A. Menyikapi prilaku sulit dalam kelas
Prinsip- prinsip behaviorisme dapat membantu dalam
mengatasi masalah prilaku yang sulit dan kronis. Disini ada tiga pendekatan
yang saling terkait khusus yaitu penerapan analisis prilaku, analisis
fungsional, dan dukungan prilaku positif.
1.
Penerapan
analisis prilaku
Sekelompok
prosedur yang secara sistematis menerapkan prinsip- prinsip behavioris dalam
mengubah prilaku dikenal sebagai penerapan analisis perilaku. Penerapan
analisis prilaku didasarkan pada asumsi bahwa: (a)masalah prilaku disebabkan
oleh kondisi lingkungan masa lalu dan sekarang. (b)memodifikasi lingkungan
siswa saat ini akan mendorong respon- respon yang lebih produktif.
2.
Analisis
fungsional
ABA tradisional
umumnya berfokus pada mengubah kontigensi respon- penguatan untuk menghasilkan
prilaku yang lebih sesuai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir,bebepa ahli
mengemukakan bahwa kita juga harus memperhatikan maksud atau fungsi yang dituju
oleh prilaku siswa yang tidak sesuai. Secara khusus, mereka merekomendasikan
untuk mengumpulkan data mengenai kondisi spesifik yang cenderung membuat siswa
berprilaku tidak sesuaidan juga konsekuensi yang mengikutiprilaku tidak sesuai
tersebut. Pendekatan ini disebut analisis fungsional.
3.
Dukungan
prilaku positif
Mendorong psoses
itu lebih jauh lagi: setelah mengidentifikasi maksud yang mungkin dituju oleh
prilaku yang tdak sesuai, seorang guru- atau satu tim gurudan beberapa
profesional lain-mengembangkan dan melaksanakan suatu rencana untuk mendorong
prilaku yang sesuai. Secara khusus dukungan prilaku positif dapat dilakukan
strategi berikut:
a. Ajarkan prilaku yang dapat melayani
maksud maksud yang sama seperti, dan karenanya dapat menggantikan, prilaku yang
tidak sesuai.
b. Modifikasi lingkungan kelas untuk
meminimalisasi kondisi- kondisi yang bisa memicu prilaku yang tidak sesuai.
c. Bangunlah kebiasaan sehari- hari yang
dapat diramalkan sebagai cara memanilisasi kecemasan dan membuat siswa merasa
senang dan aman.
d. Berikan siswa kesempatan membuat
pilihan, dengan cara ini siswa dapat sering mndapatkan hasil- hasil yang
diinginkan tampa terjerumus dalam prilaku yang tidak sesuai.
e. Buatlah penyesuaian dalam kurikulum,
PBM, atau keduanya untuk memaksimalkan
kesuksesan akademik
f. Monitor frekuensi munculnya berbagai
prilaku untuk menentukan apakah intervensi yang dilakukan berjalan dengan baik
atau sebaliknyamemerlukan modifikasi.
B. Keberagaman dalam prilaku siswa dan
reaksi siswa terhadap berbagai konsekuensi
Ketika mengambil persfektif behavioris , kita
menyadari bahwa setiap siswa membwa pengalaman dan lingkungannya sendiri yang
unik kedalam ruang kelas, dan keberagaman seperti ini tidak diragukan lagi
merupakan alasan utama adanya pola berbeda pilaku yang kita lihat. Pertama
siswa yang telah diberi penguatan ataupun hukuman oleh orang tuanya, saudara
kangdungnya, guru sebelumnya, ataupun teman sebayanyauntuk macam- macam prilaku
yang berbeda.beberapa siswa mungkin telah diberi penguatan karena menyelesaikan
tugas dengan teliti dan mendalam, sementara siswa lain telah diberi penguatan
karena telah menyelesaikan tugas dengan cepat meski tidak rapi.
C. Kekuatan dan kelemahan teori behaviorisme
Teknik- teknik behaioris terutama membantu kita
ketika menyikapi ,masalah- masalah kronis di kelas. Meski memakan waktu
pendekatan seperti penerapan analisis prilaku, analisis fungsional, dan
dukungan prilaku positif seringkali efektif ketika pendekatan lain gagal.
Penguatan yang diberikan teknik behaviris seringkali berhasil memperbaiki
tingkat prestasi siswa tetapi kita juga harus waspada pada kekurangannya:
a.
Usaha-
usaha mengubah prilaku mengabaikan faktor- faktor kognitif yang potensial
mengganggu proses belajar. Ketika kelaemahan –kelemahan kognitif (seprti
pengetahuan awal yang minim) menghambat kemampuan siswa untuk mendapatkan
keterampilantertentu penguatan saja tidak cukup untuk menghasilkan perbaikan
yang signifikan.
b.
Penguatan
yang diberikan karena penyelesaian tugas- tugas akdemis bisa mendorong siswa
untuk melakukannya alih- alih dengan bagus. Umumnya penguatan yang diberikan
hanya karena telah menyelesaikan tugas tertentu dengan cepat daripada belajar
sesuatu dari kegiatan itu.
c.
Penguaatan
ekstrinsik terhadap sebuah aktivitas dianggap siswa sudah menguatkan secara
ekstrinsik malah dapat mengurangi kesenangan siswa terhadap aktivitas tertentu.
Siswa seringkali terlibat dalam prilaku karena adanya penguat intrinsik yang
dibawa oleh kegiatan tersebut.
No comments:
Post a Comment