Pages

Monday, November 6, 2017

makalah: konseling behavior



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Konseling berkembang pertama kali di Amerika yang dipelopori oleh Jesse B.Davis tahun 1898 yang bekerja sebagai konselor sekolah di Detroit. Banyak factor yang mempengaruhi perkembangan konseling, salah satunya adalah perkembangan yang terjadi pada kajian psikologis, mengungkapkan bahwa kekuatan-kekuatan tertentu dalam lapangan psikologis telah mempengaruhi perkembangan konseling baik dalam konsep maupun teknik. Aliran-aliran yang muncul dalam lapangan psikologi memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan konseling, diantara aliran-aliran psikologi yang cukup memberikan pengaruh terhadap perkembangan konseling adalah sebagai berikut ; aliran strukturalisme (Wundt), Fungsionalisme (James), dan Behaviorisme (Watson).
Perkembangan koseling behavioral bertolak dari perkembanngan aliran behavioristik dalam perkembangan psikologi yang menolak pendapat aliran strukturalisme yang berpendapat bahwa mental, pikiran dan perasaan hendaknya ditemukan terlebih dahulu bila perilaku manusia ingin difahami, maka munculah teori introspeksi.
Aliran Behaviorisme menolak metode introspeksi dari aliran strukturalisme dengan sebuah keyakinan bahwa menurut para behaviorist metode introspeksi tidak dapat menghasilkan data yang objektif, karena kesadaran menurut para behaviorist adalah sesuatu yang Dubios, yaitu sesuatu yang tidak dapat diobservasi secara langsung, secara nyata. Bagi aliran Behaviorisme yang menjadi focus perhatian adalah perilaku yang tampak, karena persoalan psikologi adalah tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepsi-konsepsi mengenai kesadaran dan mentalitas.
Pada awalnya behaviorisme lahir di Rusia dengan tokohnya Ivan Pavlov, namun pada saat yang hamper bersamaan di Amerika behaviorisme muncul dengan salah satu tokoh utamanya John B. Watson.
B.     Rumusan Masalah
1.      Jelaskan dasar filosofis teori konseling behavior?
2.      Jelasakan konsep kunci teori konseling behavior?
3.      Apa tujuan dari konseling behavior?
4.      Bagaiman hubungan antara konselor dan konseling dalam konseli behavior?
5.      Apa saja teknik yang digunakan dalam konseling behavior?
6.      Bagaimana penerapan konseling behavior?
7.      Apa saja kelebihan dan  kekurangan teori konseling behavior?
C.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui dasar filosofis teori konseling behavior
2.      Untuk mengetahui konsep kunci teori konseling behavior
3.      Untuk mengetahui tujuan dari konseling behavior
4.      Untuk mengetahui hubungan antara konselor dan konseli  dalam konseling behavior
5.      Untuk mengetahui teknik yang digunakan dalam konseling behavior.
6.      Untuk mengetahui penerapan konseling behavior
7.      Untuk mengetahui saja kelebihan dan  kekurangan teori konseling behavior








