Pages

Thursday, December 14, 2017

Kontruksi pengetahuan(2)



A.    Mendorong kontruksi pengetahuan yang efektif
Belajar melibatkan proses- proses kognitif tidak dengan sendirinya membut kita mampu mendorong proses- proses tersebut secara efektif. Para ahli psikologi kognitif percaya bahwa ada banyak cara membantu siswa mengontruksi basis pengetahuan yang kaya dan lebih canggih.
1.      Memberikan kesempatan untuk melekukan eksperimen
Melalui interaksi dan uji coba dengan objek- objek di sekitar mereka, siswa dapat menemukan dengan dekat beberapa karasteristik dan prinsip dunia.
2.      Menyajikan persfektif ahli
Pengetahuan dikontruksi tidak hanya orang- orang yang bekerja sama secara mandiri tapi juga oleh orang- orang yang bekerja bersama selama bertahun- tahun atau bahkan berabad- abad untuk memahami suatu fenomena yang rumit.meskipun bermamfaat meminta siswa menemukan prinsip dasar bagi mereka sendiri, kita juga perlu memberikan keempatan kepada mereka untuk mendengar dan membaca gagasan para ahli- konsep, prinsip, teori,  yang telah dikembangkan di masyarakat untuk menjelaskan aspek fisik maupun psikologis manusia. Siswa paling mungkin mengontruksi pandangan yang produktif tentang dunia saat mereka merasakan mamfaat dari mengalami dunia secara langsung dan dari mempelajari bagaimana orang- orang sebelum mereka menafsirkan pengalaman dunia.
3.      Menekankan penekanan konseptual
Semakinsering siswa membentuk kesaling terkaitan dalam sebuah memori yang mereka pelajari maka semakin baik mereka mengorganisasikannya- semakin mudah mereka mengingat dan menerangkannya di kemudian hari. Ketika siswa membentuk banyak hubungan logis diantara berbagai konsep dan prinsip spesifik yang terkait dengan sebuah topik mereka mendapatkan pemahaman konseptual.
4.      Mendorong dialog di kelas
Umumnya siswa mampu mengingat berbaga gagasan dan pengetahuan baru secara lebih efektif dan lebih akurat ketika membahas masalah ini secara bersama-sama. Karenanya, banyak ahli kontemporer merekomendasikan agar diskusi kelas menjadi bagian yang rutin dari kegiatan belajar mengajar.
5.      Menugaskan aktivitas-aktivitas yang otentik
Beberapa ahli kognitif kontemporer bahwa siswa dapat mengontruksi basis pengetahuan yang lebih terintegrasi dan berguna apabila mereka mempelajari suatu topik dalam konteks aktivitas- aktivitas otentik yaitu aktivitas yang mirip dengan apa yang mereka jumpai di dunia di luar sekolah.
6.      Merancah kontruksi teori
Anak- anak mulai membentuk teori mengenai beragam aspek dari dunia mereka jauh sebelum mereka sekolah. Satu tujuan penting setiap kurikulum akademis membantu siswa mengerjakan dan merevisi teori- teori yang telah dikembangkan para ahli selama puluhan tahun melakukan penelitian sistematis. Para ahli psikologi dan pendidik telah menyarankan berbagai saran untuk mengontruksi teori- teori yang produktif.
a.       Dorong dan jawablah pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” dari siswa
b.      Mintalah siswa membuat prediksi mengenai apa yang terjadi dalam eksperimen yang dilakukan di kelas.
c.       Gunakan analogi yang membantu siswa konsep dan gagasan baru dengan pengetahuan awal mereka.
d.      Sajikan model fisik atau simbolik yang menerangkan fitur- fitur utama sebuah entitas atau fenomena
e.       Pilihlah penjelasan yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa
f.       Mintalah siswa merefleksikan dan membuat keterkaitan/hubungan diantara berbagai hal yang mereka pelajari
7.      Membentuk komunitas pembelajar
Mengingat mamfaat dialog dan bentuk- bentuk interaksi siswa yag lain serta tujuan meningkatkan kontruksi makna secara sosial, beberapa ahli psikologi dan pendidik menyarankan agar kita membentuk suatu komunitas pembelajar yaitu kelas di mana kita dan siswa secara konsisten saling membantu dalam belajar.
B.     Tantangan perubahan konseptual
