Pages

Tuesday, October 10, 2017

makalah: perkembangan afektif



BAB I
 PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah
Memahami perkembangan aspek afektif peserta didik merupakan salah satu faktor untuk mencapai hasil yang baik dalam proses pendidikan, tidak hanya dalam hasil akademik tapi juga dalam hal pembentukan moral.
 Afektif mencakup emosi atau perasaan yang dimiliki oleh setiap peserta didik, yang juga perlu mendapatkan perhatian dalam pembelajaran. Pemahaman guru tentang perkembangan afektif siswa sangat penting untuk keberhasilan belajarnya. Setiap peserta didik memiliki emosi yang berbeda, sehingga rangsangan yang diberikan juga harus berbeda.
Reaksi emosional dapat berkembang menjadi kebiasaan, sehingga dapat mempengaruhi perkembangan nilai, moral dan sikap individu ataupun peserta didik.
2. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian emosi?
2.      Bagaimana karakteristik perkembangan emosi?
3.      Bagaimana ciri-ciri perkembanagan emosional remaja?
4.      Faktor-faktor apa yang mempengaruhi perkembangan emosi?
5.      Apa hubungan antara emosi tingkah laku serta pengaruh emosi terhadap tingkah laku?
6.      Bagaimana metode belajar penunjang perkembangan emosi?
7.      Bagaimana upaya pengembangan emosi remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan?
3. Tujuan Makalah
1.      Untuk mengetahi pengertian emosi.
2.      Untuk mengetahui karakteristik perkembangan emosi.
3.      Untuk mengetahui ciri-ciri perkembangan emosional remaja.
4.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi..
5.      Untuk mengetahui hubungan antara emosi tingkah laku serta pengaruh emosi terhadap tingkah laku..
6.      Untuk mengetahui metode belajar penunjang perkembangan emosi
7.      Untuk mengetahui upaya pengembangan emosi remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan.                        

