Pages

Friday, September 8, 2017

studi kasus: meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menggunakan teknik cognitive restructuring



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Dalam ragka untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang terdapat dalam Undang- Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, Pasal 3 , tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, adan menjadi warga Negara yang demokratif serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak seperti sekolah, pemerintah, masyarakat, dan orang tua siswa.
Dalam mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, tentu saja selalu ada kendala atau permasalahan yang dihadapi oleh sekolah. Permasalahan ini semakin marak terjadi dan diberitakan dalam media cetak maupun eletronik seperti kasus tawuran, perkelahian, penyalahguanaan narkoba, bahkan sampai kasus pembegalan yang dilakukan oleh siswa SMP. Untuk itu, perlu perhatian khusus dari semua personil sekolah, terutama guru BK di sekolah.
Peran guru BK dalam mengatasi permasalahan siswa sangat penting. Bimbingan dan konseling sebagai ilmu dan profesi memberikan sumbangan bagi pendidikan nasional serta kehidupan berbangsa pada umumnya ( Nursalim, 2015). Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah diharapkan mampu memamandirikan siswa dalam mengatasi masalahnya, memahami dirinya dan lingkungannya, serta dapat mengembangkan potensi yang dimlikinya.
Untuk itu penulis melaksanakan studi kasus ini dengan tujuan membantu siswa yang bermasalah untuk memecahkan masalahnya secara mandiri baik itu permasalahan dalam bidang pribadi, social, belajar maupun karir.


B.       Tujuan Pelaksanaan Studi Kasus
Pelaksanaan studi kasus ini dilaksanakan dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah studi kasus selain itu, bagi penulis studi kasus ini sangat bermamfaat dalam usaha untuk menguasai pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam memberikan layanan konseling secara individual serta pembuatan laporan studi kasus. Dengan menjunjung tinggi kode etik yang dipegang teguh oleh petugas bimbingan dalam menjalankan tugasnya adalah menjaga kerahasiaan konseli terutama masalah-masalah yang dihadapinya. Segala sesuatu yang dikemukakan oleh konseli akan dirahasiakan oleh konselor.
Dari wujud laporan ini sama sekali tidak bermaksud membeberkan rahasia atau masalah konseli. Namun, jika  dalam uraian nanti terdapat kesamaan masalah yang didapati penulis kiranya hal demikian dapat dianggap sebagai hal yang terjadi secara kebetulan. Segala data atau informasi yang menyangkut pribadi konseli akan dijamin kerahasiaannya dalam hal ini laporan studi kasus ini hanya akan diberikan kepada  pihak yang berwenang dalam laporan studi kasus ini.
C.       Lokasi dan waktu
Studi kasus ini dilaksanakan di SMK Negeri 6 Makassar, Jl. Landak Baru No. 132, Banta- bantaeng, rappocini, kota Makassar. Studi kasus ini dilaksanakan selama lebih dari satu bulan yaitu pada tanggal 25 maret sampai dengan 30 april  2017. Pelaksanaan studi kasus dilaksanakan satu kali satu pekan selama 4 pekan.
D.      Identifikasi Kasus
Dalam identifikasi kasus ini, penulis berhasil mengidentifikasi sebuah kasus  yang terjadi pada salah seorang siswa kelas X Akuntansi 3 di SMK Negeri 6 Makassar, dengan menggunakan beberapa alat pengumpul data yang diperlukan yaitu melalui wawancara, obeservasi atau pengamatan, dan angket sosiometri. Siswa yang dimaksud gambaran selanjutnya tentang konseli adalah sebagai berikut:
1.      Nama                                : S ( inisial)
2.      Jenis kelamin                    : perempuan
3.      Agama                              : islam
4.      Umur                                : 17 tahun
5.      Tinggi/ Berat badan         : 155 cm/ 45 kg
6.      Sekolah                            : SMK Negeri 6 Makassar
7.      Kelas                                : X Akuntansi 3
8.      Alamat rumah                  : Tidung 5
9.      Keterangan keluarga
a.       Ayah
Nama                          : alm. saleh
Agama                        : islam
Pekerjaan                    : -
Alamat                       : -
b.      Ibu
Nama                          : suarni
Agama                        : islam
Pekerjaan                    : pedagang
Alamat                       : tidung V
10.  Jumlah saudara                 : 11 orang
a.       Laki- laki                    :  6 orang
b.      Perempuan                 :  5 orang
c.       Saudara yang telah berkeluarga : 2 orang
d.      Saudara yang bekerja : 8 orang
11.  Sikap terhadap saudara    : baik
12.  Tingkat social ekonomi    : menengah kebawah
13.  Jarak rumah ke sekolah    :2,5 km
14.  Ke sekolah dengan           : motor ( di jemput teman)