BAB II
PEMBAHASAN

A.     Dasar Filososfis
Konseling behavioral berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian lagi bercorak psikologis yaitu:
1.        Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk,bagus atau jelek. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku baik atau buruk, tepat atau salah. Berdasarkan bekal keturunan atau pembawaan dan berkat interaksi antara bekal keturunan dan lingkungan, terbentuk aneka pola bertingkah laku yang menjadi suatu ciri khas kepribadiannya.
2.        Manusia mampu untuk berefleksi atas tingkah lakuknya sendiri, menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri.
3.        Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri suatu pola yang lama dahulu dibentuk melalui belajar. Kalau pola yang lama dahulu dibentuk melalui belajar, pola itu dapat pula diganti melalui usaha belajar yang baru.
4.        Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain.
B.     Konsep Dasar
1.      Hakikat tingkah laku
Konseling behavioral berpandangan, bahwa tingkah laku manusia pada dasarnya:
a.       Tingkah laku manusia diperoleh melalui belajar dan kepribadian adalah hasil proses belajar. Belajar merupakan suatu perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil dari latihan atau pengalaman
b.      Tingkah laku manusia tersusun dari respons-respons kognitif, motorik dan emosional terhadap stimulus yang datang baik dari internal maupun eksternal.
c.       Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh variabel-variabel kompetensi, setrategi dan susunan pribadi, harapan-harapan, nilai stimulus, sistem dan rencana pengaturan diri.
2.      prinsip belajar
Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar : (Alwisol, 2011 : 322)
a.         Pembiasaan klasik, yang ditandai dengan satu stimulus yang menghasilkan satu respon. Misalnya bayi merespon suara keras dengan takut.
b.        Pembiasaan operan, ditandai dengan adanya satu stimulus yang menghasilkan banyak respon. Pengondisian operan memberikan penguatan positif yang bisa memperkuat tingkah laku. Sebaliknya penguatan negatif bisa memperlemah tingkah laku. Munculnya perilaku akan semakin kuat apabila diberikan penguatan positif dan akan menghilang apabila dikenai hukuman.
c.         Peniruan, yaitu orang tidak memerlukan reinforcement agar bisa memiliki tingkah laku melainkan ia meniru. Syarat dalam meniru tingkah laku yaitu:
1)   Tingkah laku yang ditiru memang mampu untuk ditiru oleh individu yang bersangkutan
2)   Tingkah laku yang ditiru adalah perbuatan yang dinilai publik positif.
C.     Tujuan Konseling
Tujuan umum konseling behavioral adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya ialah bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang maladaptif (salah suai). Jika tingkah laku neurotik learned, maka ia bisa unlearned (dihapus dari ingatan), dan tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh. Konseling behavioral pada hakikatnya terdiri dari proses penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif dan pemberian pengalaman-pengalaman belajar yang di dalamnya terdapat respon-respon yang layak, namun belum dipelajari. (Corey, 2010 : 199)
Adapun tujuan khusus dari konseling behavioral adalah membantu klien menolong diri sendiri, mengembalikan klien ke dalam masyarakat, meningkatkan keterampilan sosial, memperbaiki tingkah laku yang menyimpang, membantu klien mengembangkan sistem self management dan self control. (Sutarno, 2003 : 8)
Sehingga tujuan dari konseling behavioral adalah membentuk perilaku baru yang adaptif melalui proses belajar dan lingkungan.
D.    Hubungan Konseling dan Konseli
Dalam kegiatan konseling, konselor memegang peranan aktif dan langsung. Hal ini bertujuan agar konselor dapat menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan masalah-masalah konseli sehingga diharapkan kepada perubahan perilaku yang baru. Sistem dan prosedur konseling behavioral amat terdefinisikan, demikian pula peranan yang jelas dari konselor dan konseli.
Konseli harus mampu berpartisipasi dalam kegiatan konseling, ia harus memiliki motivasi untuk berubah, harus bersedia bekerjasama dalam melakukan aktivitas konseling, baik ketika berlangsung konseling maupun diluar konseling.
Dalam hubungan konselor dengan konseli ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu :
1.      Konselor memahami dan menerima konseli
2.      Antara konselor dan konseli saling bekerjasama
3.      Konselor memberikan bantuan dalam arah yang diinginkan konseli.
E.     Teknik Konseling
1.      desentisasi
Desensititasi berarti menenangkan ketegangan klien dengan jalan mengajri/melatih klien untuk santai/rileks. Latihan rileks ini bisa dilakukan dalam lima atau enam sesi. Apabila klien telah mampu melakukan rileks, klien dibantu untuk menyusun urutan stimulus yang mencemaskan.Dalam hal ini, klien diminta secara bertahap membayangkan stimulus mulai dari yang paling kurang menemaskan hingga yang paling mencemaskan; klien dilatih untuk tetap rileks disaat mengahadapi stimulus yang mencemaskan itu. Demikian seterusnya hingga ia dapat membayangkan stimulus itu tanpa adanya kecemasan lagi. Desentisisasi sistematik adalah teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia, tetapi keliru apabila menganggap teknik ini hanya bisa diterapkan pada penanganan ketakutan-ketakutan.
2.      Latihan asertif
