A.
Menempatkan
perbedaan kelompok pada persfektif yang sebenarnya
Saat para siswa dan keluarga mereka
bertindak seesuai keyakinan, nilai- nilai, dan kesepakatan sosial yang sangat
berbeda dengan kita, sangat mudah untuk menganggap mereka aneh, tidak mempunyai
motivasi dan lalai. Kesipulan semacam itu tidak benar. Sebagai guru kita dapat
sebaik- baiknya membantu siswa belajar, berkembang, dan tumbuh bila kita
memahami asumsi- asumsi dan konvensi dasar yang melandasi prilaku mereka.
Pada saat kita mempertimbangkan
perbedaan kelompok kita harus memperhatilan dua poin. Pertama, keragaman
individu yang sangat besar ada dalam setiap kelompok. Kedua, sejumlah besar
kesamaan secara umum ada dalam dua kelompok.
Jika ingin memaksimalkan dan
perkembangan siswa, kita harus menyadari perbedaan kelompok yang dapat
memengaruhi pembelajaran dan prestasi mereka di kelas. Tantangan kita adalah
mencamkan perbedaan tersebut di benak kita tampa berasumsi bahwa seluruh
anggota kelompok tersebutsesuai dengan pola umum kelompok tersebut.
B.
Perbedaan
budaya dan etnis
Konsep kebudayaan mencakup prilaku dan
sistem keyakina yang menjadi ciri kelompok sosial yang telah lama ada. Latar
belakang budaya memengaruhi persfektif dan nilai- nilni yang kita anut,
keterampilan yang kita kuasai dan kita anggap penting, dan peran orang dewasa
yang kita inginkan.
Budaya bukanlah entitas statis. Budaya
terus berubah sepanjang waktu sejalan dengan terserapnya ide- ide, inovasi, dan
cara- cara berpikir yang baru, terutama ketika bersinggungan dengan budaya
lain.
1.
Menyesuaikan
perbedaan budaya di rumah dan sekolah
Siswa
yang dibesarkan dengan dalam budaya lingkungan tersebut serigkali cepat
berdaptasi dengan lingkungan kelas. Namun siswa yang berasal dari norma- norma
sosial yang sangat berbeda, contohnya imigran baru, dapat mengallami
ketidakcocokan budaya antara rumah dan sekolah. Merekadapat meresa bahwa
sekolah adalah tempat yang membingungkan karena mereka tidak tahu bagaimana
orang lain berprilaku dan bagaiman prilaku yang orang lain harapkan dari
mereka. Ketidakcocokan budaya akan semakin besar bila guru salah memahami
prilaku siswa dari kelompok etnis minoritas. Bila kita memahami tradisi budaya
siswa, kita dapat salah dalam memahami sebagian prilaku mereka. Hal tersebut
mengkibatkan hubungan kita dengan mereka menjadi buruk.
Sebagai
guru, kita harus melakukan tugas dengan mempelajari sebanyak mungkin mengenai
kecendrungan perbedaan antara siswa yang memiliki latar belakang budaya dan etnis
dengan siswa yang lain dan juga diri kita sendiri. Dengan dibekalinya
pengetahuan macam itu, kita dapat memberikan bantuan yang masuk akal untuk
membantu para siswa dari semua aliran kehidupan dalam menyusuaikan diri dan
berkembang.
2.
Contoh
keberagaman budaya dan etnis
a. Bahasa dan dialek, salah satu perbedaan
budaya yang terlihat adalah bahasa. Di AS, lebih dari 600 juta pelajar
berbahasa selain bahasa inggris dirumah dan beberapa sistem sekolah di kota
besar menggunakan lebih dari seratus bahasa. Bila dialek setempat merupakan
bahasa yang lebih disukai olehmasyarakat setempat. Dialek tersebut kerap
menjadi alat yamg paling efektif untuk digunakan untuk interaksi sehari- hari.
Terlebih lagi, banyak anak remaja menganggap dialek asli sebagai bagian yang tak
terpisahkan dari identitas etnis mereka.
b. Berbicara versus tetap diam, bisa
dikatakan , budaya barat arus utamanya adalah budaya yang banyak bicara. Orang
seringkali bercakap- cakap tentang berbagai hal. Namun di budaya lain diam
adalah emas. Orang- orang brasil dan peru kerap menyambut tamu mereka dengan
diam, orang arab berhenti berbicara untuk menunjukan privasi mereka.
c. Kontak mata, bagi banyak diantara kita,
menatap mata seseorang adalah cara untuk menunjukan bahwa kita mencoba
berkomunikasi atau sedang mendengarkan dengan sungguh- sungguh apa yang
dikatakan orang tersebut. Namun banyak penduduk amerika, afrika-amerika, anak
yang menatap mata orang tua saat berbicara adalah suatu sikap yang menunjukan
rasa tidak hormat.
