BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Seperti yang telah kita ketahui
bersama bahwa terdapat banyak ragam gaya komunikasi di Indonesia maupun diluar
indonesia. Setiap penjuru nusantara memiliki gaya komunikasi dengan ciri
khas tersendiri. Hal ini terjadi karena bahasa daerah turut mempengaruhi
perkembangan gaya komunikasi Indonesia.
Keberagaman gaya komunikasi ini
tidak hanya terjadi di Indonesia akan tetapi terjadi secara global. Sebagai
contoh bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional memiliki banyak gaya.
Misalnya, United Kingdom style, United States style, Australian style dan
lain-lain.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa definisi gaya komunikasi?
2. Jelaskan macam macam gaya komunikasi?
3. Apa saja faktor yang mempengaruhi gaya
komunikasi?
4. Jelaskan hambatan dalam gaya komunikasi?
C.
Tujuan penulisan
1.
Untuk mengetahui definisi gaya
komunikasi
2.
Untuk mengetahui macam- macam gaya
komunikasi
3.
Untuk mengetahui faktor yang
mempengaruhi gaya komunikasi
4.
Untuk mengetahui hambatan dalam gaya
komunikasi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Gaya Komunikasi
Gaya komunikasi (communication
style) didefinisikan sebagai seperangkat perilaku antarpribadi yang
terspesialisasi digunakan dalam suatu situasi tertentu. Gaya komunikasi merupakan cara
penyampaian dan gaya bahasa yang baik. Gaya yang dimaksud sendiri dapat bertipe
verbal yang berupa kata-kata atau nonverbal berupa vokalik, bahasa badan,
penggunaan waktu, dan penggunaan ruang dan jarak.
Gaya komunikasi dipengaruhi
oleh gaya bahasa yang dihasilkan oleh banyaknya budaya, setiap budaya punya
gaya bahasanya tersendiri hal ini yang menimbulkan adanya perbedaan dalam gaya
komunikasi, kita ambil contoh [1][1]”rampung”
sunda lain dengan rampung jawa. “atos” sunda tidak sama dengan “atos” jawa.
“bujang”sunda berbeda dengan “bujang” sumatra. “jangan” indonesia beda dengan
“jangan” jawa. Selain itu Gaya komunikasi juga dipengaruhi
oleh situasi,bukan kepada tipe seseorang, gaya komunikasi bukan tergantung pada
tipe seseorang melainkan kepada situasi yang dihadapi. Setiap orang akan
menggunakan gaya komunikasi yang berbeda-beda ketika mereka sedang gembira,
sedih, marah, tertarik, atau bosan. Begitu juga dengan seseorang yang berbicara
dengan sahabat baiknya, orang yang baru dikenal dan dengan anak-anak akan
berbicara dengan gaya yang berbeda. Selain itu gaya yang digunakan dipengaruhi
oleh banyak faktor, gaya komunikasi adalah sesuatu yang dinamis dan sangat
sulit untuk ditebak. Sebagaimana budaya, gaya komunikasi adalah sesuatu yang
relatif.
B. Macam –Macam
Gaya Komunikasi
Pada ilmu komunikasi, komunikasi memiliki 6 gaya yaitu :
a.
The
Controlling Style
:
Gaya komunikasi yang bersifat mengendali ini, ditandai
dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur
perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Orang-orang yang menggunakan gaya
komunikasi ini dikenal dengan nama komunikator satu arah atau oneway
communicators. Pihak-pihak yang memakai Controlling Style of
communication ini, lebih memusatkan perhatian kepada pengiriman pesan
dibanding upaya mereka untuk berbagi pesan. Mereka tidak mempunyai rasa
ketertarikan dan perhatian pada umpan balik, kecuali jika umpan balik atau feedback
tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi mereka.
.
Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini dikenal dengan nama
komunikator satu arah atau one-way communications. Pesan-pesan yag berasal dari komunikator satu arah
ini, tidak berusaha ‘menjual’ gagasan agar dibicarakan bersama namun lebih pada
usaha menjelaskan kepada orang lain apa yang dilakukannya. The controlling
style of communication ini sering dipakai untuk mempersuasi orang lain supaya
bekerja dan bertindak secara efektif, dan pada umumnya dalam bentuk kritik.
Namun demkian, gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, tidak jarang
bernada negatif sehingga menyebabkan orang lain memberi respons atau tanggapan
yang negatif pula. Contohnya : tanggapanmu itu bagus tapi akan lebih bagus jika
kamu memberikan tanggapan yang masuk akal, pada contoh ini seorang komunikator
berusaha mengendalikan komunikan tetapi tidak berharap ada umpan balik atau
feedback dari komunikan. [2][2]yang penting
dalam komunikasi ialah bagaimana caranya agar suatu pesan yang disampaikan
komunikator itu menimbulkan dampak atau efek tertentu pada komunikan. Dampak
yang ditimbulkan dapat diklarifikasikan menurut kadarnya yakni dampak kognitif,
dampak afektif, dan dampak behavioral.
b.
The
Equalitarian Style
The equalitarian style of communication ini ditandai dengan berlakunya arus
penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yang bersifat dua
arah (two-way traffic of communication). Dalam gaya komunikasi ini,
tidak komunikasi dilakukan secara terbuka. Artinya, setiap anggota kelompok
dapat mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang demikian,
memungkinkan setiap anggota kelompok mencapai kesepakatan dan pengertian
bersama. Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi yang bermakna kesamaan
ini, adalah orang-orang yang memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta
kemampuan membina hubungan baik dengan orang lain baik dalam konteks pribadi
maupun dalam lingkup hubungan kerja.
The equalitarian style ini akan memudahkan tindak
komunikasi dalam kelompok, sebab gaya ini efektif dalam memelihara empati dan
kerja sama, khususnya dalam situasi untuk mengambil keputusan terhadap suatu
permasalahan yang kompleks. Gaya komunikasi ini pula yang menjamin
berlangsungnya tindak berbagi informasi di antara para anggota dalam suatu
kelompok. Contohnya yakni semua anggota organisasi mendiskusikan hal tentang
pelaksnaan kegiatan yang akan mereka adakan baik dari segi mekanisme, segi
perlengkapan, dan beberapa hal yang menyangkut kesiapan kegiatan tersebut. Dari jenis gaya komunikasi ini bisa
dikatakan komunikasi sangat berperan dalam politik, [3][3]dengan
komunikasi maka realitas, sejarah, tradisi politik, bisa
dihubungkan/dirangkaikan dari masa lalu untuk acuan masa depan.
c.
The
Structuring
Gaya komunikasi
yang terstruktur ini, memanfaat pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan
guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan
pekerjaan serta struktur dalam suatu kelompok. Pengirim pesan (sender)
lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk mempengaruhi orang lain dengan
jalan berbagi informasi tentang tujuan kelompok, jadwal kerja, aturan dan
prosedur yang berlaku dalam kelompok tesebut. Contoh: seorang dosen memberikan
petunjuk penulisan makalah agar mahasiwa bisa lebih mantap mengerjakan tugasnya
Stogdill dan
Coons dari The Bureau of Business Research of Ohio State University, menemukan
dimensi dari kepemimpinan yang efektif, yang mereka beri nama Struktur Inisiasi
atau Initiating Structure. Stogdill dan Coons menjelaskan mereka bahwa
pemrakarsai (initiator) struktur yang efisien adalah orang-orang yang mampu
merencanakan pesan-pesan verbal guna lebih memantapkan tujuan kelompok,
kerangka penugasan dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang
muncul.
d.