Latihan asertif merupakan latihan mempertahankan diri akibat perlakuan orang lain yang menimbulkan kecemasan. Klien yang menunjukkan rasa cemas, diberi tahu bahwa dirinya mempunyai hak untuk mempertahankan diri.Ia silatih untuk memelihara harga dirinya dengan berulang kali diberi latihan mempertahankan diri. Lathian seperti ini memungkinkan klien dapat mengendalikan lingkungannya.
3.      Latihan seksual.
Teknik ini dipergunakan untuk menghilangkan kecemasan yang timbul akibat pergaulan dengan jenis kelamin lain. Kecemasan akibat dari bergaul dengan dengan jenis kelamin lain mungkin kien menjadi impotent, misalnya. Dalam hal ini, konselor secara bertahap menghilangkan perasaan cemas itu. Untuk perawatan gangguan seperti ini Wolpe menyuruh kliennya untuk bekerjasama dengan jenis kelamin lain untuk menghindari respon cemas. Kegiatan ini dilakukan berulang kali hingga kecemasan itu sendiri berangsur-angsur berkurang.
4.      Terapi aversi
Teknik ini digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buuk, dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengganti respons pada stimulus yang disenangi dengan kebalikan respons terhadap stimulus tersebut, dibarengi stimulus yang merugikan atau tidak mengenakan dirinya.Contoh, untuk menyembuhkan pria homoseks.Kepada pria homoseks diperlihatkan foto pria telanjang sambil mengalitkan setrum listrik pada kakinya yang tidak beralas.Dalam terapi ini, setiap kali kepada klien diperlihatkan stimulus yang disenangi (foto pria telanjang) diikuti dengan rasa sakit akibat di setrum listrik.Begitu terus setiap melihat foto pria telanjang selalu dibarengi rasa sakit dan lama kelamaan tidak tertarik lagi pada pria.
5.      Sentisisasi tertutup
Teknik ini dapat digunakan untuk merawat perilaku menyimpang klien, misalnya suka minum-minuman keras atau alkhohol.Caranya klien dengan rileks diminta membayangkan perilaku yang disenangi itu yakni minum alkohol.Klien diminta membayangkan gelas berisi alkohol itu hampir di bibirnya, lalu klien diminta membayangkan rasa muak dan ingin muntah atau membayangkan kotoran dari muntah.Jadi, setiap membayangkan perilaku yang disenangi (minum alkohol) selalu diikuti dengan membayangkan sesuatu yang menjijikan. Itu dilakukan berulang-ulang, sehingga pada saatnya tidak lagi tertarik untuk membayangkan perilaku itu dan tidak tertarik melakukannya lagi.
6.      Menghentikan pikiran buruk (thought stopping)
Teknik ini dapat digunakan untuk menolong klien yang sangat cemas.Caranya, klien disuruh menutup matanya dan membayangkan dirinya sedang mengatakan sesuatu yang mengganggu dirinya.Misalnya, membayangkan dirinya berkata “saya jahat”. Jika klien memberi tanda sedang membayangkan yang dicemaskannya (ia berkata pada dirinya :saya jahat”), konselor segera berteriak dengan nyaring “berhenti”. Pikiran yang tidak karuan itu segera diganti oleh teriakan konselor.Klien diminta untuk melakukan latihan itu berulang-ulang hingga dirinya sanggup menghentikan pikiran yang mengganggu itu.
7.      Imitasi (imitation) atau menemukan model (modeling)
Dalam penggunaan teknik ini, klien disuruh seolah-olah klien mengalami sendiri atau melihat orang lain mengalami, dan ia mengikuti apa yang dilakukan orang lein itu dalam menanggulangi masalah. Klien meniru apa yang dilakukan orang lain (konselor).
F.      Penerapan Konseling behavioral
Koseling behavioral dapat mengatasi masalah-masalah klien yang mengalami fobia, cemas, gangguan seksual, penggunaan zat adiktif, obsesi, depresi, gangguan kepribadian, serta sejumlah gangguan pada anak
Konsseling behavior merupakan suatu proses membantu orang untuk memecahkan masalah.interpersonal, emosional dan keputusan tertentu.
Urutan pemilihan dan penetapan tujuan dalan konseling yang digambarkan oleh Cormier and Cormier (Corey, 1986, 178) sebagai salah satu bentuk kerja sama antara konselor dan klien sebagai berikut :
1. Konselor menjelaskan maksud dan tujuan.
2. Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling.
3. Klien dan konselor menetapkan tujuan yang telah ditetapkan apakah merupakan perubahan yang dimiliki oleh klien.
4. Bersama-sama menjajaki apakah tujuan itu realistik.
5. Mendiskusikan kemungkinan manfaat tujuan.
6. Mendiskusikan kemungkinan kerugian tujuan.
7. Atas dasar informasi yang diperoleh tentang tujuan klien, konselor dan klien membuat salah satu keputusan berikut : untuk meneruskan konseling atau mempertimbangkan kembali tujuan akan mencari referal.
G.    Kelebihan dan Kekurangan Teori Konseling Behavior
1.      Kelebihan
Kelebihan dari teori konseling behavior:
a.       Dengan memfokuskan pada perilaku khusus bahwa klien dapat berubah, konselor dapat membantu klien kea rah pengertian yang lebih baik terhadap apa yang harus dilakukan sebagai bagian dari proses konseling.
b.      Dengan menitikberatkan pada tingkah laku khusus, memudahkan dalam menentukan criteria keberhasilan proses konseling
c.       Memberikan peluang pada konselor untuk dapat menggunakan berbagai teknik khusus guna menghasilkan perubahan perilaku.
2.      Kekurangan
Kekurangan dari teori konseling behavior:
a.       Kurangnya kesempatan bagi klien untuk terlibat kreatif dengan keseluruhan penemuan diri atau aktualisasi diri
b.      Kemungkinan terjadi bahwa klien mengalami “depersonalized” dalam interaksinya dengan konselor.
c.       Keseluruhan proses mungkin tidak dapat digunakan bagi klien yang memiliki permasalahan yang tidak dapat dikaitkan dengan tingkah laku yang jelas.
d.      Bagi klien yang berpotensi cukup tinggi dan sedang mencari arti dan tujuan hidup mereka, tidak dapat berharap banyak dari konseling behavioral.