Jaka siwa tidak mendaptkan pemahaman yang menyeluruh dan akurat, kita mungkin perlu mengabil langkah aktif untuk mendorong perubahan konseptual, suatu prose di mana kepercayaan atau teori yang ada direvisi dan diperiksa ulang secara signifikan sedemikian rupa sehingga informasi baru yang belum jelas dapat lebih mudah dipahami dan dijelaskan.para ahli telah menawarkan beberapa penjelasan yang mungkin mengapa miskonsepsi siswa dapat resisten terhadap perubahan:
a.       Kebanyakan anak remaja memiliki bias informasi. Siswa di semua usia cenderung mencari informasi dan mengkonfirmasinya kepercayaan yang mereka anut dan mengabaikan bukti yang berlawanan dengan kepercayaan itu- suatu fenomena yang disebut bias konfirmasi.
b.      Miskonsepsi siswa mungkin saja sesuai dengan pengalaman mereka sehari-hari. Teori ilmiah seringkali agak abstrak dan berlawanan dengan realitas sehari- hari.
c.       Beberapa kepercayaan siswa terintegarasi ke dalam teori- teori yang kohesif dengan banyak kesalinghubungan diantara berbagai gagasan.
d.      Siswa bisa jadi gagal memperhatiakan ketidaksesuaian antara informasi baru dengan kepercayaan yang mereka miliki.
e.       Siswa memiliki ikatan emosional dan personal dengan kepercayaan yang mereka anut.
Mendorong perubahan konseptual
Mendorong perubahan konsepual merupakan suatu tatangan.tidak saja kita harus membantu mereka mmbantu mereka mempelajari hal- hal baru , tetapi juga kita harus membantu melepaskan kepercayaan lama yang tidak sesuai, setidaknya mencegah mereka tetap terikat pada kepercayaan itu. Berikut beberapa strategi yang lebih umum dan memilii dampak. Kita bisa saja mengguanakan beberapa pendekatan .
a.       Identifikasi miskonsepsi sebelum pembelajaran dimulai. Kita sebaiknya memulai suatu topik baru dengan membuat suatu taksiran tentang kepercayaan yang sedang dianut siswa terkait tersebut.
b.      Carilah dan kemudian kembangkan butir- butir kebenaran dalam setiap pemahaman yang dimiliki siswa.
c.       Yakinkan siswa bahwa kepercayaan yang mereka anut perlu direvisi. Kita dapat lebih efektif mendorong perubahan konseptual ketika kita menunjukan siswa bagaimana informasi bertentangan dengan apa yang mereka yakini dengan kita mendemonstrasikan mengapa konsep mereka dianggap tidak akudet.
d.      Berikan motivasi kepada siswa untuk mempelajari penjelasan yang benar. Siswa paling mungkin terlibat dalam pembelajaran yang bermakna dan menjalani perubahan konseptual ketika mereka termotivasi untuk melakukannya.
e.       Saat menunjukan kesalahan dan kelemahan dalam penalaran dan kepercayaan siswa, tetap jaga perasaan harga diri mereka.
f.       Pantau apa yang siswa katakan atau tulis untuk memastikan apakah miskonsepsinyan masih dipertahankan atau tidak.
C.     Keberagaman dalam proses kontruksi
Kita telah mengeksplorasi alasan perlunya siswa menafsirkan topik pembelajaran dengan cara yang unik dan kreatif. Masing- masing siswa memiliki basis pengetahuan yang berbeda- beda termasuk konsep skema, skrip, teori, maupun pandangan duniayang berbeda-  yang akan mereka gunakan untuk memahami situasi baru.
Dalam beberapa kasus materi pelajaran bisa bertentangan dengan kepercayaan para siswa yang paling fundamental dan akhirnya dengan pemahaman yang mendasar tentang siapa mereka sebagai individu.
Saat membantu siswa mengontruksi pemahaman yang bermakna tentang dunia di sekitar mereka, kita dapat meningkatkan kesadaran multikultural dengan mendorong kontruksi yang beragam terhadap situasi yang sama.
Komunitas pembelajar secara bermamfaat sevara khusus ketika siswa kita berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Komunitas semacam ini menghargai kontribusi semua siswa, dengan memamfaatkan latar belakang individu, persfektif budaya, dan kemampuan unik setiap siswa untuk meningkatkan prestasi  kelas secara keseluruhan.

No comments:

Post a Comment