BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam ragka untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional sebagaimana yang terdapat dalam Undang- Undang Nomor 20 tahun 2003
tentang system pendidikan nasional, Pasal 3 , tujuan pendidikan nasional adalah
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, adan menjadi warga Negara yang demokratif serta bertanggung
jawab. Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka dibutuhkan kerja sama dari
berbagai pihak seperti sekolah, pemerintah, masyarakat, dan orang tua siswa.
Dalam mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, tentu
saja selalu ada kendala atau permasalahan yang dihadapi oleh sekolah.
Permasalahan ini semakin marak terjadi dan diberitakan dalam media cetak maupun
eletronik seperti kasus tawuran, perkelahian, penyalahguanaan narkoba, bahkan
sampai kasus pembegalan yang dilakukan oleh siswa SMP. Untuk itu, perlu perhatian
khusus dari semua personil sekolah, terutama guru BK di sekolah.
Peran guru BK dalam mengatasi permasalahan siswa sangat
penting. Bimbingan dan konseling sebagai ilmu dan profesi memberikan sumbangan
bagi pendidikan nasional serta kehidupan berbangsa pada umumnya ( Nursalim,
2015). Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah diharapkan mampu
memamandirikan siswa dalam mengatasi masalahnya, memahami dirinya dan
lingkungannya, serta dapat mengembangkan potensi yang dimlikinya.
Untuk itu penulis melaksanakan studi kasus ini
dengan tujuan membantu siswa yang bermasalah untuk memecahkan masalahnya secara
mandiri baik itu permasalahan dalam bidang pribadi, social, belajar maupun
karir.
B.
Tujuan
Pelaksanaan Studi Kasus
Pelaksanaan studi kasus ini dilaksanakan dalam
rangka memenuhi tugas mata kuliah studi kasus selain itu, bagi penulis studi kasus
ini sangat bermamfaat dalam usaha untuk menguasai pengetahuan, sikap, dan
keterampilan dalam memberikan layanan konseling secara individual serta
pembuatan laporan studi kasus. Dengan menjunjung tinggi kode etik yang dipegang
teguh oleh petugas bimbingan dalam menjalankan tugasnya adalah menjaga
kerahasiaan konseli terutama masalah-masalah yang dihadapinya. Segala sesuatu
yang dikemukakan oleh konseli akan dirahasiakan oleh konselor.
Dari wujud laporan ini sama sekali tidak bermaksud
membeberkan rahasia atau masalah konseli. Namun, jika dalam uraian nanti terdapat kesamaan masalah
yang didapati penulis kiranya hal demikian dapat dianggap sebagai hal yang
terjadi secara kebetulan. Segala data atau informasi yang menyangkut pribadi
konseli akan dijamin kerahasiaannya dalam hal ini laporan studi kasus ini hanya
akan diberikan kepada pihak yang
berwenang dalam laporan studi kasus ini.
C.
Lokasi dan waktu
Studi kasus ini dilaksanakan di SMK Negeri 6
Makassar, Jl. Landak Baru No. 132, Banta- bantaeng, rappocini, kota Makassar. Studi
kasus ini dilaksanakan selama lebih dari satu bulan yaitu pada tanggal 25 maret
sampai dengan 30 april 2017. Pelaksanaan
studi kasus dilaksanakan satu kali satu pekan selama 4 pekan.
D.
Identifikasi
Kasus
Dalam identifikasi kasus ini, penulis berhasil
mengidentifikasi sebuah kasus yang
terjadi pada salah seorang siswa kelas X Akuntansi 3 di SMK Negeri 6 Makassar,
dengan menggunakan beberapa alat pengumpul data yang diperlukan yaitu melalui wawancara,
obeservasi atau pengamatan, dan angket sosiometri. Siswa yang dimaksud gambaran
selanjutnya tentang konseli adalah sebagai berikut:
1.
Nama : S ( inisial)
2.
Jenis kelamin : perempuan
3.
Agama : islam
4.
Umur : 17 tahun
5.
Tinggi/ Berat
badan : 155 cm/ 45 kg
6.
