Pages

Saturday, October 28, 2017

makalah: teori belajar behaviorisme



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Teori belajar Behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gagedan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Gage, Berliner, 1984) Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.
Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan landasan diatas dapat kami rumuskan permasalahan yang akan kita bahas sebagai berikut:
1.    Apa yang dimaksud dengan teori belajar behaviorisme ?
2.    Apa saja aliran teori belajar behaviorisme ?
3.    Bagaimana definisi belajar menurut pandangan teori behaviorisme ?
C.    Tujuan Penulisan
  1. Mengerti dan memahami mengenai teori pembelajara behavioristik
  2. Mengetahui dan memahami aliran teori belajar behaviorisme
  3. Mampu mengkaji hakikat belajar menurut teori behavioristik












BAB II
PEMBAHASAN
A.    Teori behaviorisme
Teori belajar yang  beriorentasi pada behavioral menekankan pada perubahan tingkah laku atau prilaku brdasarkan pengalaman. Pandangan ini mengangap bahwa semua bentukprilaku yang tamak (dapat dilakukan dan dilihat langsung) dari seseorang yang merupakan hasil dari belajar, karena itu untuk merubah priaku seseorang harus dengan prilaku belajar. Munculmya prilaku juga semakin kuat bila diberi penguatan dan menghiang apabila diberi hukuman.

B.     Aliran belajar teori behaviorisme
Beberapa aliran belajar teori behaviorisme antara lain yaitu teori koneksionisme, teori trial and erro, teori klasikal kondision, dan teori operan kodisioning.
1)             Teori koneksionisme
Teori ini dipelopori oleh Thorndike,sebagai ahli psikologi dan filsafat serta pengukuran dalam pendidikan dan penelitian. Thorndike berpendapat bahwa belajar adalah usaha membentuk hubungan antara stimulus dan respon. Stimulus merupakan suatu perubahan dari lingkngan luar yang mengaktifkan seseoranguntuk bereaksi dan berbuat. Respon atau reaksi adlah ringkah laku yang mucul karena adanya stimulus atau rangsangan. Hubungan antara stimulus dan respon perlu dilakukan uji coba kemampuan melalui usaha trial dan error terlebih dahulu menurut hukum hukum tertentu. Teori ini berprinsip bahwa semua proses belajar itu terjadi karena adanya proses rangsangan dari diri atau luar diri individu.  Rangsangan tersebut sebagai proses terhadap respon individu diman tingakah laku tersebut disebut pross beljar. Proses tingkah laku individu akibat hubungan antara rangsang sebagai bentuk hubungan antara rangsang dan respon yang terjadi suatu perubaha yang meningkat, maju dan bersifat positif. Teori koneksionisme ini mendasar pada aliran ilmu jiwa behavirisme yang menyatakan bahwa setiap perbuatan itu dikembalikan kepada rangsangan sebagai bentuk hubungan antara perubahan situasi dengan kesanggupan individu ntuk bereaksi. Aktivitas terpenting dari stimulus dan respon untuk terjadinya suatu perubahansebagai hasil belajaryang terletak pada sistem saraf dan hubungannyadengan sistem tersebut.
Selanjutnya Thorndike mengemukakan tiga hukum belajar utama dan lima hukum belajar tambahansebagaielengkap. Ketiga hukum belajar yang utama adalah sebagai berikut:
a)        Hukum kesiapan
Hukum belajar ini berhubungandengan organisme individu untukberbuat atau melakukan sesuatu. Jika organisme tersebut telah siap dan telah siap melakukan perbuatan itu, maka akan terjadi senagn dan lancar melakukan perbuata tersebut. Dan sebaliknya, apabila individu tersebut belum siap melakukan tugas dan berbuat, maka tidak akan terjadi senang dan terhalang melakukan perbuatan tersebut, sehingga ia menjadi kecewa. Contohnya: seotrang siswa yang melihat proses belajar dan atau hasil belajar yang sangat menarik, siap untuk mendekatinya, melakukan dan memperjuangkanya.
b)        Hukum latihan
Latihan sebagai syarat yang menentuan kat lemahnya hubunga antara perangsang dengan respon. Menurut hukum ini makin banyak latihan makin kuat hubungan antara perangsang dan respon dan sebaliknya semakin renggang atau jarang latihan semaki lemah hubungan antara perangsang dan respon. Jadi hukum ini tergantung pada frekuensi latihan, maka menganggap belajar tidak lain dari latihan. Dengan demikian proses belajar akan lebih efektif kalau lebih sering dialamidengan jarak singkat antara ulangan pertama dan berikutnya.
c)        Hukum efek
Menurut hukum ini bahwa dengan memperkuat hubungan antara stimulus dan respon tergantung dari tingkat kepuasan atau akibat yang ditimbulkan dari hubungan tersebut. Oleh karen itu, jika hubungan antara stimulus dan respon terjadi tingakt kepuasan dan kesenangan, maka akan menimbulkan efek hubungan yag kuat antara stimulus dan respon. Sebaliknya jika hubug tidak terjadi tigkat kepuasan dan kekecewaan,maka menimbulkan efek hubungan yang lemah antara stimulus dan respon. Dengan demikian proses belajar harus membeikan hadiah( baik langsung maupun tidak langsung) dan menghindari efek kekecewaan (hukuman).
           