The
Dynamic Style
Gaya komunikasi yang dinamis ini memiliki kecenderungan
agresif, karena pengirim pesan atau sender memahami bahwa lingkungan
pekerjaanya berorientasi pada tindakan (action-oriented). The dynamic
style of communication ini sering dipakai oleh para juru kampanye ataupun
supervisor yang membawahi para wiranegara (salesmen).Tujuan utama gaya
komunikasi yang agresif ini adalah menstimulasi atau merangsang
pekerjaan/karyawan untuk bekerja dengan lebih cepat efektif digunakan dalam
mengatasi persoalan-persoalan yang bersifat kritis, namun dengan persyaratan
bahwa karyawan atau bawahan mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengatasi
masalah yang kritis tersebut. Contohnya seorang presiden menghimbau agar semua
menteri kabinet agar lebih disiplin dan tepat waktu bekerja, [4][4]tanpa adanya himbauan dari seorang
pemimpin mungkin wajah dunia tidak seperti yang kita lihat sepert sekarang ini,
oleh karena itu dimasa depan kita membutuhkan pemimpin yang lebih baik dari
sekarang ini.
e.
The
Relinguishing Style
Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk
menerima saran, pendapat ataupun gagasan orng lain, daripada keinginan untuk
memberi perintah, meskipun pengiriman pesan (sender) mempunyai hak untuk
memberi perintah dan mengontrol orang lain. Pesan-pesan dalam gaya komunikasi
ini akan efektif ketika pengiriman pesan atau sender senang bekerja sama
dengan orang-orang yang berpengetahuan luas, berpengalaman, teliti serta
bersedia untuk bertanggung jawab atas semua tugas atau pekerjaan yang
dibebankannya.
Contohnya seorang mahasiswa berkata kepada teman-temannya “siapkah kalian untuk melakukan perubahan?” pada contoh ini seorang komunikator menyatakan sebuah kalimat yang membutukan saran ataupun pendapat dari seorang komunikan dan ia akan merasa senang jika komunikan mau ikut bergabung bersama pendapatnya itu. Tujuan dalam kegiatan komunikasi yakni: [5][5]to secure understanding, meastikan bahwa komunikan mengerti pesan yang diterimanya. Setelah ia sudah dapat mengerti dan menerima, maka penerimanya itu harus dibina to estabilish acceptance, pada akhir kegiatannya yakni dimotivasikan to motivate action
Contohnya seorang mahasiswa berkata kepada teman-temannya “siapkah kalian untuk melakukan perubahan?” pada contoh ini seorang komunikator menyatakan sebuah kalimat yang membutukan saran ataupun pendapat dari seorang komunikan dan ia akan merasa senang jika komunikan mau ikut bergabung bersama pendapatnya itu. Tujuan dalam kegiatan komunikasi yakni: [5][5]to secure understanding, meastikan bahwa komunikan mengerti pesan yang diterimanya. Setelah ia sudah dapat mengerti dan menerima, maka penerimanya itu harus dibina to estabilish acceptance, pada akhir kegiatannya yakni dimotivasikan to motivate action
f.
The
Withdrawal Style
Akibat yang muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya
tindak komunikasi, artinya tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai
gaya ini untuk berkomunikasi dengan orang lain, karena ada beberapa persoalan
ataupun kesulitan antar pribadi yang dihadapi oleh orang-orang tersebut. Dalam
deskripsi yang konkret adalah ketika seseorang mengatakan: “saya tidak ingin
dilibatkan dalam persoalan ini”. Pernyataan ini bermakna bahwa ia mencoba
melepaskan diri dari tanggung jawab, tetapi tetap juga mengindikasikan suatu
keinginan untuk menghindari berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu,
gaya komunikasi ini tidak layak dipakai dalam konteks komunikasi jika berada
dalam sebuah kelompok.
Gambaran umum yang diperoleh dari uraian di atas adalah bahwa the equalitarian style of communication merupakan gaya komunikasi yang ideal. Sementara tiga gaya komunikasi lainnya : structuring, dunamic dan relinguishing dapat digunakan secara strategis untuk menghasilkan efek yang bermanfaat bagi organisasi. Dan dua gaya komunikasi terakhir: controlling, dan withdrawal mempunyai kecenderungan menghalangi berlangsungnya interaksi yang bermanfaat dan produktif.