E.       Gambaran Umum Secara Menyeluruh Tentang Konseli
1.    Penampilan fisik
Sesuai dengan hasil pengamatan terhadap si konseli ini S (Inisial) ini, cara berbicaranya cukup sopan dan mudah di temani bercerita, cara berjalannya Biasa saja dan tegak, serta penampilannya yang sopan, perkembangan kesehatannyaga naik, keadaan tinggi badan sesuai dengan berat badan yang stabil.
2.    Penampilan psikologis
Dilihat dari kesehariannya, si konseli ini adalah anak yang tidak terlalu mau bergaul dengan teman sekelasnya.  Menurut hasil wawancara dengan temannya, S hanya memiliki satu teman akrab di dalam kelasnya yaitu teman sebangkunya yang sama- sama tinggal kelas tahun lalu.
3.    Gambaran umum kasus
Dari berbagai informasi yang telah diperoleh melalui pengumpulan data seperti angket sosiometri, observasi atau pengamatan, dan wawancara. Adapun gambaran umum dari kasus konseli sebagai berikut :
a.       Konseli kurang mampu bergaul dengan teman sekelasnya sehingga ia terisolasi di dalam kelasnya.
b.      Konseli malas datang ke sekolah.
c.       Konseli sering terlambat ketika pergi ke sekolah.
d.      Konseli kurang mampu menguasai mata pelajaran, terutama mata pelajaran yang memerlukan perhitungan.
e.       Konseli kurang memiliki waktu belajar di rumah karena harus membantu orang tuanya.
f.       Konseli malas mengerjakan tugas, sehingga banyak nilainya yang tidak tuntas.
4.    Alasan memilih kasus
a.       Bagi penulis
Berdasarkan gambaran umum kasus, maka penulis menangani siswa yang bersangkutan atas rekomendasi dan persetujuan konselor sekolah dengan menggunakan studi kasus dengan harapan agar :
·         Penulis terampil dalam melaksanakan konseling secara individual.
·         Penulis terampil dalam menangani siswa bermasalah.
b.      Bagi siswa
Dengan penanganan kasus, siswa yang bersangkutan diharapkan :
·      Siswa dapat meningkatkan motivasi belajarnya
·      Siswa tersebut dapat bergaul dengan baik di lingkngan sekolah maupun kelasnya.
·      Siswa tersebut dapat memahami dirinya serta masalah yang dihadapinya.
c.    Bagi sekolah
Kegiatan ini dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalahnya, sehingga personil sekolah dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Hasil dari kegiatan ini dalam bentuk studi kasus yang berisi data siswa dapat menjadi bahan dokumen yang siap digunakan bilamana dibutuhkan.
BAB II
PENGUMPULAN DAN PENYAJIAN DATA

A.           Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan selama berlangsungnya kegiatan studi kasus yaitu: wawancara, observasi atau pengamatan, dan angket sosiometri. Teknik pengumpulan data tersebut akan diuraikan sebagai berikut.
1.      Wawancara
Wawancara adalah percakapan anatara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk mendapatkan imformasi yang tepat dari narasumber. Untuk mendapatkan imformasi tentang data konseli ada tiga narasumber yang penulis wawancarai yaitu konseli, teman konseli dan guru BK.
2.      Observasi atau pengamatan
Observasi adalah proses pengamatan yang dilakukan secara sengaja terhadap tingkah laku kasus dalam situasi tertentu. Dalam penelitian ini menggunakan metode observasi adalah sebagai pelengkap dari metode-metode lainnya. Observasi ini dilakukan di dalam kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung maupun di lingkungan sekolah ketika sedang istirahat.
3.      Sosiometri
Sosiometri merupakan salah satu instrument non tes yang digunakan untuk mengukur tingkat hubungan social seorang siswa di dalam kelas. Dengan instrument ini kita dapat menentukan siswa yang popular, dan siswa yang terisolasi di dalam kelas.
Sosiometri terdiri dari 12 buah pertanyaan, dan mencakup 4 bidang layanan bimbingan dan konseling yaitu pribadi, social, karir dan belajar. Setiap bidang terdiri dari 3 buah pertanyaan.
B.            Penyajian Data
1.      Wawancara
a)      Wawancara dengan guru pembimbing ( BK )
Dari hasil wawancara dengan guru pembimbing, si S ini adalah anak yang malas dan sering terlambat untuk datang ke sekolah. Dia juga termasuk anak yang terancam tidak naik kelas tahun ini.
b)      Wawancara dengan teman sekelas konseli
Menurut keterangan teman sekelasnya, si S merupakan siswa yang tidak mau bergaul dengan teman- temannya yang lain, dia hanya akrab dengan teman sebangkunya.
c)    Wawancara dengan konseli yang bersangkutan
Menurut si S dia tidak terlalu gaul dengan teman sekelasnya, dia hanya bergaul ketika ada tugas kelompok. Dia juga tidak terlalu menguasi mata pelajaran akuntansi.
2.      Observasi atau pengamatan
Observasi yang dimaksudkan disini adalah mencakup semua gejala yangditampilkan oleh konseli selama mengikuti pelajaran di dalam kelas maupun ketika bergaul di lingkungan sekolah. Observasi mencakup aspek sikap, perhatian pada saat pelajaran, hasil observasi adalah sebagai berikut :
a)      Pada saat pelajaran berlangsung, si S tidak terlalu aktif dan tidak terlalu memperhatikan pelajaran.
b)      Konseli tidak terlalu aktif berkomnikasi dengan teman sekelasnya, baik ketika diskusi kelompok maupun saat istirahat.
c)      Konseli cukup sopan ketika berbicara dengan gurunya
3.      Sosiometri
Berdasarkan hasil interpretasi dari sosiometri yang dibagikan, si S termasuk ke dalam siswa yang terisolasi. Adapun hasil dari 4 layanan bimbingan adalah sebagai berikut :
Pribadi           : 1
Social             : 0
Belajar           : 0
Karir              : 0


