A.
Proses
konstruktif dalam pembelajaran dan memori
1.
Kontruksi
dalam proses penyimpanan
Masing-
masing orang seringkali mengontruksikan makna yang berbeda terhadap stimuli
atau peristiwa yang sama, sebagian karena masing- masing pengalaman dan
pengetahuan yang sebelumnya yang unik terhadap sesuatu tersebut.
Lebih
lanjut orang sering menafsirkan apa yang mereka lihat dan mereka dengar
berdasarkan apa yang mereka harapkan dengar dan lihat. Pengetahuan dan harapan
(ekspektasi) sebelumnya secara khusus mungkin memengaruhi proses belajar ketika
informasi baru bersifat ambigu.
Di
kelas siswa mengontruksi makna dan tafsiran mereka yang unik disetiap materi
pelajaran yang mereka ikuti. Contoh misalnya, proses membaca umumnya sangat
konstruktif: siswa menggabungkan pengetahuan sebelumnya dengan gagasan yang
mereka dapatkan dari buku pelajaran kemudian mereka menarik kesimpulan yang
logis- setidaknya bagi diri mereka sendiri.
2.
Kontruksi
dalam proses pemanggilan
Terkadang
kita mengulagi hanya bagian- bagian tertentu saja dari bagian yang telah kita
pelajari. Dalam situasi semacam itu, kita bisa saja mengontruksi memori kita
terhadap suatu peristiwa dengan mengombinasikan hal- hal menarik yang dapat
kita panggil itu dengan pengetahuan dan asumsi kita mengenai dunia.
Ketika
orang mengisi kesenjangan dalam apa yang telah mereka panggil berdasarkan apa
yang kelihatannya logis, mereka sering membuat kesalahan-suatu gejala yang
sering disebut kesalahan konstruksipara siswa pun sering kali mengalami
kesalahan rekontruksi, dengan mengumpulakan semua informasi yang dapat kita
ingat dengan cara- cara yang mungkin kita susah pahami. Jika detil- deti yang
sulit kita sampaikan secara logis, kita harus memastikan bahwa siswa
mempelajarinya dengan cukup baik untuk dapat dipanggil kembali dengan mudah
dari memori jangka panjng.
Teori-
teori yang berfokus bagaimana orang, sebagai individu, mengontruksikan makna
dari suatu peristiwa secara kolektif dikenal sebagai rekontruksiivisme
indiviual.
3.
Kontruksi
pengetahuan sebagai proses sosial
Terkadang
orang bekerja sama untuk mengontruksikan
makna dan pengetahuan. Dengan saling membagi pemahaman , anda secara bersama
mengontruksi pemahaman yang lebih baik tentang materi dibandingkan apabila
dikontruksi secara individual. persfektif ini dikenal dengan sebutan
konrukktivisme sosial ini berfokus pada usaha kolektif untuk memberikan makna
pada dunia.
Para
ahli psikolog dan pendidik semakin mengakui mamfaat proses kerja sama para
siswa dalam rangka mengontruksi makna dari setiap materi pelajaran di kelas,
misalnya untuk mengeksplorasi, menjelaskan, mendiskusikan, dan mendebat topik-
topik tertentu baik dalam kelompok kecil maupun melibatkan seluruh anggota
kelas. Dengan bekerja sama, siswa pada dasarnya terlibat dalam pendistribusian
kognisi. Mereka membagi tugas belajar ke banyak siswa dan dapat menarik
pengetahuan dan gagasan yang beraneka ragam.
Selain
mamfaat kognitif, diskusi materi kelompok mengenai mata pelajaran memiliki
mamfaat sosial damotivasional. Mendiskusikan suatu topikdengan teman sekelas
dapat membantu siswa mwndapatkan keteramilan interpersonal yang lebih efektif
B.
