Pages

Sunday, December 10, 2017

Kontruksi pengetahuan



A.    Proses konstruktif dalam pembelajaran dan memori
1.      Kontruksi dalam proses penyimpanan
Masing- masing orang seringkali mengontruksikan makna yang berbeda terhadap stimuli atau peristiwa yang sama, sebagian karena masing- masing pengalaman dan pengetahuan yang sebelumnya yang unik terhadap sesuatu tersebut.
Lebih lanjut orang sering menafsirkan apa yang mereka lihat dan mereka dengar berdasarkan apa yang mereka harapkan dengar dan lihat. Pengetahuan dan harapan (ekspektasi) sebelumnya secara khusus mungkin memengaruhi proses belajar ketika informasi baru bersifat ambigu.
Di kelas siswa mengontruksi makna dan tafsiran mereka yang unik disetiap materi pelajaran yang mereka ikuti. Contoh misalnya, proses membaca umumnya sangat konstruktif: siswa menggabungkan pengetahuan sebelumnya dengan gagasan yang mereka dapatkan dari buku pelajaran kemudian mereka menarik kesimpulan yang logis- setidaknya bagi diri mereka sendiri.
2.      Kontruksi dalam proses pemanggilan
Terkadang kita mengulagi hanya bagian- bagian tertentu saja dari bagian yang telah kita pelajari. Dalam situasi semacam itu, kita bisa saja mengontruksi memori kita terhadap suatu peristiwa dengan mengombinasikan hal- hal menarik yang dapat kita panggil itu dengan pengetahuan dan asumsi kita mengenai dunia.
Ketika orang mengisi kesenjangan dalam apa yang telah mereka panggil berdasarkan apa yang kelihatannya logis, mereka sering membuat kesalahan-suatu gejala yang sering disebut kesalahan konstruksipara siswa pun sering kali mengalami kesalahan rekontruksi, dengan mengumpulakan semua informasi yang dapat kita ingat dengan cara- cara yang mungkin kita susah pahami. Jika detil- deti yang sulit kita sampaikan secara logis, kita harus memastikan bahwa siswa mempelajarinya dengan cukup baik untuk dapat dipanggil kembali dengan mudah dari memori jangka panjng.
Teori- teori yang berfokus bagaimana orang, sebagai individu, mengontruksikan makna dari suatu peristiwa secara kolektif dikenal sebagai rekontruksiivisme indiviual.
3.      Kontruksi pengetahuan sebagai proses sosial
Terkadang orang bekerja sama  untuk mengontruksikan makna dan pengetahuan. Dengan saling membagi pemahaman , anda secara bersama mengontruksi pemahaman yang lebih baik tentang materi dibandingkan apabila dikontruksi secara individual. persfektif ini dikenal dengan sebutan konrukktivisme sosial ini berfokus pada usaha kolektif untuk memberikan makna pada dunia.
Para ahli psikolog dan pendidik semakin mengakui mamfaat proses kerja sama para siswa dalam rangka mengontruksi makna dari setiap materi pelajaran di kelas, misalnya untuk mengeksplorasi, menjelaskan, mendiskusikan, dan mendebat topik- topik tertentu baik dalam kelompok kecil maupun melibatkan seluruh anggota kelas. Dengan bekerja sama, siswa pada dasarnya terlibat dalam pendistribusian kognisi. Mereka membagi tugas belajar ke banyak siswa dan dapat menarik pengetahuan dan gagasan yang beraneka ragam.
Selain mamfaat kognitif, diskusi materi kelompok mengenai mata pelajaran memiliki mamfaat sosial damotivasional. Mendiskusikan suatu topikdengan teman sekelas dapat membantu siswa mwndapatkan keteramilan interpersonal yang lebih efektif
B.     Mengontruksikan pengetahuan
