Pages

Monday, December 18, 2017

pandangan behavioris tentang belajar



A.    Asumsi- asumsi dasar behaviorisme
Orang cenderung mempelajari dan menunjukan prilaku yang menghasilkan, setidaknya di mata mereka, konsekuensi- konsekuensi yang diinginkan. Dan lebih umum lagi, prilaku orang sebagian besarnya merupakan hasil dari pengalaman mereka dengan stimulus- stimulus lingkungan. Asumsi- asumsi dasar pandangan behaviorisme tentang belajar yaitu:
1.      Prilaku seorang sebagian besar merupakan hasil dari pengalaman meraka dengan stimulus- stimulus lingkungan. Banyak behavioris percaya, bahwa seorang bayi lahir bagaikan sebuah “kertas kosong” (tabula rasa) tampa kecendrungan bawaan untuk berprilaku dengan cara tertentu. Selama bertahun- tahun, lingkungan lingkungan akan “menulis” kertas kosong ini, membentuk secara perlahan, atau mengkondisikan individu menjadi seorang yang memiliki karasteristik dan cara berprilaku yang unik.
2.      Belajar dapat digambarkan dalam kerangka asosiasi diantara peristiwa- peristiwa yang dapat diamati- yaitu, asosiasi antara stimulus dan respon.
3.      Belajar melibatkan perubahan prilaku.
4.      Belajar cenderung  terjadi ketika stimulus dan respon muncul dala waktu yang berdekatan. Supaya hubungan stimulus dan respon berkembang, kejadian- kejadian tertentu harus terjadi bersamaan dengan kejadian- kejadian lain. Ketika dua kejadian muncul pada waktu yang kurang lebih sama, dapat dikatakan ada kontiguitas kejadian tersebut.
5.      Banyak spesies hewan, termasuk manusia, belajar dengan cara- carayang sama. Behaviors terkenal dengan eksperimen mereka terhadap mereka terhadap hewan seperti tikus dan merpati. Mereka berasumsi bahwa banyak spesies meiliki proses pembelajaran yang sama
B.     Kondisioning klasik
Pengkondisian klasik pertama kali dijelaskan oleh ivan pavlov (1927) seorang fisiolog rusia, tentang air liur anjing. Dalam istilah umum pengkondisian klasik berlangsung sebagai berikut:
a.       Dimulai dari stimulus respon yang terjadi sebelumnya- dengan kata lain, sebuah asosiasi stimulus- respon tak terkendali.
b.      Kondisioning terjadi ketika sebuah stimulus netral- yang tidak menimbulkan respon apapun- disajikan segera sebelum stimulus tak terkondisi.
c.       Segera setelahnya, stimulus yang baru itu juga menimbulkan sebuah respon, biasanya sangat mirip dengan respon yang tidak terkendali.
1.    Kondisioning klasik tentang respon- respon emosional
Kondisioning klasik terkadang dapat menjelaskan mengapa manusia dan organisme lainnya memiliki reaksi emosional terhadap stimulus tertentu. Dalam beberapa kasus, reaksi emosional terhadap sebuah lagu mungkin berkaitan dengan mood yang ada pada lagu itu. Tetapi pada kasus lain, sebuah lagu mungkin dapat membantu anda memiliki perasaan tertentu karena dikaitkan dengan peristiwa- peristiwa tertentu. Kondisioning klasik seringkali digunakan utuk menjelaskan mengapa orang terkadang menampilkan respon secara emosional terhadap apa yang dianggap orang lain sebagai stimulus netral.
2.    Fenomena umum dalam pengkondisian klasik
Dua fenomena umum dalam pengkondisian klasik yaitu: generalisasi dan ekstinsi.
a.       Generalisasi, ketika orang mempelajari respon terkondisi terhadap suatu stimulus baru, respon yang sama terhadap stimulus yan serupa juga bisa terjadi, fenomena ini diebut generalisasi.
b.      Ekstinsi, Pavlov menemukan bahwa respon terkondisi tidak bertahan selamanya. Dengan memasangkan cahaya dan daging supaya seekor anjing mengeluarkan air liur. Tetapi selanjutunya Pvlov menyalakan cahaya tampa dilanjutkan dengan pemberian daging, air lur semakin berkurang. Dan akhirnya tidak mengeluarkan air liur sama sekali. Ketika stimulus terkondisi muncul berulang- ulang tampa diikuti stimulus tak terkondisi, respon terkondisi akan berkurang dan pada akhirnya menghilang, dengan kata lain ekstinsi terjadi.
