Pages

Tuesday, November 21, 2017

Perbedaan- perbedaan kelompok



A.    Menempatkan perbedaan kelompok pada persfektif yang sebenarnya
Saat para siswa dan keluarga mereka bertindak seesuai keyakinan, nilai- nilai, dan kesepakatan sosial yang sangat berbeda dengan kita, sangat mudah untuk menganggap mereka aneh, tidak mempunyai motivasi dan lalai. Kesipulan semacam itu tidak benar. Sebagai guru kita dapat sebaik- baiknya membantu siswa belajar, berkembang, dan tumbuh bila kita memahami asumsi- asumsi dan konvensi dasar yang melandasi prilaku mereka.
Pada saat kita mempertimbangkan perbedaan kelompok kita harus memperhatilan dua poin. Pertama, keragaman individu yang sangat besar ada dalam setiap kelompok. Kedua, sejumlah besar kesamaan secara umum ada dalam dua kelompok.
Jika ingin memaksimalkan dan perkembangan siswa, kita harus menyadari perbedaan kelompok yang dapat memengaruhi pembelajaran dan prestasi mereka di kelas. Tantangan kita adalah mencamkan perbedaan tersebut di benak kita tampa berasumsi bahwa seluruh anggota kelompok tersebutsesuai dengan pola umum kelompok tersebut.
B.     Perbedaan budaya dan etnis
Konsep kebudayaan mencakup prilaku dan sistem keyakina yang menjadi ciri kelompok sosial yang telah lama ada. Latar belakang budaya memengaruhi persfektif dan nilai- nilni yang kita anut, keterampilan yang kita kuasai dan kita anggap penting, dan peran orang dewasa yang kita inginkan.
Budaya bukanlah entitas statis. Budaya terus berubah sepanjang waktu sejalan dengan terserapnya ide- ide, inovasi, dan cara- cara berpikir yang baru, terutama ketika bersinggungan dengan budaya lain.
1.      Menyesuaikan perbedaan budaya di rumah dan sekolah
Siswa yang dibesarkan dengan dalam budaya lingkungan tersebut serigkali cepat berdaptasi dengan lingkungan kelas. Namun siswa yang berasal dari norma- norma sosial yang sangat berbeda, contohnya imigran baru, dapat mengallami ketidakcocokan budaya antara rumah dan sekolah. Merekadapat meresa bahwa sekolah adalah tempat yang membingungkan karena mereka tidak tahu bagaimana orang lain berprilaku dan bagaiman prilaku yang orang lain harapkan dari mereka. Ketidakcocokan budaya akan semakin besar bila guru salah memahami prilaku siswa dari kelompok etnis minoritas. Bila kita memahami tradisi budaya siswa, kita dapat salah dalam memahami sebagian prilaku mereka. Hal tersebut mengkibatkan hubungan kita dengan mereka menjadi buruk.
Sebagai guru, kita harus melakukan tugas dengan mempelajari sebanyak mungkin mengenai kecendrungan perbedaan antara siswa yang memiliki latar belakang budaya dan etnis dengan siswa yang lain dan juga diri kita sendiri. Dengan dibekalinya pengetahuan macam itu, kita dapat memberikan bantuan yang masuk akal untuk membantu para siswa dari semua aliran kehidupan dalam menyusuaikan diri dan berkembang.
2.      Contoh keberagaman budaya dan etnis
a.       Bahasa dan dialek, salah satu perbedaan budaya yang terlihat adalah bahasa. Di AS, lebih dari 600 juta pelajar berbahasa selain bahasa inggris dirumah dan beberapa sistem sekolah di kota besar menggunakan lebih dari seratus bahasa. Bila dialek setempat merupakan bahasa yang lebih disukai olehmasyarakat setempat. Dialek tersebut kerap menjadi alat yamg paling efektif untuk digunakan untuk interaksi sehari- hari. Terlebih lagi, banyak anak remaja menganggap dialek asli sebagai bagian yang tak terpisahkan dari identitas etnis mereka.
b.      Berbicara versus tetap diam, bisa dikatakan , budaya barat arus utamanya adalah budaya yang banyak bicara. Orang seringkali bercakap- cakap tentang berbagai hal. Namun di budaya lain diam adalah emas. Orang- orang brasil dan peru kerap menyambut tamu mereka dengan diam, orang arab berhenti berbicara untuk menunjukan privasi mereka.
c.       Kontak mata, bagi banyak diantara kita, menatap mata seseorang adalah cara untuk menunjukan bahwa kita mencoba berkomunikasi atau sedang mendengarkan dengan sungguh- sungguh apa yang dikatakan orang tersebut. Namun banyak penduduk amerika, afrika-amerika, anak yang menatap mata orang tua saat berbicara adalah suatu sikap yang menunjukan rasa tidak hormat.