Dalam proses mengontruksi pengetahuan, entah individu maupun sosial, siswa membuat banyak hubungan/keterkaitan antara berbagai hal spesifik yang mereka alami dan pelajari. Disini kita akan melihat beberapa cara dimana siswa mengorganisasikan berbagai hal yang mereka pelajari: konsep, skema, skrip, teori dan pandangan dunia.
1.      Konsep
Kosep adalah caramengelompokan dan mengkategorikan secara mental berbagai objek suatu peristiwa yang mirip dalam hal tertentu. Konsep merupakan inti peikiran kita, beberapa ahli memandangnya sebagai unit pikiran yang terkecil. Konsep meningkatkan pemikiran kita dalam bberapa cara salah satunya yaitu konsep mengurangi kompleksivitas dunia: mengklasifiksikan objek dan peristiw yang sama membuat kehidupan lebih sederhana dan lebih mudah dipahami.
Keterkaitan antar konsep, bagian terpenting dalam mempelajari konsep adalah mempelajari keterkaitannya dengan konsep lain.
Hakikat konsep
a.       Konsep sebagai serangkaian fitur yang dimiliki bersama, terkadang mempelajari suatu konsep melbatkan pembelajaran berbagai atribut spesifik atau fitur- fitur yang mencirikan anggota suatu konsep. Ketika pertama kali mempelajari konsep, anak- anak dapat terkecoh dengan fitur- fitur yang sebenarnya hanya berkorelasi pada konsep dan bukan fitur perdefisi suatu konsep, terutama apabila fitur tersebut terlihat lebih nyata daripada fitur yang sebenarnya.
b.      Konsep sebagai prototope, sebuah prototipe biasanya didasarkan pada contoh konsep yang paling sering dijumpai siswa. Begitu para siswa embentuk prototipe sebuah konsep, biasanya mereka membandingkan objek dan peristiwa yang baru dengan prototipe tersebut dalam rangka menetukan keanggotaan dan kebukananngotaan suatu konsep.
c.       Konsep sebagai rangkaian ekslempar, pada beberapa kasus mengetahui suatu konsep umumnya mungkin tergantung pada mengetahui berbagai contoh atau ekslamper dari konsep tersebut. Ekslamper memberikan siswa pemahaman mengenai variabiltas yang mudah mereka lihat pada setiap kategori objek dan peristiwa.
2.      Skema dan skrip
Skema adalah serangkaian fakta yang terorganisasi secara ketat terkait suatu objek atau fenomena. Skema dapat memberian gagasan tentangapa yang benar mengenai objek atau perisiwa. Setiap orang memiliki skema tidak hanya mengenai objek tetapi juga mengenai peristiwa.
Ketika suatu skema melibatkan sesuatu yang berurutan dan dapat diramalkan tentang peristiwa yang terkait dengan aktivutas tertentu , kita terkadang menyebutnya dengan skrip.
3.      Teori
Pada skala yanglebih besar, manusia mengontruksikan pemahaman dan sistem kepercayaan yang umum atau teori, mengenai berbagai aspek dari dunia ini. Teori yang dikemukakan mencakup banyak konsep dan kealing keterkaitannya. Teori siswa mengenai dunia membantu mereka mengorganisasikan dan memahami pengalaman pribadi, materi ajar dikelas dan informasi baru yang lain.
4.      Pandangan dunia
Pandangan dunia adalah serangkaian kepercayaan dan asumsi yang umum tentang realitas- bagaimanakah nyatanya dan bagaimanakah seharusnya realitas itu- yang memengaruhi pemahaman siswa tentang beraneka ragan fenomena.
Pandangan dunia seringkali merupakan bagia integral dari pemikiran sehari- hari sedemikian rupa sehingga siswa menerima apa adanya dan biasanya tidak telalu sadar akan keberadaannya. Bagaimanapun juga pandangan dunia memengaruhi pandangan siswa terhadap peristiwa terkini dan materi ajar sekolah.

No comments:

Post a Comment