BAB II
 PEMBAHASAN

A. Perkembangan Afektif
Afektif menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah berkenaan dengan rasa takut atau cinta, mempengaruhi keadaan, perasaan dan emosi, mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan. Perbuatan atau perilaku yang disertai perasaan tertentu disebut warna afektif.Jadi perkembangan afektif remaja sangat dipengaruhi oleh perkembangan emosi individual. Afektif remaja kadang-kadang kuat, lemah atau tidak jelas. Pengaruh dari warna afektif akan berakibat perasaan menjadi lebih mendalam yang disebut emosi (Sarlito, 1982).
Afektif mencakup emosi atau perasaan yang dimiliki oleh setiap remaja, yang juga perlu mendapatkan perhatian.Pemahaman tentang perkembangan afektif remaja sangat penting untuk keberhasilan belajarnya.
1. Pengertian Emosi
Rasa dan perasaan merupakan salah satu potensi yang khusus dimiliki oleh manusia. Emosi merupakan gejala perasaan disertai dengan perubahan atau perilaku fisik seperti marah yang ditunjukan dengan teriakan suara keras atau tingkah laku yang lain (Sitti Hartina: 2008).
Emosi adalah perasaan-perasaan yang menjadi lebih mendalam, lebih luas dan lebih terarah (Sarlito, 1982:59). Berbagai macam emosi contohnya: gambira, cinta, marah, takut, cemas dan benci.
Pengertian lain dari emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik. Pada saat terjadi emosi seringkali terjadi perubahan-perubahan pada fisik antara lain berupa:
  • Peredaran darah menjadi bertambah cepat apabila sedang marah.
  • Denyut jantung bertambah cepat apabila merasa terkejut.
  • Bernapas panjang dan kaku apabila merasa kecewa.
  • Pupil mata membesar apabila sedang marah.
  • Liur mengering kaku saat merasa takut dan tegang.
  • Bulu roma berdiri kaku saat merasa takut.
  • Mengalami gangguan pencernaan atau diare saat merasa tegang.
  • Otot akan menegang atau bergetar (tremora) apabila dalam kondisi tegang atau ketakutan.
  • Komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif.
2. Karakteristik Perkembangan Emosi
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “ badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan keterangan emosional sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Perbedaannya terletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya, dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka
a. Cinta atau kasih sayang
Faktor penting dalam kehidupan remaja adalah kafasitasnya untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Seorang remaja akan mengalami “jatuh cinta” didalam masa kehidupannya setelah mencapai belasan tahun (Garrison, 1956:483). Para remaja yang berontak secara terang-terangan dan nakal besar kemungkinan disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai yang tidak disadari.
b. Gembira
Rasa gembira akan dialami apabila segala sesuatunya berjalan dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai sahabat atau diterima cintanya.
c. Kemarahan dan permusuh
 Rasa marah merupakan gejala yang penting diantara emosi-emosi yang memainkan peranan yang menonjol dalam perkembangan kepribadian. Melalui rasa marahnya seseorang mempertajam tuntutannya sendiri dan pemilikan minatnya sendiri.
d. Ketakutan dan kecemasan
Menjelang anak mencapai masa remaja, dia telah mengalami serangkaian perkembangan panjang yang mempengaruhi pasang surut berkenaan dengan rasa ketakutannya. Banyak ketakutan-ketakutan baru muncul karena adanya kecemasan-kecemasan dalam perkembangan remaja. Tidak ada seorang pun yang menerjunkan dirinya dalam kehidupan, dapat hidup tanpa rasa takut.
3. Ciri-ciri emosional remaja
Ciri ciri emosional remaja Menurut Biehler (1972) yang dikelompokan menjadi beberapa periode yaitu antara lain:
A)    Ciri-ciri emosional remaja berusia 12-15 tahun :
·         Pada usia ini seorang anak lebih banyak murung dan tidak dapat diterka.
·         Bertingkah laku kasar
·         Ledakan kemarahan
·         Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri
·         Mulai mengamati orang tua dan guru-guru secara lebih objektif
B)    Ciri-ciri emosional remaja berusia 15-18 tahun :
·      Pemberontakan remaja merupakan pernyataan-pernyataan atau ekspresi perubahan yang universal dari masa kanak-kanak ke dewasa.
·     Karena bertambahnya kebebasan mereka, banyak remaja yang mengalami konflik dengan orang tua mereka.
·      Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi
Pada dasarnya, pola perkembangan emosi remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak, hanya saja penyebab muncul dan memuncaknya emosi yang berbeda. Pada masa anak-anak, ledakan lebih banyak disebabkan olen hal-hal yang bersifat materil kongkret, sedangkan pada masa remaja penyebabnya bersifat abstrak, misalnya menjadi marah jika dikatakan sebagai kanak-kanak, merasa diperlakukan tidak adil atau ditolak cintanya. Pelampiasan emosi pada remaja tidak lagi dalam bentuk yang meledak-ledak dan tidak terkendali seperti menangis keras, tetapi lebih terlihat dalam gerakan tubuh yang ekspresif, tidak mau bicara atau melakukan kritik terhadap objek penyebab. Perilaku semacam ini disebabkan oleh mulai adanya pengendalian emosi yang dilakukan remaja dan biasanya  tercapai kematangan emosional pada akhir masa remaja (Sitti Hartina:2008).
Sejumlah penelitian tentang emosi anak menunjukan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar (Hurlock, 1960:266).
5.  Hubungan Antara Emosi Tingkah Laku serta Pengaruh Emosi Terhadap Tingkah Laku
Rasa takut atau marah, kegembiraan yang berlebihan, kecemasan-kecemasan, dan kekuatiran-kekuatiran dapat menyebabkan menurunnya kegiatan sistem pencernaan dan kadang-kadang menyebabkan sembelit. Satu-satunya cara penyembuhan yang efektif adalah menghilangkan penyebab dari tegangan emosi tersebut. Gangguan emosi juga dapat menjadi penyebab kesulitan berbicara. Reaksi kita terhadap orang lain juga merangsang timbulnya emosi. Berbeda orang yang kita temui maka berbeda pula respon yang kita berikan, sehingga merangsang munculnya emosi yang berbeda pula.
Seorang siswa tidak senang pada gurunya bukan karena pribadi guru, tapi mungkin karena situasi belajar di kelas. Jika siswa pernah merasa malu karena gagal dalam menghafal di muka kelas, pada kesempatan berikutnya ia mungkin takut untuk berpartisifasi atau bahkan memilih untuk bolos.
Reaksi setiap pelajar tidak sama, maka rangsangan yang diberikan juga harus berbeda sesuai dengan kondisi anak. Rangsangan yang diberikan juga akan menghasilkan perasaan yang akan berpengaruh terhadap hasil belajar.
6. Metode belajar penunjang perkembangan emosi
1. Belajar dengan coba-coba
 Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya, dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan.
2. Belajar dengan cara meniru
Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati.
3. Belajar dengan dengan cara mempersamakan diri
Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati.
4. Belajar melalui pengkondisian.
Dilakukan dengan cara asosiasi, setelah melewati masa kanak-kanak. Penggunaan metode ini semakin terbatas pada perkembangan masa suka dan tidak suka.
5. Pelatihan atau belajar dibawah bimbingan pengawasan terbatas pada asfek  reaksi
Anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika suatu emosi terangsang. Banyak kondisi-kondisi sehubungan dengan pertumbuhan anak sendiri dalam hubungannya dengan orang lain yang membawa perubahan-perubahan untuk menyatakan emosi-emosinya ketika ia merasa remaja. Bertambahnya pengetahuan dan pemanfaatan media massa atau keseluruhan latar belakang pengalaman berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosional ini.
7 Upaya Pengembangan Emosi Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
            Dalam kaitannya dengan emosi remaja awal yang cenderung banyak melamun dan sulit diterka, maka satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh guru adalah konsisten dalam pengelolaan kelas dan memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh tanggung jawab. Guru-guru dapat membantu mereka yang bertingkah laku kasar dengan jalan mencapai keberhasilan dalam pekerjaan/tugas-tugas sekolah sehingga mereka menjadi anak yang lebih tenang dan lebih mudah ditanganni. Salah satu cara yang mendasar adalah dengan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri.
            Apabila ada ledakan-ledakan kemarahan sebaiknya kita memperkecil ledakan emosi tersebut, misalnya dengan jalan tindakan yang bijaksana dan lemah lembut, mengubah pokok pembicaraan, dan memulai aktivitas baru.Jika kemarahan siswa tidak juga reda, guru dapat minta bantuan kepada guru bimbingan konseling.
            Reaksi yang seringkali terjadi pada diri remaja terhadap temuan-temuan mereka bahwa kesalahan orang dewasa merupakan tantangan terhadap otoritas orang dewasa. Guru-guru di SMA terperangkap oleh kemampuan siswa yang baru dalam menentukan/menemukan dan mengangkat ke permukaan tentang kelemahan-kelemahan orang dewasa. Bertambahnya kebebasan dari remaja seperti menambah “bahan bakar terhadap api”, bila banyak dari keinginan-keinginannya langsung dihambat/dirintangi oleh guru-guru dan orang tua. Satu cara untuk mengatasinya adalah meminta siswa mendiskusikan atau menulis tentang perasaan-perasaan mereka yang negatif. Ingat bahwa meskipun penting bagi guru untuk memahami alasan-alasan pemberontakannya adalah sama pentingnya bagi remaja untuk belajar mengendalikan dirinya, karena hidup di masyarakat adalah juga menghormati dan menghargai keterbatasan-keterbatasan, dan kebebasan individual.