Sekolah : SMK Negeri 6
Makassar
7.
Kelas : X Akuntansi 3
8.
Alamat rumah : Tidung 5
9.
Keterangan
keluarga
a.
Ayah
Nama
: alm. saleh
Agama : islam
Pekerjaan : -
Alamat : -
b.
Ibu
Nama
: suarni
Agama : islam
Pekerjaan : pedagang
Alamat : tidung V
10.
Jumlah saudara : 11 orang
a.
Laki- laki : 6 orang
b.
Perempuan : 5 orang
c.
Saudara yang
telah berkeluarga : 2 orang
d.
Saudara yang
bekerja : 8 orang
11.
Sikap terhadap
saudara : baik
12.
Tingkat social
ekonomi : menengah kebawah
13.
Jarak rumah ke
sekolah :2,5 km
14.
Ke sekolah
dengan : motor ( di jemput
teman)
E.
Gambaran Umum
Secara Menyeluruh Tentang Konseli
1.
Penampilan
fisik
Sesuai
dengan hasil pengamatan terhadap si konseli ini S (Inisial) ini, cara
berbicaranya cukup sopan dan mudah di temani bercerita, cara berjalannya Biasa
saja dan tegak, serta penampilannya yang sopan, perkembangan kesehatannyaga
naik, keadaan tinggi badan sesuai dengan berat badan yang stabil.
2.
Penampilan
psikologis
Dilihat dari kesehariannya, si
konseli ini adalah anak yang tidak terlalu mau bergaul dengan teman sekelasnya.
Menurut hasil wawancara dengan temannya,
S hanya memiliki satu teman akrab di dalam kelasnya yaitu teman sebangkunya
yang sama- sama tinggal kelas tahun lalu.
3.
Gambaran
umum kasus
Dari berbagai informasi yang telah diperoleh melalui
pengumpulan data seperti angket sosiometri, observasi atau pengamatan, dan
wawancara. Adapun gambaran umum dari kasus konseli sebagai berikut :
a.
Konseli kurang
mampu bergaul dengan teman sekelasnya sehingga ia terisolasi di dalam kelasnya.
b.
Konseli malas
datang ke sekolah.
c.
Konseli sering
terlambat ketika pergi ke sekolah.
d.
Konseli kurang
mampu menguasai mata pelajaran, terutama mata pelajaran yang memerlukan
perhitungan.
e.
Konseli kurang
memiliki waktu belajar di rumah karena harus membantu orang tuanya.
f.
Konseli malas
mengerjakan tugas, sehingga banyak nilainya yang tidak tuntas.
4.
Alasan memilih
kasus
a.
Bagi penulis
Berdasarkan gambaran
umum kasus, maka penulis menangani siswa yang bersangkutan atas rekomendasi dan
persetujuan konselor sekolah dengan menggunakan studi kasus dengan harapan agar
:
·
Penulis terampil
dalam melaksanakan konseling secara individual.
·
Penulis terampil
dalam menangani siswa bermasalah.
b.
Bagi siswa
Dengan penanganan
kasus, siswa yang bersangkutan diharapkan :
·
Siswa dapat
meningkatkan motivasi belajarnya
·
Siswa tersebut
dapat bergaul dengan baik di lingkngan sekolah maupun kelasnya.
·
Siswa tersebut
dapat memahami dirinya serta masalah yang dihadapinya.
c.
Bagi sekolah
Kegiatan ini dapat
membantu siswa dalam menyelesaikan masalahnya, sehingga personil sekolah dapat
menjalankan tugasnya dengan baik. Hasil dari kegiatan ini dalam bentuk studi kasus yang berisi
data siswa dapat menjadi bahan dokumen yang siap digunakan bilamana dibutuhkan.
BAB
II
PENGUMPULAN
DAN PENYAJIAN DATA
A.
Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan selama
berlangsungnya kegiatan studi kasus yaitu: wawancara, observasi atau
pengamatan, dan angket sosiometri. Teknik pengumpulan data tersebut akan
diuraikan sebagai berikut.