Kelima hukum tambahan sebagai pelengkap dari teori ini adalah:
a.       Hukum reaksi yang ermacam- macam
Prinsip dari hukum ini adalah apabila individu menghadapi masalah, ungkin ia mengadakan reaksi yang bermacam- macam, jika suatu saat terjadi reaksi yang cocok maka dipilih reaksi tersebut. Sedangka jika reaksi tidak cocok, maka ditinggalkan. Cocok atau tidaknya reaksi individu dengan kondisi rangsangan adalah mempengaruhi tingkah laku individu sebagai hasil daripada belajar dengan mencoba- coba. Proses belajar dan hasil belajar tergantung dari tingkat kesanggupan dari tingkat kesanggupan untuk mebuat variasi dalam respon/ reaksi.
b.      Hukum kesiapan
Hukum ini menganggap bahwa secara keselruhan sikap individu tergantung dari keberhsilan dan atau kekecewaan. Reaksi terhadap perangsang yang menimbulkan keberhasila akan keberhasilan dan akan menumbuhkan sikap mental yang sehat. Tetapi jika sebaliknya maka aka terjadi sikap mental kurang sehat. Sikap mental yang sehat akan menimbulkan sikap positif terhadap proses belajar. Sikap positif terhadap belajar aka memperlancar itu.
c.       Hukum pilihan
Dikatakan hukum pilihan karena individu dihaadapkan pada beberapa situasi yang dapat dipilih untuk dilakukan. Proses belajar dan hasil belajar tergantung pada tingkatkesanggupan individu untuk memilih hal- hal yang relevan.jadi menurut hukum ini dalam belajar itu terdapat aktivitas seleksi yng dapat dilakukan individu dalam melakukan reaksi terhadap rangsang yang dialaminya.
d.    Hukum Asimila atau Analogi
Hukum ini menganalogikan dan menghubungkan situasi yang dihadapi (situasi baru) dengan situasi lama atau situasi yang pernah ia alami sebelumnya. Baik situasi baru itu mirip dengan situasi lama maupun tidak mirip akan tetapi ada hubungannya. Kedaan belajar yang demikian ini menitik beratkan pada pengalaman lampau atau masa lalau. Dengan demikin proses belajar yang baru akan lebih efektif kalau ada kemiripanya dengan proses dan bahan yang telah pernah dipelajari sebelumnya.
e.    Hukum Pergeseran Hubungan (Asosiatif)
Hukum ini mengatakan bahwa ransangan baru (buatan) dapat diterima jika mempunyai kedudukan yang sepadan/paralel dengan ransangan asli yang dapat menimbulkan respon. Teori ini mirip dengan teori bersyarat. Contoh : anak yang baru masuk taman kanak-kanak ia mau bersekolah kalau ibunya ikut juga duduk di sebelahnya. Bersekolah adalah rangsangan asli yang telah disukai. Dengan demikian proses belajar yang sama sekali baru dapat diciptakan dengan menghubungkannya dengan situasi yang sensitif bagi siswa.
2)             Teori Trial And Error
Teori ini pada dasarnya adalah bagian dari pada teori konneksionime oleh Thordinke. Teori ini berpendapat bahwa individu belajar apabila menghadapi suatu persoalan yang ingin seseorang individu pecahkan. Menurut teori ini memecahkan suata masalah pada mulanya adalah mencoba-coba melakukan dan mengamati denga alat indera. Usaha mencoba-coba tersebut ditemukan suatu pengalaman sebagai proses pemecahan masalah. Proses belajar dengan mencoba-coba tersebut terjadi juga pada binatang. Berulang-ulang kali mencoba secara berturut-turut binatang dapat mengatasi kesulitan yang dihadapi, sehingga dengan demikian menjadi suatu kebiasaan yang bersifat rutin.
Manusia pada proses semacam itu dapat pula berlaku, akan tetapi lebih jauh dari pada pembiasaan seekor binatang yang demikian itu. Manusia dalam mencoba-coba mengguanakan pengalamannya, sehingga mencoba-coba itu dapat lebih cepat, lebih luas dan fleksibel. Manusia dengan pengalamannya mampu menemukan hunbungan antara beberapa hal yang merupakan kunci penyelesaian. Namun demikian tidaklah semua tingkah laku manusia dalam memecahkan masalah merupakan gejala trial and error, akan tetapi senantiasa ada nya bantuan pikiran, perasaan, ingatan, dan fungsi-fungsi psikis lainnya yang digunakan untuk pertimbangan tindakan trial and error itu. Karena itu bentuk trial and error atau mencoba-coba dengan seleksi mana yang benar ini merupakan bentuk dasa dari pada belajar.