Mengontruksikan
pengetahuan
Dalam
proses mengontruksi pengetahuan, entah individu maupun sosial, siswa membuat
banyak hubungan/keterkaitan antara berbagai hal spesifik yang mereka alami dan
pelajari. Disini kita akan melihat beberapa cara dimana siswa mengorganisasikan
berbagai hal yang mereka pelajari: konsep, skema, skrip, teori dan pandangan
dunia.
1.
Konsep
Kosep
adalah caramengelompokan dan mengkategorikan secara mental berbagai objek suatu
peristiwa yang mirip dalam hal tertentu. Konsep merupakan inti peikiran kita,
beberapa ahli memandangnya sebagai unit pikiran yang terkecil. Konsep
meningkatkan pemikiran kita dalam bberapa cara salah satunya yaitu konsep
mengurangi kompleksivitas dunia: mengklasifiksikan objek dan peristiw yang sama
membuat kehidupan lebih sederhana dan lebih mudah dipahami.
Keterkaitan
antar konsep, bagian terpenting dalam mempelajari konsep adalah mempelajari
keterkaitannya dengan konsep lain.
Hakikat
konsep
a.
Konsep
sebagai serangkaian fitur yang dimiliki bersama, terkadang mempelajari suatu
konsep melbatkan pembelajaran berbagai atribut spesifik atau fitur- fitur yang
mencirikan anggota suatu konsep. Ketika pertama kali mempelajari konsep, anak-
anak dapat terkecoh dengan fitur- fitur yang sebenarnya hanya berkorelasi pada
konsep dan bukan fitur perdefisi suatu konsep, terutama apabila fitur tersebut terlihat
lebih nyata daripada fitur yang sebenarnya.
b.
Konsep
sebagai prototope, sebuah prototipe biasanya didasarkan pada contoh konsep yang
paling sering dijumpai siswa. Begitu para siswa embentuk prototipe sebuah
konsep, biasanya mereka membandingkan objek dan peristiwa yang baru dengan
prototipe tersebut dalam rangka menetukan keanggotaan dan kebukananngotaan
suatu konsep.
c.
Konsep
sebagai rangkaian ekslempar, pada beberapa kasus mengetahui suatu konsep
umumnya mungkin tergantung pada mengetahui berbagai contoh atau ekslamper dari
konsep tersebut. Ekslamper memberikan siswa pemahaman mengenai variabiltas yang
mudah mereka lihat pada setiap kategori objek dan peristiwa.
2.
Skema
dan skrip
Skema
adalah serangkaian fakta yang terorganisasi secara ketat terkait suatu objek
atau fenomena. Skema dapat memberian gagasan tentangapa yang benar mengenai
objek atau perisiwa. Setiap orang memiliki skema tidak hanya mengenai objek tetapi
juga mengenai peristiwa.
Ketika
suatu skema melibatkan sesuatu yang berurutan dan dapat diramalkan tentang
peristiwa yang terkait dengan aktivutas tertentu , kita terkadang menyebutnya
dengan skrip.
3.
Teori
Pada
skala yanglebih besar, manusia mengontruksikan pemahaman dan sistem kepercayaan
yang umum atau teori, mengenai berbagai aspek dari dunia ini. Teori yang
dikemukakan mencakup banyak konsep dan kealing keterkaitannya. Teori siswa
mengenai dunia membantu mereka mengorganisasikan dan memahami pengalaman
pribadi, materi ajar dikelas dan informasi baru yang lain.
4.
Pandangan
dunia
Pandangan
dunia adalah serangkaian kepercayaan dan asumsi yang umum tentang realitas-
bagaimanakah nyatanya dan bagaimanakah seharusnya realitas itu- yang
memengaruhi pemahaman siswa tentang beraneka ragan fenomena.
Pandangan
dunia seringkali merupakan bagia integral dari pemikiran sehari- hari
sedemikian rupa sehingga siswa menerima apa adanya dan biasanya tidak telalu
sadar akan keberadaannya. Bagaimanapun juga pandangan dunia memengaruhi
pandangan siswa terhadap peristiwa terkini dan materi ajar sekolah.
No comments:
Post a Comment