Pages

Thursday, December 21, 2017

pandangan behavioris tentang belajar (2)



A.    Menyikapi prilaku sulit dalam kelas
Prinsip- prinsip behaviorisme dapat membantu dalam mengatasi masalah prilaku yang sulit dan kronis. Disini ada tiga pendekatan yang saling terkait khusus yaitu penerapan analisis prilaku, analisis fungsional, dan dukungan prilaku positif.
1.      Penerapan analisis prilaku
Sekelompok prosedur yang secara sistematis menerapkan prinsip- prinsip behavioris dalam mengubah prilaku dikenal sebagai penerapan analisis perilaku. Penerapan analisis prilaku didasarkan pada asumsi bahwa: (a)masalah prilaku disebabkan oleh kondisi lingkungan masa lalu dan sekarang. (b)memodifikasi lingkungan siswa saat ini akan mendorong respon- respon yang lebih produktif.
2.      Analisis fungsional
ABA tradisional umumnya berfokus pada mengubah kontigensi respon- penguatan untuk menghasilkan prilaku yang lebih sesuai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir,bebepa ahli mengemukakan bahwa kita juga harus memperhatikan maksud atau fungsi yang dituju oleh prilaku siswa yang tidak sesuai. Secara khusus, mereka merekomendasikan untuk mengumpulkan data mengenai kondisi spesifik yang cenderung membuat siswa berprilaku tidak sesuaidan juga konsekuensi yang mengikutiprilaku tidak sesuai tersebut. Pendekatan ini disebut analisis fungsional.
3.      Dukungan prilaku positif
Mendorong psoses itu lebih jauh lagi: setelah mengidentifikasi maksud yang mungkin dituju oleh prilaku yang tdak sesuai, seorang guru- atau satu tim gurudan beberapa profesional lain-mengembangkan dan melaksanakan suatu rencana untuk mendorong prilaku yang sesuai. Secara khusus dukungan prilaku positif dapat dilakukan strategi berikut:
a.       Ajarkan prilaku yang dapat melayani maksud maksud yang sama seperti, dan karenanya dapat menggantikan, prilaku yang tidak sesuai.
b.      Modifikasi lingkungan kelas untuk meminimalisasi kondisi- kondisi yang bisa memicu prilaku yang tidak sesuai.
c.       Bangunlah kebiasaan sehari- hari yang dapat diramalkan sebagai cara memanilisasi kecemasan dan membuat siswa merasa senang dan aman.
d.      Berikan siswa kesempatan membuat pilihan, dengan cara ini siswa dapat sering mndapatkan hasil- hasil yang diinginkan tampa terjerumus dalam prilaku yang tidak sesuai.
e.       Buatlah penyesuaian dalam kurikulum, PBM,  atau keduanya untuk memaksimalkan kesuksesan akademik
f.       Monitor frekuensi munculnya berbagai prilaku untuk menentukan apakah intervensi yang dilakukan berjalan dengan baik atau sebaliknyamemerlukan modifikasi.
B.     Keberagaman dalam prilaku siswa dan reaksi siswa terhadap berbagai konsekuensi
Ketika mengambil persfektif behavioris , kita menyadari bahwa setiap siswa membwa pengalaman dan lingkungannya sendiri yang unik kedalam ruang kelas, dan keberagaman seperti ini tidak diragukan lagi merupakan alasan utama adanya pola berbeda pilaku yang kita lihat. Pertama siswa yang telah diberi penguatan ataupun hukuman oleh orang tuanya, saudara kangdungnya, guru sebelumnya, ataupun teman sebayanyauntuk macam- macam prilaku yang berbeda.beberapa siswa mungkin telah diberi penguatan karena menyelesaikan tugas dengan teliti dan mendalam, sementara siswa lain telah diberi penguatan karena telah menyelesaikan tugas dengan cepat meski tidak rapi.
C.     Kekuatan dan kelemahan teori behaviorisme
Teknik- teknik behaioris terutama membantu kita ketika menyikapi ,masalah- masalah kronis di kelas. Meski memakan waktu pendekatan seperti penerapan analisis prilaku, analisis fungsional, dan dukungan prilaku positif seringkali efektif ketika pendekatan lain gagal. Penguatan yang diberikan teknik behaviris seringkali berhasil memperbaiki tingkat prestasi siswa tetapi kita juga harus waspada pada kekurangannya:
a.       Usaha- usaha mengubah prilaku mengabaikan faktor- faktor kognitif yang potensial mengganggu proses belajar. Ketika kelaemahan –kelemahan kognitif (seprti pengetahuan awal yang minim) menghambat kemampuan siswa untuk mendapatkan keterampilantertentu penguatan saja tidak cukup untuk menghasilkan perbaikan yang signifikan.
b.      Penguatan yang diberikan karena penyelesaian tugas- tugas akdemis bisa mendorong siswa untuk melakukannya alih- alih dengan bagus. Umumnya penguatan yang diberikan hanya karena telah menyelesaikan tugas tertentu dengan cepat daripada belajar sesuatu dari kegiatan itu.
c.       Penguaatan ekstrinsik terhadap sebuah aktivitas dianggap siswa sudah menguatkan secara ekstrinsik malah dapat mengurangi kesenangan siswa terhadap aktivitas tertentu. Siswa seringkali terlibat dalam prilaku karena adanya penguat intrinsik yang dibawa oleh kegiatan tersebut.

No comments:

Post a Comment