C.     Kondisioning operant
Prinsip dasar pengkondisian operant adalah sebuah respon diperkuat- dan mungkin karenanya akan terjadi lagi- ketika respon tersebut diikuti oleh sebuah stimulus yang menguatkan. Ketika prilaku- prilaku diikuti dengan konsekuensi yang diinginkan, maka prilaku tersebut cenderung meningkat frekuensinya.
1.      Membandingkan pengkondisian klasik dengan pengkondisian operan
a.       Cara kondisioning terjadi. Kondisionioning klasik diakibatka oleh pemasangan dua stimulus, salah satunya stimulus tak terkondisi yang mulanya menimbulkan sebuah respon yang sama atau serupa. Sebaliknya, kondisioning operan terjadi ketika sebuah respon diikuti dengan sebuah stimulus.
b.      Hakikat respons. Dalam kondisioning klasik, respon terjadi tampa direncanakan. Ketika sebuah simulus terkodisi hadir, responnya hampir menyusul secara otomatis.
2.      Penguatan di kelas
Penguat adalah setiap konsekuensi yang meningkatkan frekuensi prilaku tertentu, terlepas dari apakah orang- orang menganggap konsekuensi itu menyenangkan atau tidak.
a.       Penguat primer dan penguat sekunder. Beberapa penguat seperti sebatang permen merupakan penguat- penguat primer, karena berhubungan dengan kebutuhan biologis dasar. Bila anda menginginkan uang untuk membimbing teman- teman sekelasmu, itu berarti penguatan sekunder. Penguat sekunder adalahtidak memuaskan setiap kebutuhan fisiologistetapi menjadi pengut seiring waktu melalui asosiasinya dengan penguat- penguat yang lain.
b.      Penguatan positif dan penguatan negatif. Setiap kalistimulus khusus dihadirkan setelah sebuah prilaku dan prilaku tersebut meningkat hasilnya,maka penguatan psitif telah terjadi. Penguatan negatif yaitu menyebabkan meningkatkan suatu prilaku melalui penghilangan suatu stimulus (biasanya stimulus tidak menyenangkan).
3.      Menggunakan penguatan scara efektif
Beberapa strategi yang selaras dengan prnsip behavior abtara lain :
a.       Tentukan prilaku yang diinginkan di awal pelajaran.
b.      Identifikasi konsekuensi- konsekuensi yang benar- benar memberikan penguatan bagi masing- masing siswa.
c.       Gunakan penguat- penguat ekstrinsik hanya ketika prilaku yang diinginkan tidak akan terjadi tampa penguat- penguat tersebut.
d.      Buatlah kontigensi respon-konsekuensi eksplisit
e.       Jika memberi penguatan di depan umum, pastikan semua siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkannya
f.       Saaat berusaha mendorong prilaku yang sama pada sekelompok siswa, pertimbangkan menggunakan kontigensi kelompok.
g.      Jalanka penguatan secara konsisten sampai prilaku yang diinginkan terjadi sebagaimana yang diharapkan
h.      Ketika suatuprilaku sudah terbentuk dengan baik, hentikan siswa dari penguatan ekstrinsik, tetapi secara perlahan- lahan.
i.        monitor kemajuan siswa
4.      Membentuk prilaku baru
Melalui pembentukan, kita dapat membantu siswa mendapatkan berbagai keterampilan akademik yang kompleks dan prilaku kelas seiring waktu. Misalnya, anak kelas 1 diajarkan mencetak angka- angka di atas kertas bergaris lebar, mereka dipuji karena hruf yang ditulis bagus bentuknyadan tidak melewati garis atas dan garis bawah. Ketika anak- anak ke jenjang yang lebih tinggipara gurusemakin rewel tentang bagaimana bagusnya huruf dibentuk. Ketika keteramplan yang rumit terlibat, tidak masuk akal mengharapkan siswa membuat perubahan yang dramatis dalam waktu semalam. Jika kita ingin mereka menampilkan prilaku yang sama sekali berbeda dar apa yang mereka lakukan sekarang, pertama- tama kia melakukan penguatan pada satu langkah kecilke arah yang benar, lalu memberikan penguatan kecil selanjutnya sampai prilaku yang diinginkan terjadi.