Gambaran umum yang diperoleh dari uraian di atas adalah bahwa the equalitarian style of communication merupakan gaya komunikasi yang ideal. Sementara tiga gaya komunikasi lainnya : structuring, dunamic dan relinguishing dapat digunakan secara strategis untuk menghasilkan efek yang bermanfaat bagi organisasi. Dan dua gaya komunikasi terakhir: controlling, dan withdrawal mempunyai kecenderungan menghalangi berlangsungnya interaksi yang bermanfaat dan produktif.
C. Faktor Pendorong Gaya Komunikasi
Ada tujuh komponen yang diidentifikasikan sebagai penyebab gaya
interaksi-tujuh hal yang mampu merefleksikan atau memberikan pandangan mengenai
interaksi setiap individu. Dengan demikian faktor yang mempengaruhi gaya
komunikasi, antara lain:
1.Kondisi Fisik : Sesuai dengan penjelasan di atas
terlihat jelas bahwasannya kondisi fisik di mana kita melakukan komunikasi
sangat mempengaruh gaya komunikasi. Seperti halnya ketika kegiatan komunikasi
itu dilakukan dengan kapasitas minim dalam bertatap muka, hal tersebut akan
berakibat pada ketidak nyamanan dan kurangnya kepastian antara si pengirim dan
penerima pesan. Selain itu dapat menimbulkan ketidaksesuaian atau kenyamanan
antara kedua belah pihak.contoh lain yakni jika seorang komunikasi kondisinya
kurang baik atau bisa dikatakan dalam keadaan sakit maka gaya komunikasinya pun
akan berbeda dengan orang yang sehat,
2.Peran : Persepsi akan peran kita sendiri (sebagai
pelanggan, teman atasan) dan peran komunikator lainnya mempengaruhi bagaimana
kita berinteraksi. Setiap orang memiliki harapan yang berbeda dari peran mereka
sendiri dan orang lain, dan dengan demikian mereka akan sering melakukan
komunikasi antar satu dengan lainnya.[6][6] Camat akan
lain sikapnya ketika berkomunikasi dengan dengan bupati, dan bupati ketika
berkomunikasi dengan gubernur tidak akan sesantai tatkala menghadapi camat.
3.Konteks Historis : Sejarah mempengaruhi setiap
interaksi. Sejarah bangsa-bangsa, tradisi spiritual, perusahaan, dan masyarakat
dengan mudah dapat mempengaruhi bagaimana kita memandang satu sama lain, dengan
demikian dapat mempengaruhi gaya komunikasi. Tak lepas dari sejarahnya bahwa
indonesia mempunyai ada banyak perbedaan budaya dan suku yang mana budaya dan
suku tersebut mempunyai gaya komunikasi yang berbeda-beda sehingganya terdapat
banyak jenis gaya komunikasi yang ada.
4.Kronologi : Bagaimana interaksi itu cocok menjadi
serangkaian peristiwa yang mempengaruhi pilihan gaya komunikasi seseorang. Hal
tersebut akan membuat perbedaan, jika itu adalah pertama kalinya seseorang
berinteraksi tentang sesuatu atau kesepuluh kalinya, jika interaksi masa lalu
seseorang telah berhasil atau tidak menyenangkan. Maka akan membuat suatu
perbedaan terhadap gaya komunikasi seseorang. [7][7]situasi
komunikasi yang tidak menyenangkan dapat diatasi komunikator dengan
menghindarkan jauh sebelum atau dengan mengatasinya pada saat komunikasi sedang
berlangsung.