d.      Ruang pribadi, di sebahagian budaya, misalnya komunitas Afrika-Amerika saat bercakap- cakap orang- orang berdiri sangt dekat bahkan saling bersentuhan. Sebaliknya orang jepang cenderung bersikap saling menjaga jarak pantas, mereka mempertahankan ruang pribadi terutama bila tidak saling mengenal denga baik.
e.       Pertanyaan, pola interaksi umum dalam kelas barat adalah siklus IRE aitu eorang guru memulai interaksi dengan mengajukan pertanyaan, siswa menjawab pertanyaan tersebut dan guru menilai jawaban tersebut.
f.       Menunggu versus menginterupsi, guru kerap mengjukan pertanyaan kepada siswa, kemudian menunggu jawaban. Umumnya guru memberikan waktu tunggu selama satu detik lalu guru menjawab sendiri pertanyaannya atau melemparkannya kepada siswa lain. Akan tetapi sebagian budaya menggunakan jeda waktu yang lama sebelum menjawab untuk menunjukan rasa hormat.
3.      Membentuk lingkungan kelas yang multikultural
Membentuk kelas yang multikultural memberikan beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk meningkatka pemahaman kita dan siswa siswa tentang beragam kelompok budaya. Berikut ini adalah strategi yang lebih umum:
a.       Pahami lensa budaya anda sendiri. Keyakinan kita akan menjadi lensa budaya yang kita gunakan memandang suatu peristiwa dan mengarahkan kita untuk meyimpulkannya.
b.      Masukkan nilai, keyakinan dan tradisi banyak budaya dalam kurikulum pendidikan multikultural.
c.       Bekerjalah dengan keras untuk menghapus stereotip etnis siswa.
d.      Ingatlah bahwa sebagian siswa bisa memiliki beberapa hubungan budaya.
e.       Tingkatkan intraksi produkktif di antara para siswa dari beragam kelompok ras dan etnis.
f.       Masukkan keragaman kultural ke dalam budaya kelas yang homogen secara budaya.
g.      Tumbuhkan ide- ide demokratis.
C.     Perbedaan jender
1.      Hasil penelitian tentang perbedaan jender
a.       Aktivitas fisik dan keterampilan motorik, anak laki- laki secara tempramental cenderung lebih aktif daripada anak perempuan. Oleh karena itu mereka lebih sulit duduk tenang dalam waktu yang lama, kurang suka membaca, dan lebih cenderung membuat ulah di kelas.
b.      Kemampuan kogniif dan akademis, laki- laki memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengerjakan tugas visual-spasial daripada perempuan. Sebaliknya perempuan tampaknya lebih mampu dalam beberapa kemampuan verbal, namun tidak semua.
c.       Motivasi dalam kegiatan akademis, secara rata- rata perempuan lebih peduli terhadap prestasi tinggi di sekolah. Mereka lebih aktif di kelas dan leih rajin mengerjakan tugas- tugas.
d.      Perasaan diri, anak laki- laki memiliki perasaan diri yang lebih positif daripada anak perempuan.
D.    Perbedaan sosioekonomi
Konsep sosioekonomi mencakup sejumlah variabel termasuk variabel seperti penghasilan keluarga, pendidikan orang lain, dan pekerjaan orang tua. Prestasi sekolah siswa dihubungkan dengan status sosioekonomis mereka: siswa SES tinggi cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih tinggi, sedangkan siswa SES rendah cenderung meiliki prestasi yang rendah/ putus sekolah.
1.      Faktor- faktor resiko yang terkait dengan kemiskinan
a.       Gizi dan kesehatan yang buruk, keluarga yang berpenghasilan rendah dan memiliki sumber keuangan terbatas untuk meperoleh gizi dan perawatan yang memadai untuk anak- anaknya.
b.      Rumah yang tidak layak dan sering berpindah- pindah, banyak anak miskin tinggal di rumah yang sempit, yang mungkin hanya memiliki satu atau dua ruangan untuk suatu keluarga.
c.       Rentan terhadap racun, khususnya apabila anak- anak di lingkungan miskin dan kumuh, rumah dan lingkungan di sekitar mereka dapat membuat mereka rentan terkena racun dan limbah lingkungan.
d.      Lingkungan sosial yang tidak sehat, pada umumnya, lingkungan dan komunitas SES rendah lebih banyak memiliki geng jalanan dan kejahatan yang terorganisir, hfrekuensi kekerasan yang lebih sering dan penyalahgunaaan obat terlarang.
