A.
Mendorong
kontruksi pengetahuan yang efektif
Belajar
melibatkan proses- proses kognitif tidak dengan sendirinya membut kita mampu
mendorong proses- proses tersebut secara efektif. Para ahli psikologi kognitif
percaya bahwa ada banyak cara membantu siswa mengontruksi basis pengetahuan
yang kaya dan lebih canggih.
1.
Memberikan
kesempatan untuk melekukan eksperimen
Melalui interaksi dan uji coba dengan
objek- objek di sekitar mereka, siswa dapat menemukan dengan dekat beberapa
karasteristik dan prinsip dunia.
2.
Menyajikan
persfektif ahli
Pengetahuan dikontruksi tidak hanya
orang- orang yang bekerja sama secara mandiri tapi juga oleh orang- orang yang
bekerja bersama selama bertahun- tahun atau bahkan berabad- abad untuk memahami
suatu fenomena yang rumit.meskipun bermamfaat meminta siswa menemukan prinsip
dasar bagi mereka sendiri, kita juga perlu memberikan keempatan kepada mereka
untuk mendengar dan membaca gagasan para ahli- konsep, prinsip, teori, yang telah dikembangkan di masyarakat untuk
menjelaskan aspek fisik maupun psikologis manusia. Siswa paling mungkin
mengontruksi pandangan yang produktif tentang dunia saat mereka merasakan mamfaat
dari mengalami dunia secara langsung dan dari mempelajari bagaimana orang-
orang sebelum mereka menafsirkan pengalaman dunia.
3.
Menekankan
penekanan konseptual
Semakinsering siswa membentuk kesaling
terkaitan dalam sebuah memori yang mereka pelajari maka semakin baik mereka
mengorganisasikannya- semakin mudah mereka mengingat dan menerangkannya di
kemudian hari. Ketika siswa membentuk banyak hubungan logis diantara berbagai
konsep dan prinsip spesifik yang terkait dengan sebuah topik mereka mendapatkan
pemahaman konseptual.
4.
Mendorong
dialog di kelas
Umumnya siswa mampu mengingat berbaga
gagasan dan pengetahuan baru secara lebih efektif dan lebih akurat ketika
membahas masalah ini secara bersama-sama. Karenanya, banyak ahli kontemporer
merekomendasikan agar diskusi kelas menjadi bagian yang rutin dari kegiatan
belajar mengajar.
5.
Menugaskan
aktivitas-aktivitas yang otentik
Beberapa ahli kognitif kontemporer bahwa
siswa dapat mengontruksi basis pengetahuan yang lebih terintegrasi dan berguna
apabila mereka mempelajari suatu topik dalam konteks aktivitas- aktivitas
otentik yaitu aktivitas yang mirip dengan apa yang mereka jumpai di dunia di
luar sekolah.
6.
Merancah
kontruksi teori
Anak- anak mulai membentuk teori
mengenai beragam aspek dari dunia mereka jauh sebelum mereka sekolah. Satu
tujuan penting setiap kurikulum akademis membantu siswa mengerjakan dan
merevisi teori- teori yang telah dikembangkan para ahli selama puluhan tahun
melakukan penelitian sistematis. Para ahli psikologi dan pendidik telah
menyarankan berbagai saran untuk mengontruksi teori- teori yang produktif.
a.
Dorong
dan jawablah pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” dari siswa
b.
Mintalah
siswa membuat prediksi mengenai apa yang terjadi dalam eksperimen yang
dilakukan di kelas.
c.
Gunakan
analogi yang membantu siswa konsep dan gagasan baru dengan pengetahuan awal
mereka.
d.
Sajikan
model fisik atau simbolik yang menerangkan fitur- fitur utama sebuah entitas
atau fenomena
e.
Pilihlah
penjelasan yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa
f.
Mintalah
siswa merefleksikan dan membuat keterkaitan/hubungan diantara berbagai hal yang
mereka pelajari
7.
Membentuk
komunitas pembelajar
Mengingat mamfaat dialog dan bentuk-
bentuk interaksi siswa yag lain serta tujuan meningkatkan kontruksi makna
secara sosial, beberapa ahli psikologi dan pendidik menyarankan agar kita
membentuk suatu komunitas pembelajar yaitu kelas di mana kita dan siswa secara
konsisten saling membantu dalam belajar.
B.