1.
Wawancara
Wawancara adalah percakapan anatara dua orang atau
lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara
ini adalah untuk mendapatkan imformasi yang tepat dari narasumber. Untuk
mendapatkan imformasi tentang data konseli ada tiga narasumber yang penulis
wawancarai yaitu konseli, teman konseli dan guru BK.
2.
Observasi atau
pengamatan
Observasi
adalah proses pengamatan yang dilakukan secara sengaja terhadap tingkah laku
kasus dalam situasi tertentu. Dalam penelitian ini menggunakan metode observasi
adalah sebagai pelengkap dari metode-metode lainnya. Observasi ini dilakukan di
dalam kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung maupun di lingkungan
sekolah ketika sedang istirahat.
3.
Sosiometri
Sosiometri merupakan salah satu instrument non tes
yang digunakan untuk mengukur tingkat hubungan social seorang siswa di dalam
kelas. Dengan instrument ini kita dapat menentukan siswa yang popular, dan
siswa yang terisolasi di dalam kelas.
Sosiometri terdiri dari 12 buah pertanyaan, dan
mencakup 4 bidang layanan bimbingan dan konseling yaitu pribadi, social, karir
dan belajar. Setiap bidang terdiri dari 3 buah pertanyaan.
B.
Penyajian Data
1.
Wawancara
a)
Wawancara dengan
guru pembimbing ( BK )
Dari hasil wawancara dengan guru pembimbing, si S
ini adalah anak yang malas dan sering terlambat untuk datang ke sekolah. Dia
juga termasuk anak yang terancam tidak naik kelas tahun ini.
b)
Wawancara dengan
teman sekelas konseli
Menurut keterangan teman sekelasnya, si S merupakan
siswa yang tidak mau bergaul dengan teman- temannya yang lain, dia hanya akrab
dengan teman sebangkunya.
c)
Wawancara dengan
konseli yang bersangkutan
Menurut si S dia tidak terlalu gaul dengan teman
sekelasnya, dia hanya bergaul ketika ada tugas kelompok. Dia juga tidak terlalu
menguasi mata pelajaran akuntansi.
2.
Observasi atau
pengamatan
Observasi yang dimaksudkan disini adalah mencakup
semua gejala yangditampilkan oleh konseli selama mengikuti pelajaran di dalam
kelas maupun ketika bergaul di lingkungan sekolah. Observasi mencakup aspek
sikap, perhatian pada saat pelajaran, hasil observasi adalah sebagai berikut :
a)
Pada saat
pelajaran berlangsung, si S tidak terlalu aktif dan tidak terlalu memperhatikan
pelajaran.
b)
Konseli tidak
terlalu aktif berkomnikasi dengan teman sekelasnya, baik ketika diskusi
kelompok maupun saat istirahat.
c)
Konseli cukup
sopan ketika berbicara dengan gurunya
3.
Sosiometri
Berdasarkan hasil interpretasi dari sosiometri yang
dibagikan, si S termasuk ke dalam siswa yang terisolasi. Adapun hasil dari 4
layanan bimbingan adalah sebagai berikut :
Pribadi : 1
Social : 0
Belajar : 0
Karir : 0
BAB
III
PROSEDUR
PEMBERIAN BANTUAN
A.
Analis masalah
Berdasarkan data yang terkumpul pada BAB II, maka
analisis data tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran kasus yang akan
ditangani.
Dari hasil pengumpulan data terhadap konseli, maka
dapat disimpulkan bahwa :
1.
S malas datang
ke sekolah
2.
S tidak
menguasai mata pelajaran di sekolah
3.
S termasuk siswa
yang terisolasi di kelasnya.
B.
Diagnosis
Berdasarkan hasil analisis di atas, maka penulis
menyimpulkan bahwa masalah yang dialami S disebabkan oleh beberapa factor
antara lain :
1.
S memiliki
motivasi belajar yang rendah
2.
S tidak bisa
membagi waktunya antara belajar dan membantu orang tua
3.
S merasa minder
bergaul dengan teman sekelasnya karena dia adalah siswa yang tinggal kelas
tahun lalu.