e.       Stres emosional, siswa dari SES rendah menunjukan tingkat depresi dan masalah emosional lain yang lebih tinggi dari rata- rata.
2.      Menumbuhkan ketangguhan
Banyak siswa dari keluarga yang berpenghasilan rendah berhasil di sekolah terlapas dari kesulitan ekonomi yang luar biasa. Beberapa diantaranya adalah siswa yang tangguh yang memiliki keterampilan mengtasi masalah yang membantu mereka bangkit melewati kondii tidak beruntung yang mereka alami. Para peneliti telah mempelajari faktor- faktor yang dapat menumbuhkan ketangguhan para siswa yang berasal dari laar belakang yang kurang beruntung, diantaranya sebagai berikut:
a.       Jadilah sumber dukungan dan emosional yang dapat diandalkan.
b.      Kembangkan kelebihan siswa.
c.       Identifikasi dan berikan sumber daya dan pengalaman yang belum dimiliki yang penting bagi keberhasilan pembelajaran.
3.      Bekerja dengan anak- anak tunawisma
Anak- anak dari keluarga tunawisma umumunya menghadapi tantangan jauh lebih besar dibanding siswa lain dair keluarga SES rendah. Banyak yang mengalami masalah kesehatan, memiliki kepercayaan diri yang rendah, rentang perhatian pendek dan keterampilan bahasa yang rendah. Sebagian anak mungkin enggan masuk sekolah karena tidak memiliki perlengkapan mandi dan pakaian yang pantas.
E.     Siswa- siswa beresiko
Siwa beresiko adalah siswa yang memiliki probabilitas tinggi untuk gagal menguasai keterampilan akademis yang penting untuk keberhasilan mereka di masa dewasa.
1.      Karasteristik siswa bermasalah
a.       Riwayat kegagalan akademis, secara umum , mereka yang memiliki keterampilan membaca dan belajar yang kurang efektif, nilai yang rendah memiliki kemungkinan yang besar untuk tinggal kelas.
b.      Usia yang lebih tinggi dibanding teman sekelas. Karena siswa berprestasi rendah memiliki kemungkinan lebih besar untuk tinggal kelas, mereka umumnya lebih tua dibanding teman sekelas.
c.       Masalah emosional dan prilaku, siswa yang berpotensi putus sekolah cenderung memiliki harga diri yang rendah dibanding teman sekelasnya.
d.      Kerap berintraksi dengan teman sebaya yang berprestasi rendah.
e.       Kurang kelekatan psikologis dengan sekolah.
f.       Meningkatnya keengganan untuk terlibat dengan sekolah.
2.      Memberi dukungan kepada siswa- siswa beresiko
a.       Identifikasi siswa beresiko sedini mungkin.
b.      Ciptakan suasana sekolah dan kelas yang ramah dan penuh dukungan.
c.       Buatlah kurikulum relevan dengan kehidupan dan kebutuhan siswa.
d.      Komunikasikan ekspektasi tinggi bagi keberhasilan akademis.
e.       Berikan dukungan akademik ekstra.
f.       Tunjukan pada siswa bahwa keberhasilan tergantung diri mereka sendiri.
g.      Dorong dan fasilitasi pengenalan di sekolah.
F.      Keragaman dalam kelompok
Banyak variabilitas ada dalam setiap kelompok dan banyak overlap ada diantara dua kelompok. Kita tidak boleh memberikan ekspektasi bagi siswa secara individu berdasarkan rata- rata kelompok saja. Ketika kita menyusuaikan kurikulum dan strategi pengajaran bai setiap siswa, apa yang kita ketahui tentang mereka sebagai individu haruslah menjadi panduan utama kita. Pada saat yang sama, apa yang kita ketahui tentang keanggitaan kelompok mereka( budaya, etnis, jender, sosioekonomi,) mereka dapat sangat membantu kita dalam memahami prilaku mereka dan bagaimana kita dapat lebih baik mendukung perkembanga kognitif dan sosial mereka.
Perbedaan kelompok dan kebutuhan khusus
Perbedaan kelompok memiliki impikasi bagi siswa berkebutuhan pendidkan khusus. Sebagai contoh siswa dari latar belakang sosioekonomi rendah lebih mungkin diidentifikasi memiliki kesulitan kognitif atau prilaku yang membutuhkan pelayanan pendidikan khusus.
Semua siswa memiliki kelebihan dan bakat yang dapat mereka kembangkan, dan memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan baru.

No comments:

Post a Comment