Tantangan
perubahan konseptual
Jaka
siwa tidak mendaptkan pemahaman yang menyeluruh dan akurat, kita mungkin perlu
mengabil langkah aktif untuk mendorong perubahan konseptual, suatu prose di
mana kepercayaan atau teori yang ada direvisi dan diperiksa ulang secara
signifikan sedemikian rupa sehingga informasi baru yang belum jelas dapat lebih
mudah dipahami dan dijelaskan.para ahli telah menawarkan beberapa penjelasan
yang mungkin mengapa miskonsepsi siswa dapat resisten terhadap perubahan:
a.
Kebanyakan
anak remaja memiliki bias informasi. Siswa di semua usia cenderung mencari
informasi dan mengkonfirmasinya kepercayaan yang mereka anut dan mengabaikan
bukti yang berlawanan dengan kepercayaan itu- suatu fenomena yang disebut bias
konfirmasi.
b.
Miskonsepsi
siswa mungkin saja sesuai dengan pengalaman mereka sehari-hari. Teori ilmiah
seringkali agak abstrak dan berlawanan dengan realitas sehari- hari.
c.
Beberapa
kepercayaan siswa terintegarasi ke dalam teori- teori yang kohesif dengan
banyak kesalinghubungan diantara berbagai gagasan.
d.
Siswa
bisa jadi gagal memperhatiakan ketidaksesuaian antara informasi baru dengan
kepercayaan yang mereka miliki.
e.
Siswa
memiliki ikatan emosional dan personal dengan kepercayaan yang mereka anut.
Mendorong perubahan konseptual
Mendorong perubahan konsepual merupakan
suatu tatangan.tidak saja kita harus membantu mereka mmbantu mereka mempelajari
hal- hal baru , tetapi juga kita harus membantu melepaskan kepercayaan lama
yang tidak sesuai, setidaknya mencegah mereka tetap terikat pada kepercayaan
itu. Berikut beberapa strategi yang lebih umum dan memilii dampak. Kita bisa
saja mengguanakan beberapa pendekatan .
a.
Identifikasi
miskonsepsi sebelum pembelajaran dimulai. Kita sebaiknya memulai suatu topik
baru dengan membuat suatu taksiran tentang kepercayaan yang sedang dianut siswa
terkait tersebut.
b.
Carilah
dan kemudian kembangkan butir- butir kebenaran dalam setiap pemahaman yang
dimiliki siswa.
c.
Yakinkan
siswa bahwa kepercayaan yang mereka anut perlu direvisi. Kita dapat lebih
efektif mendorong perubahan konseptual ketika kita menunjukan siswa bagaimana
informasi bertentangan dengan apa yang mereka yakini dengan kita
mendemonstrasikan mengapa konsep mereka dianggap tidak akudet.
d.
Berikan
motivasi kepada siswa untuk mempelajari penjelasan yang benar. Siswa paling
mungkin terlibat dalam pembelajaran yang bermakna dan menjalani perubahan
konseptual ketika mereka termotivasi untuk melakukannya.
e.
Saat
menunjukan kesalahan dan kelemahan dalam penalaran dan kepercayaan siswa, tetap
jaga perasaan harga diri mereka.
f.
Pantau
apa yang siswa katakan atau tulis untuk memastikan apakah miskonsepsinyan masih
dipertahankan atau tidak.
C.
Keberagaman
dalam proses kontruksi
Kita
telah mengeksplorasi alasan perlunya siswa menafsirkan topik pembelajaran
dengan cara yang unik dan kreatif. Masing- masing siswa memiliki basis
pengetahuan yang berbeda- beda termasuk konsep skema, skrip, teori, maupun
pandangan duniayang berbeda- yang akan
mereka gunakan untuk memahami situasi baru.
Dalam
beberapa kasus materi pelajaran bisa bertentangan dengan kepercayaan para siswa
yang paling fundamental dan akhirnya dengan pemahaman yang mendasar tentang
siapa mereka sebagai individu.
Saat
membantu siswa mengontruksi pemahaman yang bermakna tentang dunia di sekitar
mereka, kita dapat meningkatkan kesadaran multikultural dengan mendorong
kontruksi yang beragam terhadap situasi yang sama.
Komunitas
pembelajar secara bermamfaat sevara khusus ketika siswa kita berasal dari
berbagai latar belakang yang berbeda. Komunitas semacam ini menghargai
kontribusi semua siswa, dengan memamfaatkan latar belakang individu, persfektif
budaya, dan kemampuan unik setiap siswa untuk meningkatkan prestasi kelas secara keseluruhan.
No comments:
Post a Comment