4.
S tidak percaya
diri dengan kemampuannya dan selalu menganggap dirinya tidak bisa mengejakan
tugas akuntansi.
C.
Prognosis
Dari hasil diagnosis diatas, maka rencana bantuan
yang akan diberikan kepada konseli dalam usaha memecahkan masalahnya yaitu
dengan menggunakan pendekatan behavioral kognitif dengan teknik cognitive
restructuring.
Teknik cognitive restructuring juga disebut juga
teknik penataan ulang skema pikiran adalah proses menemukan dan menilai kognisi
siswa, memahami dampak negative pemikiran tertentu, terhadap prilaku dan
belajar dan mengganti kognisi tersebut dengan pemikiran yang lebih realistic
dan lebih cocok.
Strategi
cognitive restructuring didasarkan pada dua asumsi yaitu : (1) pikiran
irasional dan kognisi defektif menghasilkan self- defeating behaviors ( prilaku
disengaja yang memiliki efek negative pada diri sendiri) dan (2) pikiran da pernyataan tentang diri
sendiri dapat diubah melalui perubahan pandangan dan kognisi personal ( Erford
B. T : 2016 ).
D.
Treatment
Usaha pemberian bantuan diberiakn menggunakan teknik
cognitive restructuring yang bertujuan
untuk mengganti pikiran konseli yang tidak rasional dengan pikiran yang lebih
realistic dan lebih cocok.
Dalam pelaksanaan teknik konseling cognitive
restructuring memerlukan kolaborasi aktif dari konseli. Konseli akan lebih
aktif dalam mengikuti sesi konseling dan mengetahui apa yang harus dilakukan
dari setiap sesi konseling.
Erford B. T ( 2016 : 255) mendeskripsikan sebuah
langkah- langkah spesifik yang diikuti oleh konselor dalam melaksanakan teknik
cognitive restructuring kepada konseli antara lain sebagai berikut :
1.
Kumpulkan
imformasi latar belakang untuk mengungkapkan bagaimana konseli menangani
masalah di masa lalu maupun saat ini.
2.
Bantu konseli
dalam menjadi sadar akan proses pikirannya. Diskusikan contoh- contoh kehidupan
nyata yang mendukung kesimpulan konseli dan didiskusikan berbagai iterpretasi
yang berbeda tentang bukti yang ada.
3.
Periksa proses
berpikir rasional konseli, yang memfokuskan bagaimana pikiran konseli
memengaruhi kesejahtraannya. Konselor professional dapat membesar- besarkan
pemikiran irasional untuk membuat poinnya lebih terlihat bagi konseli.
4.
Memberikan
bantuan kepada konseli untuk mengevaluasi keyakinan konseli tentang pola- pola
pikiran logis konseli sendiri dan orang lain.
5.
Membantu konseli
mengubah keyakinan dan asumsi internalnya.
6.
Ulangi proses
pikiran rasional sekali lagi, kali ini dengan mengajarkan tentang aspek- aspek
penting kepada konseli dengan menggunakan contoh- contoh kehidupan nyata. Bantu
konseli membentuk tujuan- tujuan yang masuk akal yang akan bisa dicapai oleh
konseli.
7.
Kombinasikan
dengan teknik lain seperti thought stopping, PR, dan relaksasi sampai pola-
pola logis benar- benar terbentuk.
E.
Evaluasi
Setelah beberapa tahap yang dilakukan maka
selanjutnya diadakan penilaian atau evaluasi mengenai sejauh mana pekembangan
yang dialami oleh konseli. Penilaian atau evaluasi ini dilakukan dengan
pengamatan baik secara langsung maupun tidak langsung.
1.
Secara langsung,
yaitu dengan melakukan pengamatan langsung ketika proses belajar mengajar di dalam kelas dan proses pergaulannya di
lingkungan sekolah.
2.
Secara tidak
langsung, yaitu memperoleh imformasi dari orang- orang di sekitar konseli
seperti teman sekelas, sahabat dan gurunya.