d. Ruang pribadi, di sebahagian budaya,
misalnya komunitas Afrika-Amerika saat bercakap- cakap orang- orang berdiri
sangt dekat bahkan saling bersentuhan. Sebaliknya orang jepang cenderung
bersikap saling menjaga jarak pantas, mereka mempertahankan ruang pribadi
terutama bila tidak saling mengenal denga baik.
e. Pertanyaan, pola interaksi umum dalam
kelas barat adalah siklus IRE aitu eorang guru memulai interaksi dengan
mengajukan pertanyaan, siswa menjawab pertanyaan tersebut dan guru menilai
jawaban tersebut.
f. Menunggu versus menginterupsi, guru
kerap mengjukan pertanyaan kepada siswa, kemudian menunggu jawaban. Umumnya
guru memberikan waktu tunggu selama satu detik lalu guru menjawab sendiri
pertanyaannya atau melemparkannya kepada siswa lain. Akan tetapi sebagian
budaya menggunakan jeda waktu yang lama sebelum menjawab untuk menunjukan rasa
hormat.
3.
Membentuk
lingkungan kelas yang multikultural
Membentuk
kelas yang multikultural memberikan beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk
meningkatka pemahaman kita dan siswa siswa tentang beragam kelompok budaya.
Berikut ini adalah strategi yang lebih umum:
a.
Pahami
lensa budaya anda sendiri. Keyakinan kita akan menjadi lensa budaya yang kita
gunakan memandang suatu peristiwa dan mengarahkan kita untuk meyimpulkannya.
b.
Masukkan
nilai, keyakinan dan tradisi banyak budaya dalam kurikulum pendidikan
multikultural.
c.
Bekerjalah
dengan keras untuk menghapus stereotip etnis siswa.
d.
Ingatlah
bahwa sebagian siswa bisa memiliki beberapa hubungan budaya.
e.
Tingkatkan
intraksi produkktif di antara para siswa dari beragam kelompok ras dan etnis.
f.
Masukkan
keragaman kultural ke dalam budaya kelas yang homogen secara budaya.
g.
Tumbuhkan
ide- ide demokratis.
C.
Perbedaan
jender
1.
Hasil
penelitian tentang perbedaan jender
a.
Aktivitas
fisik dan keterampilan motorik, anak laki- laki secara tempramental cenderung
lebih aktif daripada anak perempuan. Oleh karena itu mereka lebih sulit duduk
tenang dalam waktu yang lama, kurang suka membaca, dan lebih cenderung membuat
ulah di kelas.
b.
Kemampuan
kogniif dan akademis, laki- laki memiliki kemampuan yang lebih baik dalam
mengerjakan tugas visual-spasial daripada perempuan. Sebaliknya perempuan
tampaknya lebih mampu dalam beberapa kemampuan verbal, namun tidak semua.
c.
Motivasi
dalam kegiatan akademis, secara rata- rata perempuan lebih peduli terhadap
prestasi tinggi di sekolah. Mereka lebih aktif di kelas dan leih rajin
mengerjakan tugas- tugas.
d.
Perasaan
diri, anak laki- laki memiliki perasaan diri yang lebih positif daripada anak
perempuan.
D.
Perbedaan
sosioekonomi
Konsep sosioekonomi mencakup sejumlah
variabel termasuk variabel seperti penghasilan keluarga, pendidikan orang lain,
dan pekerjaan orang tua. Prestasi sekolah siswa dihubungkan dengan status
sosioekonomis mereka: siswa SES tinggi cenderung memiliki prestasi akademik
yang lebih tinggi, sedangkan siswa SES rendah cenderung meiliki prestasi yang
rendah/ putus sekolah.
1. Faktor- faktor resiko yang terkait
dengan kemiskinan
a. Gizi dan kesehatan yang buruk, keluarga
yang berpenghasilan rendah dan memiliki sumber keuangan terbatas untuk
meperoleh gizi dan perawatan yang memadai untuk anak- anaknya.
b. Rumah yang tidak layak dan sering
berpindah- pindah, banyak anak miskin tinggal di rumah yang sempit, yang
mungkin hanya memiliki satu atau dua ruangan untuk suatu keluarga.
c. Rentan terhadap racun, khususnya apabila
anak- anak di lingkungan miskin dan kumuh, rumah dan lingkungan di sekitar
mereka dapat membuat mereka rentan terkena racun dan limbah lingkungan.
d. Lingkungan sosial yang tidak sehat, pada
umumnya, lingkungan dan komunitas SES rendah lebih banyak memiliki geng jalanan
dan kejahatan yang terorganisir, hfrekuensi kekerasan yang lebih sering dan
penyalahgunaaan obat terlarang.
e. Stres emosional, siswa dari SES rendah
menunjukan tingkat depresi dan masalah emosional lain yang lebih tinggi dari
rata- rata.