BAB III
PROSEDUR PEMBERIAN BANTUAN

A.      Analis masalah
Berdasarkan data yang terkumpul pada BAB II, maka analisis data tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran kasus yang akan ditangani.
Dari hasil pengumpulan data terhadap konseli, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      S malas datang ke sekolah
2.      S tidak menguasai mata pelajaran di sekolah
3.      S termasuk siswa yang terisolasi di kelasnya.
B.     Diagnosis
Berdasarkan hasil analisis di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa masalah yang dialami S disebabkan oleh beberapa factor antara lain :
1.      S memiliki motivasi belajar yang rendah
2.      S tidak bisa membagi waktunya antara belajar dan membantu orang tua
3.      S merasa minder bergaul dengan teman sekelasnya karena dia adalah siswa yang tinggal kelas tahun lalu.
4.      S tidak percaya diri dengan kemampuannya dan selalu menganggap dirinya tidak bisa mengejakan tugas akuntansi.
C.     Prognosis
Dari hasil diagnosis diatas, maka rencana bantuan yang akan diberikan kepada konseli dalam usaha memecahkan masalahnya yaitu dengan menggunakan pendekatan behavioral kognitif dengan teknik cognitive restructuring.
Teknik cognitive restructuring juga disebut juga teknik penataan ulang skema pikiran adalah proses menemukan dan menilai kognisi siswa, memahami dampak negative pemikiran tertentu, terhadap prilaku dan belajar dan mengganti kognisi tersebut dengan pemikiran yang lebih realistic dan lebih cocok.
Strategi  cognitive restructuring didasarkan pada dua asumsi yaitu : (1) pikiran irasional dan kognisi defektif menghasilkan self- defeating behaviors ( prilaku disengaja yang memiliki efek negative pada diri sendiri) dan  (2) pikiran da pernyataan tentang diri sendiri dapat diubah melalui perubahan pandangan dan kognisi personal ( Erford B. T : 2016 ).
D.    Treatment
Usaha pemberian bantuan diberiakn menggunakan teknik cognitive  restructuring yang bertujuan untuk mengganti pikiran konseli yang tidak rasional dengan pikiran yang lebih realistic dan lebih cocok.
Dalam pelaksanaan teknik konseling cognitive restructuring memerlukan kolaborasi aktif dari konseli. Konseli akan lebih aktif dalam mengikuti sesi konseling dan mengetahui apa yang harus dilakukan dari setiap sesi konseling.
Erford B. T ( 2016 : 255) mendeskripsikan sebuah langkah- langkah spesifik yang diikuti oleh konselor dalam melaksanakan teknik cognitive restructuring kepada konseli antara lain sebagai berikut :
1.             Kumpulkan imformasi latar belakang untuk mengungkapkan bagaimana konseli menangani masalah di masa lalu maupun saat ini.
2.             Bantu konseli dalam menjadi sadar akan proses pikirannya. Diskusikan contoh- contoh kehidupan nyata yang mendukung kesimpulan konseli dan didiskusikan berbagai iterpretasi yang berbeda tentang bukti yang ada.
3.             Periksa proses berpikir rasional konseli, yang memfokuskan bagaimana pikiran konseli memengaruhi kesejahtraannya. Konselor professional dapat membesar- besarkan pemikiran irasional untuk membuat poinnya lebih terlihat bagi konseli.
4.             Memberikan bantuan kepada konseli untuk mengevaluasi keyakinan konseli tentang pola- pola pikiran logis konseli sendiri dan orang lain.
5.             Membantu konseli mengubah keyakinan dan asumsi internalnya.
6.             Ulangi proses pikiran rasional sekali lagi, kali ini dengan mengajarkan tentang aspek- aspek penting kepada konseli dengan menggunakan contoh- contoh kehidupan nyata. Bantu konseli membentuk tujuan- tujuan yang masuk akal yang akan bisa dicapai oleh konseli.
7.             Kombinasikan dengan teknik lain seperti thought stopping, PR, dan relaksasi sampai pola- pola logis benar- benar terbentuk.
E.       Evaluasi
Setelah beberapa tahap yang dilakukan maka selanjutnya diadakan penilaian atau evaluasi mengenai sejauh mana pekembangan yang dialami oleh konseli. Penilaian atau evaluasi ini dilakukan dengan pengamatan baik secara langsung maupun tidak langsung.
1.      Secara langsung, yaitu dengan melakukan pengamatan langsung ketika proses belajar mengajar  di dalam kelas dan proses pergaulannya di lingkungan sekolah.
2.      Secara tidak langsung, yaitu memperoleh imformasi dari orang- orang di sekitar konseli seperti teman sekelas, sahabat dan gurunya.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, penulis telah dapat melihat perkembangan yag dialami oleh konseli. Perkembangan ini dirangkum ke dalam dua aspek yaitu keberhasilan dan ketidakberhasilan sebagai berikut:
1.        Aspek keberhasilan
a.    Konseli dengan senang hati menerima dan menuruti arahan da bimbingan dari kakak pembimbingnya.
b.    Konseli mulai rajin mengerjakan tugasnya.
c.    Konseli sudah mulai meluangkan sedikit waktunya untuk belajar di rumah disamping membantu orang tuanya.
d.   Konseli sudah raji datang ke sekolah.
2.        Aspek ketidakberhasilan
a.    Pemberian bantuan yang diberikan belum mencapai tahap maksimal karena dibatasi waktu yang terbatas sehingga hasilnya tidak maksimal pula.
b.    Pemberian bantuan di bidang social konseli masih perlu ditingkatkan