5.Bahasa : Bahasa yang kita gunakan, "versi"
dari bahasa yang kita ucapkan misalnya, Aussie, Inggris, atau versi bahasa
Inggris Amerika dan kelancaran kita dengan bahasa tersebut. Semuanya memainkan
peran dalam gaya berkomunikasi seseorang. Gaya komunikasi seseorang dalam
bahasa Inggris berarti bahwa orang yang terbiasa berbahasa jepang tidak
sepenuhnya memahami dia, dan kemampuan ini akan memberikan batasan pada
seseorang untuk sepenuhnya berpartisipasi dan mempengaruhi arah pembicaraan. [8][8]manusia,
meskipun satu sama lain sama jenisnya sebagai makhluk “homosapien” tetapi
ditakdirkan berbeda dalam banyak hal. Berbeda dalam postur, warna kulit,dan
kebudayaan, yang pada kelanjutanya berebeda dalam gaya hidup (way of life),
norma, kebiasaan, dan bahasa.
6.Hubungan : Seberapa baik kita tahu orang lain, dan
seberapa banyak kita suka atau percaya dia dan sebaliknya. Hal ini akan
mempengaruhi bagaimana kita berkomunikasi. Selain itu, pola kita mengembangkan
hubungan tertentu dari waktu ke waktu sering memberikan efek kumulatif pada
interaksi selanjutnya antara mitra relasional.
Komunikasi seorang teman yang telah lama dengan kita
akan berbeda gaya berkomunikasi dengan teman baru.
7.Kendala ; Metode yang seseorang gunakan untuk
berkomunikasi (misalnya, beberapa orang membenci e-mail atau panggilan telepon)
dan waktu yang kita miliki hanya tersedia untuk berinteraksi dengan metode
diatas. Jenis kendala tersebut akan mempengaruhi cara kita berkomunikasi. Misalnya
kita sedang sibuk bekerja tiba-tiba ada seorang yang mengajak untuk kita
berkomunikasi hal ini dapat menimbulkan gaya komunikasi kita berbeda dengan
saat kita berkomunikasi tidak melakukan pekerjaan
D. Hambatan
Gaya Komunikasi
a.
Hambatan Teknis.
Hambatan teknis keterbatasan
fasilitas dan peralatan komunikasi.Dari sisi teknologi, hambatan teknis ini
semakin berkurang dengan adanya temuan baru dibidang kemajuan teknologi
komunikasi dan informasi, sehingga saluran komunikasi dapat diandalkan dan efesien
sebagai media komunikasi. [9][9]banyak
contoh yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari : suara telepon yang
krotokan, [10][10]hambatan
pada beberapa mediatidak mungkin diatasi oleh komunikator, misalnya hambatan
yang dijumpai pada surat kabar, radio dan televisi. Tetapi pada beberapa media
komunikator dapat saja mengatasinya dengan mengambil sikap tertentu, misalnya
ketika sedang menelpon terganggu oleh krotokan. Barang kali ia dapat
mengulanginya pada beberapa saat kemudian
b.
Hambatan Semantik
Gangguan semantik adalah hambatan dalam proses
penyampaian pengertian atau ide secara secara efektif. Definisi semantik
sebagai studi atas pengertian, yang diungkapkan lewat bahasa. Kata-kata
membantu proses pertukaran timbal balik arti dan pengertian (komunikator dan
komunikan), tetapi seringkali proses penafsirannya
keliru. Tidak adanya hubungan antara simbol (kata) dan apa yang disimbolkan
(arti atau penafsiran), dapat mengakibatkan kata yang dipakai ditafsirkan
sangat berbeda dari apa yang dimaksudkan sebenarnya. Untuk menghindari salah
komunikasi semacam ini, seorang komunikator harus memilih kata-kata yang tepat
sesuai dengan karakteristik komunikannya,dan
melihat kemungkinan penafsiran terhadap kata-kata yang dipakainya.[11][11]faktor
semantis menyangkut bahasa yang sering digunakan komunikator sebagai alat untuk
menyalurkan pikiran dan perasaannya
kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasinya seorang komunikator
harus memperhatikan gangguan semantis ini, sebab salah ucap atau salah tulis
dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) atau salah tafsir
(misinterpretation), yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi
(miscomunication). Sering kali salah
ucap disebabkan karena si komunikator berbicara terlalu cepat sehingga ketika
pikiran dan persaan belum mantap terformulasikan, kata-kata sudah terlanjur
dilontarkan. Maksudnya akan mengatakan “kedelai” yang terlontar “keledai”,
“demokrasi” menjadi “demontrasi”, “partisipasi” menjadi “partisisapi” dan
sebagainya. [12][12] Salah
komunikasi atau miscomunication ada kalanya disebabkan pemilihan kata yang
tidak tepat, kata-kata yang sifatnya konotatif. Dalam komunikasi bahasa
sebaiknya dipergunakan adalah kata-kata yang denotatif. Kalau terpaksa juga
menggunakan kata-kata yang konotatif, seyogyanya dijelaskan apa yang dimaksud
sebenarnya, sehingga tidak menjadi salah tafsir. Kata-kata yang bersifat
denotatif adalah yang mengandung makna sebagaimana tercantum dalam kamus
(dictionary meaning), dan diterima secara umum oleh kebanyakan orang yang sama
dalam kebudayaan dan bahasanya, kata-kat yang mempunyai pengertian konotatif
adalah yang mengandung makna emosional atau evaliatif (emotional of evaluatif
meaning) disebabkan oleh latar belakang kehidupan dan pengalaman seseorang
c.
