuhan- kebutuhan orang
lain jauh lebih besar daaripada kebutuhan mereka sendiri.
c.
Perlihatkan
kepada siswa berbagi contoh kehidupan bermoral. Anak- anak cenderung berprilaku
moral apabila melihat orang lain beprilaku moral.
d.
Libatkan
siswa dalam diskusi mengenai isu moral yang berhubungan dengan materi pokok
akademis.
e.
Ajaklah
siswa untuk aktif dalam pelaanan masyarakat. Siswa cenderung setia dan taat
terhadap prinsip- prinsip moral yang kuat ketika mereka memiliki efikasi diri
yang kuat untuk menolong orang lain dan ketika mereka telah mengintegrasikan
suatu komitmen terhadap ideal- ideal moral kedalam perasaan identitasnya secara
keseluruhan.
B.
Keberagaman
dalam perkembangan pribadi dan sosial
1.
Perbedaan
budaya dan etnik
Salah
satu karasteristik yang biasa muncul dari perbedaan kelompok budaya adalah
perasaan diri. Sejumlah budaya mendorong anak untuk bangga atas pencapaian
keluarga atau akelompok sosial mereka, alih- alih atas pencapaian pribadinya.
Keterampilan interpersonal antara suatu
budaya dan budaya lainnya bervariasi.
2.
Perbedaan
jender
Anak
laki- laki memiliki persepsi diri yang lebih positif dibandingkan anak
perempuan, terutama pada masa remaja. Remaja laki- laki juga memiliki
persfektif yang lebih poditif mengenai daya tarik fisik dibanding remaja
perempuan.
Perbedaan
jender juga diamati dalam prilaku nterpersonal. Anak laki- laki cenderung
bergaul da,am kelompok besar sedngkan anak perempuan cenderung menyukai
kelompok kecil yang lebih intim.
3.
Perbedaan
sosioekonomi
anak-
anak remaja tumbuh dengan berbagai macam latarbelakang tumbuh dengan menghadapi
tantangan- tantangan. Mungkin mereka harus menghadapi penyakit yang parah,
tinggal bersama orang tua tunggal atau menghadapi konflik orang tua tunggal.
Secara khusus, anak yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah seringkali
mengalami tantagan berat tersebut ketimbang temannya yang lebih sejahtera. Anak
yang berasal dari keluarg yang berpenghasilan rendah juga biasanya memiliki
konsep diri yang positif, hubungan interpersonal yang baik, dan stsndar moral
yang kuat.
4.
Mengakomodasi
siswa- siswa berkebutun khusus
Beberapa
siswa memliki kebuatuhan pendidikan khusus sesui dengan perkembangan pribadi
dan sosial mereka. Banyak siswa dengan ketidakmampuan kognitif,sosial ataupun
fisik memiliki self esteem yang lebih rendah dibandingkan teman- teman sekelas
mereka. Siswa dengan keterbatasan mental umumnya memiliki pemahaman yang sangat
terbatas mengenai cara berprilaku yang tepat dalam situasi sosial.
No comments:
Post a Comment