3)             Teori Klassikal Kondisioning
Teori ini dikemukakan oleh Pavlov melalui percobaan yang dilakukan terhadap seekor anjing. Anjing dikurung dalam kandang pada jangka tertentu dibunyikan lonceng dan diberikan makanan. Pengalaman ini dilakukan berulang-ulang, biunyi lonceng diberikan makanan. Suatu waktu yang lain, lonceng dibunyikan tanpa diberi makanan air liur anjing tersenut mengalir keluar. Hal ini memberikan indikasi bahwa bunyi lonceng sebagai perangsang (S) dan makan sebagai respon (R) dari jawaban yang lazim diperoleh sebagai pemuasan rasa lapar yang dirasakan. Percobaan pavlov ini berpengruh pada gejala-gejala jiwa dari seseorang bahwa dapat dilihat dari perilakunya. Asumsi bahwa dengan menggunakan perangsang tertentu perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan keinginan. Eksperimen yang dilakukan ini perilaku terhadap binatang, hal ini dapat dipersamakan dengan perilaku manusia. Aliran konsep ini beranggapan bahwa perilaku binatang memiliki persamaan dengan perilaku manusia, terutama faktor-faktor biologis. Percobaan-percobaan ini (melalui binatang) merupakan konsekuensi logis bahwa jiwa manusia jauh lebih mahal daripada jiwa binatang yang komsekuensinya lebih ringan. Walaupun percobaan ini belum sepenuhnya dapat diberlakukan terhadap perilaku manusia, karena secara hakikat perilaku manusia sebagai gejala jiwa berbeda dari perilaku binatang percobaan Pavlov makanan sebagai rangsangan wajar dan bunyi lonceng sebagai rangsangan buatan. Percobaan ini dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini tanpa rangsangan wajar akan menyebabkan timbulny air liur, hal ini menjadi kndisi bersyarat padaprilaku yang dikehendaki. Kondisi bersyarat ini disebut juga refleksi bersyarat atau konsi reaksi. Temuan Pavlov ini menunjukan bahwa belajar dapat mempengarhi perilaku seseorang yang dapat menghasilkan hukum-hukum belajar seperti hukum respon kondisioning dan hukum respon ekstension. 
4)      Teori Operan Kondisioning
                    Teori ini dipelopori oleh B.F Skinner yang mengungguli konsep-konsep belajar sebelumnya. Konsep belajar ini sederhana dan kompherensif, bahwa hubunan stimulus dan respon yang terjadi melalui interksi dengan lingungan yang menimbulkan perubahan perilaku. Memahami perilaku individu secara benar perlu dipahami hubungan antara stimulus satu dengan stimulus lainnya dan memahami respon yang muncul dari berbagai konekuensi yang mungkin timbul sebagai akibat dari respon tersebut. Skinner mengemukakan pula bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku yang dapat diamati dan dapat diterima secara sosial sesuai dengan budaya masyarakat. Perilaku menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat menjelaskan menjelaskan dan menambah masalah menjadi rumit. Program pembelajaran dari skinner berpengaruh besar terhadap pilihan pengajaran, pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lainyang berdasar pada konsep hubungan hubungan stimulus dan respon yang mementingkan faktor-faktor penguatan (reinforcement). Percobaan-percobaan yang dilakukan oleh skinner ini terhadap penggunaan binatang (tikus dan merpati) manghasilkan hukum-hukum belajar yaitu hukum operan kondisioning dan hukum ekstension.  menyatakan bahwa timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguatan, perilaku tersebut akn meningkat dan bertahan lebih lama. Hukum operan ekstension menyatakan bahwa perilku yang tidak diiringi stimulus dan penguatan perilaku akan musnah dan menurun.