Hambatan manusiawi
Hambatan Manusiawi/hambatan yang
berasal dari perbedaan individual manusia. Terjadi karena adanya faktor,
perbedaan umur, emosi dan
prasangka pribadi, persepsi, kecakapan atau
ketidakcakapan, kemampuan atau ketidakmampuan alat-alat pancaindera seseorang. [13][13]dalam
melancarkan komunikasinya seorang komunikator tidak akan berhasil apabila ia
tidak mengenal siapa komunikan yang dijadikan sasarannya. Yang dimaksud dengan
“siapa” disini bikan nama yang disandang melainkan ras apa, bangsa apa, atau
suku apa. Dengan mengenal dirinya, akan mengenal pula kebudayaannya, gaya hidup
dan norma kehidupannya, kebiasaan dan bahasanya. Komunikasi akan berjalan
lancar jika suatu pesan yang disampaikan komunikakator diterima oleh komunikan
secara tuntas, yaitu diterima dalam penegrtian received atau secara indrawi,
dan dalam penegrtian accepted atau secar rohani. Seorang pemirsa televisi
mungkin menerima acara yang disiarkan dengan baik karena gambar yang tampil
pada pesawat televisi amat terang dan suaranya keluar amat jelas, tetapi ia
mungkin tidak dapat menerima ketika seorang pembicara pad acara itu mengatakan
daging babi lezat sekali. Sepemirsa tadi hanya menerimanya dalam penertian
accepted. Jadi hambatan ini juga menjadi hambatan yang harus diperhatikan agar
kita dapat segera mengatasinya dengan cepat.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Gaya komunikasi (communication style) didefinisikan
sebagai seperangkat perilaku antarpribadi yang terspesialisasi digunakan dalam
suatu situasi tertentu.
Pada
ilmu komunikasi, komunikasi memiliki 6 gaya yaitu :The Controlling Style,The Equalitarian
Style,The Structuring ,The Dynamic Style ,The Relinguishing Style,The Withdrawal
Style.
faktor
pendorong gaya komunikasi yaitu : Peran, Kondisi Fisik,Konteks
Historis , Kronologi , Bahasa, Hubungan, dan Kendala.
hambatan gaya komunikasi yaitu : Hambatan Teknis,
Hambatan Semantik, dan Hambatan manusiawi.
DAFTAR
PUSTAKA
Abas,rahmat
(2015). From: www.google.com
Al
ilmi,gina 2010. Jadi Pemimpin, Tangerang:
cv.citralab
Nurudin,nurudin. 2003.Sistem Komunikasi
Indonesia, Jakarta: raja grafindo persada
Uchjana,onong. 1990.Komunikasi Teori dan Praktek,Bandung: remaja rosdakarya
Uchjana,onong. 1998. Dinamika Komunikasi, Bandung: remaja rosdakarya
No comments:
Post a Comment