Pages

Thursday, September 7, 2017

meningkatkan motivasi belajar anak dengan menggunakan pendekatan behavioristik



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Permasalahan tentang renahnya motivasi belajar siswa di sekolah dasar merupakan suatu permasalahan umum yang terjadi di Indonesia, termasuk di SD Pertiwi Makassar. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan yang penulis lakukan di kelas V b SD pertiwi terdapat beberapa siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah. Masalah ini seharusnya mendapatkan perhatian yang serius karena motivasi sangat besar pengaruhnya dalam keberhasilan suatu proses belajar mengajar.
Keberhasilan suatu proses belajar mengajar bukan hanya ditentukan oleh faktor intelektual, akan tetapi juga ditentukan oleh factor- factor non- intelektual, salah satunya motivasi. Kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa akan berhasil jika ada keinginan atau dorongan yang ada dalam diri siswa yang secara umum dinamakan motivasi. Motivasi belajar ini sangat penting bagi proses belajar anak karena tampa adanya motivasi anak tidak akan belajar dengan baik dan bisanya menyebabka prestasinya menurun.
Rendahnya motivasi belajar dapat ditandai dengan malasnya dia mengerjaka tugas, mudah  putus asa, dan tidak senang mengerjakan soal yang diberikan oleh guru. Siswa yang mempunyai motivasi belajar yang rendah juga sering menimbulkan masalah lainnya dalam kelas, seperti mengganggu temannya yang sedang sibuk mengerjakan tugas serta membuat  kegaduhan di dalam kelas. Agar suasana di ruang kelasnya tetap kondusif dan nyaman untuk belajar, maka guru harus mengupayakan semua siswanya di dalam kelas agar memliki motivasi dalam belajar.
Motivasi belajar juga sangat menentukan prestasi yang dicapai oleh siswa di sekolah. Tanpa adanya motivasi, mustahil bagi seorang anak memperolah prestasi yang membanggakan di sekolahnya. Motivasi yang tinggi akan menunjukan prestasi belajar yang membaggakan. Dengan kata lain usaha yang tekun dan terutama dilandasi motivasi yang tinggi, maka seseorang yang belajar itu akan mendapatkan prestasi yang baik. Insentitas motivasi siswa akan memengaruhi tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud motivasi belajar?
2.      Apa saja yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar?
3.      Bagaimana cara meningkatkan motivasi belajar denga menggunakan pendekatan behavioristic?
C.     Tujuan penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian motivasi belajar.
2.      Untuk mengetahui penyebab rendahnya motivasi belajar
3.      Untuk mengetahui cara meningkatkan motivsi belajar dengan menggunakan pendekatan behavioristic.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Motivasi belajar
Motivasi belajar yang rendah adalah tidak adanya dorongan dalam diri siswa dalam melakukan kegiatan belajar dan tidak adanya arahan perbuatan belajar serta proses yang memberi semangat sehingga tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan kurangnya motivasi belajar siswa maka kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di dalam kelas tidak akan berhasil atu tidak akan mencapai tujuan yang diharapkan.
Menurut Sardiman, motivasi belajar adlah keseluruha daya peggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar dan memberikan arahan dalam kegiata belajar demi tercapainya tujuan yang dikehendaki. Hal ini menunjuka bahwa siswa yang memiliki motivasi belajar akan dapat meluangkan lebih banyak waktunya untuk belajar dan lebih tekun daripada siswa yang kurang motivasi belajar atau bahkan tidak memiliki mtivasi belajar sama sekali. Motivasi belajar berfungsi sebagai pendorong usaha danpencapaian prestasi belajar anak.
Ciri- ciri siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah diantaranya yaitu: malas mengerjakan tugas, kurang dorongan ntuk belajar, kurang bersemangat mengikuti proses belajar mengajar di dalam kelas, tidak senang mengerjakan soal- soal yang diberikan oleh guru, tidak memperhatikan ketika guru memberika meteri pelajaran, dan sering melakukan kegiatan lain ketika proses belajar mengajar berlangsung seperti mengganggu temannya, tidur, dan berbuat kegaduhan dalam kelas. Apabila seorang anak teridentifikasi memiliki ciri- ciri tersebut, makadapat dipastikan bahwa anak tersebut termasuk anak yang memiliki motivasi belajar yang rendah.
Berdasarkan sumbernya, motivasi belajar dibagi menjadi dua, yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu siswa itu sendiri. Bila telah memiliki motivasi instrinsik dari dalam dirinya, maka ia akan sadar untuk melakukan suatu kegiatan, termasuk belajar. Seorang anak yang tidak memiliki motivasi intrisik akan sulit sekali melakuka aktivitas belajar secara terus- menerus. Seorang anak yang memiliki motivasi instrinsik selalu ingin maju dalam belajar. Kegiatan belajar ini dilatarbelakangi oleh pemikiran positif , bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan dibutuhkan dan sangat berguna pada masa yang akan dating. Anak yang memiliki motivasi intrinsic cenderung aka menjadi anak yang erdidik, berpengetahuan, dan memiliki keteramplan tertentu. Motivasi yang kedua yaitu motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang berasal dari luar individu anak tersebut, contohnya dari orang tua, guru, masyarakat dan sebagainya. Motivasi ekstrinsik ini diperlukan apabila anak menempatkan tjuan belajarnya di luar factor- factor belajar. Anak belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya, misalnya, ingin dibelikan mainan, atau apabila ia belajar akan diberi hadiah berupa gula- gula. Motivasi ekstrinsik sering diguanakan ketika anak sedang malas belajar dan kurang tertarik pada suatu mata pekajaran tertentu.