5.      Pengaruh stimulus- stimulus dengan respon- respon antiseden
Stimulus- stimulus dan respon- respon yang mendahului sebuah prilaku yang diinginkan(stimulus anteseden dan respon anteseden) juga memberikan pengaruh.di sini kita dapat melihat beberapa fenomena antara lain:
a.       Pemberian isyarat, siswa mungkin berprilaku pantas ketika mereka diberikan tanda pengingat(tanda, isyarat) atau peringatan bahwa perilaku tertentu diinginkan.
b.      Setting kejadian, dalam pemberian isyarat, kita menggunakan stimulus spesifik sebagai peringatan terhadap siswa supaya berprilaku dengan cara tertentu. Pendekatan alternatifnya yaitu memebentuk lingkungan-sebuah setting kejadian-yang mudah mendorong prilaku yang diinginkan.
c.       Generalisasi begitu anak- anak telah mempelajari bahwa sebuah respon mungkin akan diberikan penguatandalam satu rangkaian keaadaan, mereka mudah membuat respon yang sama dalam suau yang sama.
d.      Diskriminasi, terkadang orang belajar bahwa respon diberikan penguatan hanya ketika stimulus tertentu ada.
D.    Mengurangi dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan
1.      ekstinksi
Salah satu cara mengurangi frekuensi prilaku yang tidak sesuai adalah memastikan prilaku tersebut tidak diberi penguatan. Namun ada dua poin yang perlu diperhatikan tentang ekstinsi dalam kondisioning operan. Pertama, begitu penguatan berhenti, respon yang sebelumnya diberikan penguatan tidak selalu berkurang dengan segera. Kedua,kita terkadang dapat menemukan situasi dimana sebuah respon tidak penah menurun ketika kita menghilangkan suatu penguat.
2.      Memberikan isyarat(cueing) terhadap prilaku yang tidak sesuai
Sebagaimana kita dapat menggunakan isyarat untuk mengingatkan para siswa tentang apa yang seharusnya mereka lakukan, kita juga harus memberi isyarat tentang apa yang seharusnya tidak mereka lakukan.
3.      Memberikan penguatan kepada peilaku yang bertentangan
Ketika usaha kita menghilangka prilaku yang tidak sesuai atau memberikan isyarat gagal, penguatan terhadap satu atau lebih prilaku yang bertentangan dengan prilaku yang bertentangan sering kali efektif
4.      Hukuman
Beberapa prilaku yang tidak sesuai memerlukan penanganan segera, misalnya prilaku yang dapat mengganggu pembelajaran di kelas atau mencerminkan rsa tidak hormat terhadap hak keselamatan orang lain, maka diperlukan suatu hukuman.
1.      Hukuman yang efektif
a.       Teguran verbal
b.      Biaya respon
c.       Konsekuensi logis
d.      Time out
e.       Skor di sekolah
2.      Bentuk hubungan yang tidak efektif
a.       Hukuman fisik
b.      Hukuman psikologis
c.       Tugas ekstra kelas
d.      Skors tidak boleh sekolah
3.      Menggunakan hukuman secara manusiawi
Berikut beberapa petunjuk menggunakan hukuman secara efekti dan manusiawi:
a.       Piliah konsekuensi yang benar- benar menghukum tampa terlalu keras.
b.      Beritahukan sebelumnya kepada para siswa bahwa prilaku tertentu aka dihukum, da jelaskan bagaiman prilaku itu akan dihukum
c.       Laksanakan konsekuensiyang sudah ditentukan sebelumnya.
d.      Jalankan ukuman secara privat, khususnya ketika siswa lain tidak menyadari kesalahannya.
e.       Jelaskan megapa prilaku yang dihukum itu tidak dapat diterima
f.       Jalankan hukuman dalam suasana yang hangat dan mendukung
g.      Ajarkan dan berikan penguatan pada prilaku alternatif yang diinginkan
h.      Monitor keefektifan hukuman

No comments:

Post a Comment