BAB IV
TINDAK LANJUT

Untuk mencapai hasil yang maksimal terhadap usaha bantuan dalam bentuk pelimpahan dan tindak lanjut ini diperlukan untuk mengetahui dan mengikuti perkembangan atas kemajuan konseli nantinya, berhubungan dengan keterbatasan waktu maka penulis dalam melaksanakan tugas mata kuliah studi kasus ini. Maka dalam kegiatan ini sangat diharapkan peranan dari pihak konselor dan orang tua siswa untuk memberikan perhatian yang lebih intensif dan berkesinambungan kepada konseli. Untuk itu penulis mengharapkan masing-masing kepada:
1. Guru pembimbing atau konselor di sekolah senantiasa memperhatikan perkembangan konselinya khususnya pada saat konseli berada di lingkungan sekolah, mengamati lebih lanjut, perkembangan kemajuan bukan hanya perhatian pada pelajaran tetapi juga pergaulan siswa yang bersangkutan.
2.      Guru pembingbing dan orang tua konseli membina hubungan kerja sama yang baik sehingga konselor akan lebih mudah memperoleh informasi tentang konseli di rumah dan begitupun sebaliknya. Konselor dapat memberikan informasi mengenai keadaan konseli di sekolah kepada orangtuanya agar dapat mengetahui kondisi anaknya pada saat berada di lingkungan sekolah.
3.      Diharapkan kepada orang tua agar lebih memnatau anaknya serta senantiasa memberikan nasihat kepada anaknya dalam memilih teman dalam bergaul agar si anaknya ini tidak lagi sering bertengkar sehingga perlu adanya komunikasi yang baik antara orangtua dan anaknya.
4.      Konseli yang bersangkutan diharapkan agar dapat mengembangkan potensi yang di milikinya dan mampu bergaul dengan temannya, sehingga tidak terjadi lagi pertengkaran dan hendaknya bila mendapatkan masalah disarankan unutk berkonsultasi dengan konselor atau wali kelasnya.



BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pelaksanaan studi kasus yang dilaksanakan di SMK Negeri 6 makassar menggunakan 3 metode pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan angket sosiometri. Siswa yang menjadi sampel ( konseli) dalam studi kasus ini mengalami masalah berupa rendahnya motivasi belajar dan masalah social. Adapun proses pemberian bantuan kepada konseli yaitu dengan menggunakan teknik…
B.     Saran
1.      Kepada guru BK di sekolah sebaiknya memperhatikan perkembangan siswa baik dari segi belajarnya maupun dari segi pergaulan dan tingkahlaku siswa saat berada di lingkungan sekolah.
2.      Kepada orang tua siswa sebaiknya memberikan motivasi kepada anaknya agar belajar dengan sungguh- sungguh.





DAFTAR PUSTAKA

Nursalim, M. 2015. Pengembangan Profesi Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Erlangga
Erford, B. T. 2016. 40 Teknik yang Harus Diketahui Setiap Konselor. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

No comments:

Post a Comment