B.     Penyebab rendahnya motivasi belajar
Motivasi belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa factor baik itu dari luar maupun dari dalam. Factor- factor tersbut antara lain: orang tua, guru, kondisi social ekonomi, jenis  dan apek- aspek psikis. keempat factor tesebut akan kami uarikan sebagai berikut.
1.      Orang tua
Menurut aliran behavioristic, motivasi sangat ditentukan oleh lingkungan. Lingkungan pertama dan utama yang memengaruhi anak adalah lingkugan keluarga. Lingkungan keluarga yang menyenangkan mampu meningkakan motivasi anak. Orang tauyang selalu menuntut anaknya untuk berprestasi tinggi tanpa memperhatikan kemampuan sang anak aka mengakibatkan anak kehilangan kesukannyaterhadap belajar. Kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya, seperti terlalu sibuk bekerja akan menurunkan motivasi belajar anak karena merasa tidak diperhatikan.



2.      Guru
Kurangnya kompetensi yang dimiliki guru dala mengajar dapat memengaruhi motivasi belajar siswa. Perlu diperhatika bahwa guru harus mampu mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswanya. Jika kesulitan belajar tidak diatasi oleh guru akan menyebabkan siswa tersebut ketinggalan materi pelajaran. Hal iniaka mengakibatkan turunnya motivasi belajar siswa untuk mempelajari materi selanjutnya.
3.      Kondisi social  ekonomi
Motivasi belajar siswa juga dipengaruhi oleh keadaan social ekonomi siswa. Penelitian membuktikan bahwa siswa yang berasal dari tingkat ekonomi menengah dan tinggi lebih termotivasi untuk berprestasi disbanding yang berasal dari tingkat social ekonomi yang rendah.
4.      Aspek aspek psikis
Tinggi rendahnya motivasi belajar dapat dipengaruhi oleh aspek psikis yang ada pada diri anak, seperti intelegensi, bakat, minat, dll. snsk ysng memiliki intelegensi yang tinggi cenderung memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar. Begitupun anak yang memiliki bakat dan minat pada suatu bidang tertentu, anak itu cenderung akan temotivasi untuk belajar dalam bidag tersebut.
C.     Cara meningkatkan motivasi belajar dengan pendekatan behavioristic
Pendekatan behavior adalah salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebuuhan hidup melalui proses belajar agar orang bisa bertindak dan bertingkah laku lebih efektif dan efisien.
Tujuan konseling behavior untuk menghilankan prilaku yang tidak sesuai dan belajar berprilaku yang sesuai , yakni memusatkan pada factor yang mempengaruhi prilaku dan memahhami apa yang bisa dilakukan terhadap prilaku yang menjadi masalah.
Dalam aliran behavioristic ada beberapa factor yang sangt penting diantaranya yaitu penguatan ( reinforcement ) dan hukuman ( punishment ). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Penguatan ini terbagi menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negative. Penguatan positif yaitu apabila penguatan ditambahkan maka akan memperkuat respon dengan kata lain menghadirkan sesuatu yang disenangi anak dalam proses pembelajaran. Pengutan negative adalah apabila penguatan dikurangi akan memperkuat respon, dengan kata lain menghilangkan hal   yang tidak disukai anak dalam proses pembelajaran. Sementara itu hukuman adalah apa saja yang dapat mengurangi timbulnya respon hukuman ini juaga terbagi mejadi dua yaitu hukuman positif dan hukuman negative. Hukuman positif yaitu menghadirkan sesuatu yang tidak disukai anak. Sementara hukuman negative adalah menghilangkan sesuatu yang disenangi anak.
Dikaitkan dengan hal menigkatkan motivasi belajar, pendekatan behavior ini sangat cocok diterapkan terutama pada siswa SD. Hal ini disebabkan karena anak SD belum terlalu bisa untuk berpikir terlalu jauh kedepa tentag tujuan belajar. Mereka biasanya belajar untuk mendapatkan hal diluar tujuan belajar yang sesungguhnya, seperti menjadi juara kelas, atau akan mendapat mainan jika mendapat nilai yang bagus.
Dengan menggunakan pendekatan behavior kita dapat membiasakan anak untuk rajin belajar. Karena dengan adanya sifat yang rajin belajar sejak kecil maka anak tersebut cenderung akan rajin sampai dewasa.
Dalam pendekatan behavior ada beberapa teknik yang bisa digunakan dalam menigkatkan motivasi belajar anak seperti teknik prinsip premack, kontrak prilaku, token ekonomi, dll. teknik tersebut akan diuraikan sebagai berikut.
1.      Teknik prinsip premack