Berdasarkan hasil
pengamatan yang dilakukan, penulis telah dapat melihat perkembangan yag dialami
oleh konseli. Perkembangan ini dirangkum ke dalam dua aspek yaitu keberhasilan
dan ketidakberhasilan sebagai berikut:
1.
Aspek
keberhasilan
a.
Konseli dengan
senang hati menerima dan menuruti arahan da bimbingan dari kakak pembimbingnya.
b.
Konseli mulai
rajin mengerjakan tugasnya.
c.
Konseli sudah
mulai meluangkan sedikit waktunya untuk belajar di rumah disamping membantu
orang tuanya.
d.
Konseli sudah
raji datang ke sekolah.
2.
Aspek
ketidakberhasilan
a.
Pemberian
bantuan yang diberikan belum mencapai tahap maksimal karena dibatasi waktu yang
terbatas sehingga hasilnya tidak maksimal pula.
b.
Pemberian
bantuan di bidang social konseli masih perlu ditingkatkan
BAB IV
TINDAK LANJUT
Untuk mencapai hasil yang maksimal terhadap usaha bantuan
dalam bentuk pelimpahan dan tindak lanjut ini diperlukan untuk mengetahui dan
mengikuti perkembangan atas kemajuan konseli nantinya, berhubungan dengan
keterbatasan waktu maka penulis dalam melaksanakan tugas mata kuliah studi
kasus ini. Maka dalam kegiatan ini sangat diharapkan peranan dari pihak
konselor dan orang tua siswa untuk memberikan perhatian yang lebih intensif dan
berkesinambungan kepada konseli. Untuk itu penulis mengharapkan masing-masing
kepada:
1.
Guru pembimbing atau konselor di
sekolah senantiasa memperhatikan perkembangan konselinya khususnya pada saat
konseli berada di lingkungan sekolah, mengamati lebih lanjut, perkembangan
kemajuan bukan hanya perhatian pada pelajaran tetapi juga pergaulan siswa yang
bersangkutan.
2.
Guru pembingbing dan orang tua
konseli membina hubungan kerja sama yang baik sehingga konselor akan lebih
mudah memperoleh informasi tentang konseli di rumah dan begitupun sebaliknya.
Konselor dapat memberikan informasi mengenai keadaan konseli di sekolah kepada
orangtuanya agar dapat mengetahui kondisi anaknya pada saat berada di
lingkungan sekolah.
3.
Diharapkan kepada orang tua agar
lebih memnatau anaknya serta senantiasa memberikan nasihat kepada anaknya dalam
memilih teman dalam bergaul agar si anaknya ini tidak lagi sering bertengkar
sehingga perlu adanya komunikasi yang baik antara orangtua dan anaknya.
4.
Konseli yang bersangkutan diharapkan
agar dapat mengembangkan potensi yang di milikinya dan mampu bergaul dengan
temannya, sehingga tidak terjadi lagi pertengkaran dan hendaknya bila
mendapatkan masalah disarankan unutk berkonsultasi dengan konselor atau wali
kelasnya.
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pelaksanaan studi kasus yang dilaksanakan di SMK Negeri
6 makassar menggunakan 3 metode pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan
angket sosiometri. Siswa yang menjadi sampel ( konseli) dalam studi kasus ini
mengalami masalah berupa rendahnya motivasi belajar dan masalah social. Adapun
proses pemberian bantuan kepada konseli yaitu dengan menggunakan teknik…
B.
Saran
1.
Kepada guru BK
di sekolah sebaiknya memperhatikan perkembangan siswa baik dari segi belajarnya
maupun dari segi pergaulan dan tingkahlaku siswa saat berada di lingkungan
sekolah.
2.
Kepada orang tua
siswa sebaiknya memberikan motivasi kepada anaknya agar belajar dengan sungguh-
sungguh.
DAFTAR
PUSTAKA
Nursalim, M. 2015.
Pengembangan Profesi Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Erlangga
Erford, B. T. 2016. 40
Teknik yang Harus Diketahui Setiap Konselor. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
No comments:
Post a Comment