            Untuk menunjukkan kematangan mereka, para remaja terutama laki-laki seringkali merasa terdorong untuk menentang otoritas orang dewasa. Sebagai seorang guru di SMA, seseorang ada dalam posisi otoritas, dan karena itu mungkin gurulah yang merupakan target dari pemberontakaan dan rasa permusuhan mereka. Tampaknya cara yang paling baik untuk menghadapi pemberontakan para remaja  adalah;
·  Pertama, mencoba untuk mengerti mereka.
·  Kedua, melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk membantu siswa berhasil berprestasi dalam bidang yang diajarkan. Satu cara untuk membuktikan kedewasaan seseorang ialah terampil dalam melakukan segala sesuatu. Jika guru menyadari sebagai seorang yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut pada diri siswa walaupun dalam cara-cara yang amat terbatas, pemberontakan dan sikap permusuhan dalam kelas dapat agak dikurangi.
            Remaja ada dalam keadaan yang membingungkan dan serba sulit. Dalam banyak hal ia tergantung pada orang tua dalam keperluan-keperluan fisik dan merasa mempunyai kewajiban kepada pengasuhan yang mereka berikan dari saat dia tidak mampu memelihara dirinya sendiri. Namun ia harus lepas dari orang tuanya agar ia menjadi orang dewasa yang mandiri, sehingga adanya konflik dengan orang tua tidak dapat dihindari. Apabila terjadi situasi seperti ini, para remaja mungkin merasa bersalah, yang selanjutnya dapat memperbesar jurang antara dia dengan orang tuanya.
            Seorang siswa yang merasa bingung terhadap rantai peristiwa tersebut mungkin merasa perlu menceritakan penderitaannya, termasuk mungkin rahasia-rahasia pribadinya kepada orang lain. Karena itu seorang guru diminta untuk berfungsi dan bersikap seperti pendengar yang simpatik. Siswa sekolah menengah atas banyak mengisi pikirannya dengan hal-hal yang lain daripada tugas-tugas sekolah. Misalnya, konflik dengan orang tua dan apa yang akan dilakukan dalam hidupnya setelah ia tamat sekolah. Salah satu persoalan yang paling membingungkan yang dihadapi oleh guru ialah bagaimana menghadapi siswa yang hanya mempunyai kecakapan terbatas tetapi yang selalu “memimpikan kejayaan”. Seorang guru tidak ingin membuat mereka putus asa, tetapi jika ia mendorong siswa tersebut untuk berusaha apa yang tidak mungkin dilakukan
            Barangkali penyelesaian yang paling baik adalah mendorong anak itu untuk berusaha namun tetap mengingatkan dia untuk menghadapi kenyataan-kenyataan. Menyarankan tujuan-tujuan pengganti yang mungkin merupakan alternative cara membuat ambisi-ambisinya yang lebih realistik dan mudah mengatasinya apabila mengalami kegagalan. Kebanyakan para siswa di sekolah menengah atas menginginkan menjadi pegawai negeri/ pegawai kantor meskipun kenyataannya hanya sebagian kecil saja yang mencapai tujuan tersebut. Apabila ia menganggap remeh pekerjaan sebgai buruh, ini berarti bahwa anak-anak muda yang memasuki dunia kerja tersebut mungkin tidak mempunyai atau sedikit mempunyai kebanggaan terhadap apa yang mereka kerjakan.
            Jadi, terdapat berbagai cara mengendalikan lingkungan untuk menjamin pembinaan pola emosi yang diinginkan dan menghilangkan reaksi-reaksi emosional yang tidak diinginkan sebelum berkembang menjadi kebiasaan yang tertanam kuat.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Afektif menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah berkenaan dengan rasa takut atau cinta, mempengaruhi keadaan, perasaan dan emosi, mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan.Perbuatan atau perilaku yang disertai perasaan tertentu disebut warna afektif. Jadi perkembangan afektif remaja sangat dipengaruhi oleh perkembangan emosi individual.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi emosi antara lain: tingkat  kematangan dan faktor belajar serta kondisi-kondisi kehidupan atau kultur. Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pendidikan, kita sebagai pendidik dapat melakukan beberapa upaya dalam pengembangan emosi remaja.
SARAN
Sebaiknya,tenaga pendidik  melakukan pembinaan pola emosi terhadap remaja untuk menghilangkan reaksi-reaksi emosional yang tidak diinginkan.

No comments:

Post a Comment