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.        Menurut pandangan behaviorisme, manusia lahir dalam mempunyai bawaan netral, artinya manusia itu hak untuk berbuat baik/buruk/jahat.
2.        Tingkah laku manusia diperoleh melalui belajar dan kepribadian adalah hasil proses belajar. Belajar merupakan suatu perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil dari latihan atau pengalaman
3.        Tujuan umum konseling behavioral adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya ialah bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang maladaptif (salah suai).
4.        Tehnik yang biasa digunakan dalam konseling behavior antara lain desentisasi, latihan asertif, latihan seksual, terapi aversi, sentisisasi tertutup, da teknik tought stopping.
5.        kelebihan dari teori konseling behavioral adalah :
a.    Dengan memfokuskan pada perilaku khusus bahwa klien dapat berubah
b.    Dengan menitikberatkan pada tingkah laku khusus, memudahkan dalam menentukan criteria keberhasilan proses konseling
c.    Memberikan peluang pada konselor untuk dapat menggunakan berbagai teknik khusus guna menghasilkan perubahan perilaku.
6.        Kelemahan teknik konseling behavior antara lain:
a.       Kurangnya kesempatan bagi klien untuk terlibat kreatif dengan keseluruhan penemuan diri atau aktualisasi diri
b.      Kemungkinan terjadi bahwa klien mengalami “depersonalized” dalam interaksinya dengan konselor.
B.            Saran
Setelah mempelajari teori konseling behavior, kami harapkan kepada konselor/guru BK dapat mengaplikasikan teknik- teknik konseling behavior dengan baik, supaya klien/siswa dapat terpecahkan dan terselesaikan permasalahannya.


DAFTAR PUSTAKA

http://makalahpsikologi.blogspot.co.id/2010/01/konseling-behavioral.html
http://paul-arjanto.blogspot.co.id/2011/06/teori-dan-pendekatan-konseling-behavior.html
http://mozaikbimbingankonseling.blogspot.co.id/2013/04/jurnal-kuliah-teori-konseling-behavior.html

No comments:

Post a Comment