Teknik prinsip premack didasarkan pada konsep reinforcement positif dari teori operan kondisioning, yang menyatakan bahwa prilaku dengan probabilitas tinggi dapat bertindak sebagai penguat perilaku dengan probabilitas rendah ( Erford, B. T : 2016 ). Dengan kata lain individu akan akan termotivasi untuk belajar jika itudiikuti dengan sesuatu yang diinginka/ diseangi sang anak. Contohnya, seorang anak boleh pergi bermain apabila dia telah selesai megerjakan PR nya. Untuk menerapkan teknik ini kita terlebih dahulu harus mengakses informasi mengenai kegiatan dan hal yang disukai oleh anak. Kegiatan yang disukai dapat dipilih untuk memperkuat prilaku anak.
2.      Teknik token ekonomi
Token ekonomi adalah sebuahteknik yang berasal dari karya teoritisi prilaku operan, B. F. Skinner. Skinner  memiliki pandangan bahwa konsekuensi mempertahanka prilaku adalah konsekuensi yang meningkatkan keungkina terjadinya sebuah prilaku. Token ekonomi adalah suatu bentuk reinforcement positif dimana seorang anak akan menerima token apabila mengerjakan sesuatu yang diinginkan. Setelah anak mengumpulkan token dalam jumlah  tertentu, erka dapat menukarkannya dengan sesuatu yang mereka sukai sesuai kesepakatan yang dicapai dengan si anak.
Dalam menerapkan teknik token ekonomi kita harus mengidentifikasi prilaku  yang ingi diubah. Misalnya, anak yang malas belajar, kita harus mengubahnya menjadi rajin belajar.  Langkah selanjutnya adalah membuat aturan. Sangat peting utuk semua partisipan ( anak, orag tua, guru dll ) untuk mengetahui aturan memberikan token, dan banyaknya token yang diberikan kepada prilaku tertentu. Langkah selanjutnya adalah menetapka ‘harga” dengan memilih beberapa banyak token yang harus dimiliki anak sebelum menukarkannya dengan reinforcer. Sebelum menerapkan sistemnya, terlebih dahulu kita harus menentukan keakuratan harganya. Jika anak tidak mampu mengumpulkan cukup token untuk melakukan pembelian, maka mereka akan kehilangan motivasi untuk belajar. Sebaiknya kita menyusun suatu menu reward dengan nilai token yang sangat beragam.
3.      Teknik kontrak prilaku.
Kontrak prlaku didasarkan pada operan kondisionong, penguatan positif dan juga dapat digunakan sebagai variasi dari teknik prinsip premack. Kontrak prilaku dalah kesepakatan antara dua orang individu ( konselor, klien) dimana kedua orang sepakat terlibat dalam suatu rilaku target. Setiap orang yang terlibat harus menegosiasikan syaratnya sehingga kontraknya dapat diterima oleh semua orang. Prinsip ini bisa diterapka pada anak yang tidak memiliki motivasi belajar, karena dengan adanya suatu kontrak prilaku, anak tersebut harus belajar, kalau tidak mereka akan menerima kosekuensinya sesuai dengan kesepakatan kontrak. Salah satu keunggulan teknik ontrak prilaku adalah melatih anak untuk tetap konsisten, sehingga anak dapat  bertanggung  jawab kepada orang tua ataupun gurunya sesuai kesepakatan.

 


BAB     III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Motivasi belajar yang rendah adalah tidak adanya dorongan dalam diri siswa dalam melakukan kegiatan belajar dan tidak adanya arahan perbuatan belajar serta proses yang memberi semangat sehingga tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan kurangnya motivasi belajar siswa maka kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di dalam kelas tidak akan berhasil atu tidak akan mencapai tujuan yang diharapkan.
2.      Motivasi belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa factor baik itu dari luar maupun dari dalam. Factor- factor tersbut antara lain: orang tua, guru, kondisi social ekonomi, jenis  dan apek- aspek psikis
3.      Pendekatan behavior adalah salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebuuhan hidup melalui proses belajar agar orang bisa bertindak dan bertingkah laku lebih efektif dan efisien.
4.      Dalam pendekatan behavior ada beberapa teknik yang bisa digunakan dalam menigkatkan motivasi belajar anak seperti teknik prinsip premack, kontrak prilaku, token ekonomi,



DAFTAR PUSTAKA

Erford B. T. 2016. 40 Teknik yang Harus Diketahui Setiao Konselor. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Mukhoirah. 2014. Konseling Behavioral dalam Mengatasi Siswa dengan Motivasi Belajar Rendah. Jurnal Kependidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Tahun 2014.
Sardiman. 2006.  Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Tohirin. 2012. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

No comments:

Post a Comment