2. Menumbuhkan ketangguhan
Banyak siswa
dari keluarga yang berpenghasilan rendah berhasil di sekolah terlapas dari
kesulitan ekonomi yang luar biasa. Beberapa diantaranya adalah siswa yang
tangguh yang memiliki keterampilan mengtasi masalah yang membantu mereka
bangkit melewati kondii tidak beruntung yang mereka alami. Para peneliti telah
mempelajari faktor- faktor yang dapat menumbuhkan ketangguhan para siswa yang
berasal dari laar belakang yang kurang beruntung, diantaranya sebagai berikut:
a. Jadilah sumber dukungan dan emosional
yang dapat diandalkan.
b. Kembangkan kelebihan siswa.
c. Identifikasi dan berikan sumber daya dan
pengalaman yang belum dimiliki yang penting bagi keberhasilan pembelajaran.
3. Bekerja dengan anak- anak tunawisma
Anak-
anak dari keluarga tunawisma umumunya menghadapi tantangan jauh lebih besar
dibanding siswa lain dair keluarga SES rendah. Banyak yang mengalami masalah
kesehatan, memiliki kepercayaan diri yang rendah, rentang perhatian pendek dan
keterampilan bahasa yang rendah. Sebagian anak mungkin enggan masuk sekolah
karena tidak memiliki perlengkapan mandi dan pakaian yang pantas.
E.
Siswa-
siswa beresiko
Siwa beresiko adalah siswa yang memiliki
probabilitas tinggi untuk gagal menguasai keterampilan akademis yang penting
untuk keberhasilan mereka di masa dewasa.
1. Karasteristik siswa bermasalah
a.
Riwayat
kegagalan akademis, secara umum , mereka yang memiliki keterampilan membaca dan
belajar yang kurang efektif, nilai yang rendah memiliki kemungkinan yang besar
untuk tinggal kelas.
b.
Usia
yang lebih tinggi dibanding teman sekelas. Karena siswa berprestasi rendah
memiliki kemungkinan lebih besar untuk tinggal kelas, mereka umumnya lebih tua
dibanding teman sekelas.
c.
Masalah
emosional dan prilaku, siswa yang berpotensi putus sekolah cenderung memiliki harga
diri yang rendah dibanding teman sekelasnya.
d.
Kerap
berintraksi dengan teman sebaya yang berprestasi rendah.
e.
Kurang
kelekatan psikologis dengan sekolah.
f.
Meningkatnya
keengganan untuk terlibat dengan sekolah.
2. Memberi dukungan kepada siswa- siswa
beresiko
a.
Identifikasi
siswa beresiko sedini mungkin.
b.
Ciptakan
suasana sekolah dan kelas yang ramah dan penuh dukungan.
c.
Buatlah
kurikulum relevan dengan kehidupan dan kebutuhan siswa.
d.
Komunikasikan
ekspektasi tinggi bagi keberhasilan akademis.
e.
Berikan
dukungan akademik ekstra.
f.
Tunjukan
pada siswa bahwa keberhasilan tergantung diri mereka sendiri.
g.
Dorong
dan fasilitasi pengenalan di sekolah.
F.
Keragaman
dalam kelompok
Banyak variabilitas ada dalam setiap
kelompok dan banyak overlap ada diantara dua kelompok. Kita tidak boleh
memberikan ekspektasi bagi siswa secara individu berdasarkan rata- rata
kelompok saja. Ketika kita menyusuaikan kurikulum dan strategi pengajaran bai
setiap siswa, apa yang kita ketahui tentang mereka sebagai individu haruslah
menjadi panduan utama kita. Pada saat yang sama, apa yang kita ketahui tentang
keanggitaan kelompok mereka( budaya, etnis, jender, sosioekonomi,) mereka dapat
sangat membantu kita dalam memahami prilaku mereka dan bagaimana kita dapat
lebih baik mendukung perkembanga kognitif dan sosial mereka.
Perbedaan kelompok dan kebutuhan khusus
Perbedaan kelompok memiliki impikasi
bagi siswa berkebutuhan pendidkan khusus. Sebagai contoh siswa dari latar
belakang sosioekonomi rendah lebih mungkin diidentifikasi memiliki kesulitan
kognitif atau prilaku yang membutuhkan pelayanan pendidikan khusus.
Semua siswa memiliki kelebihan dan bakat
yang dapat mereka kembangkan, dan memiliki potensi yang besar untuk
mengembangkan keterampilan dan kemampuan baru.
No comments:
Post a Comment