                        Kajian teori behavioral pada prinsipnya dalam belajar berkaitan dengan perilaku lama yang dimodifikasi menjadi perilku baru yang lebih baik yang telah menjadi milik dari seseorang. Perubahan perilaku itu dapat menyangkut perilaku kognitif, perilaku afektif, dan perilaku psikomotor. Penerapan teori belajar behavioral menekankan pada perilaku yang terstruktur dan sistimatis, maka pembelajar dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas yang telah ditetapkan secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi essensial penerapannya, sehingga pembelajaran dikaitkan dengan usaha penguatan (reward/reinforcement) dan pendisiplinan pada pelanggaran yang terjadi dengan hukuman dan keberhasilan diganjar dengan hadiah.
C.     Belajar Menurut Teori Behavioristik
Menurut teori belajar behavioristik, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil dari interaksi stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar apabila ia bisa menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Contoh, seorang anak mampu berhitung penjumlahan dan pengurangan, meskipun dia belajar dengan giat tetapi dia masih belum bisa mempraktekkan penjumlahannya, maka ia belum bisa dikatakan belajar karena ia belum menunjukkan perubahan tingkah laku sebagai hasil dari belajar.
Dalam teori Behavioristik, yang terpenting itu adalah masukan atauinput yang berupa stimulus serta output yang berupa respon. Apa yang terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidaklah penting karena tidak dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran sebab dengan pengukuran kita akan melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting bagi teori ini adalah penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat respon. Jika penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat, begitu juga penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon akan tetap dikuatkan. Misal jika peserta didik diberi tugas oleh guru, ketika tugasnya ditambahkan, maka ia akan lebih giat belajarnya (positive reinforcement). Apabila tugas-tugas dikurangi justru akan meningkatkan aktifitas belajarnya (negative reinforcement). Jadi penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan (ditambah) atau dihilangkan (dikurang) untuk memungkinkan mendapat respon.










BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan maslah yang kita bahas, dapat diambil kesimpulan:
1.        Teori behavioristik merupakan teori belajar yang lebih menekankan pada perubahan tingkah laku serta sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon.
2.        Teori behavirisme terdiri dari dari 4 aliran: koneksionisme, teori trial and error, teori klassikal kondisioning, dan Operan kondisioning.
3.        Menurut teori belajar behavioristik, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar apabila ia bisa menunjukkan perubahan tingkah lakunya.
B.     Saran
Kita sebagai calon guru BK harusnya mampu membimbing para peserta didik kita dengan baik, terkhusus dalam bidang layanan belajar dengan metode dan teori yang tepat. serta dapat berkolaborasi dengan guru mata pelajaran/guru kelas demi keberhasilan siswa dalam belajarnya. Oleh karena itu pelajarilah teori-teori pembelajaran yang ada agar kita mampu menemukan kecocokan dalam metode bimbingan belajar yang tepat.













DAFTAR PUSTAKA

Kanto, Kulasse. 2015. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling Belajar. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.




Wednesday, October 25, 2017

Reaksi Frustasi yang Negatif : Kaitan Mekanisme Melarikan Diri dengan Gangguan Kejiwaan




Selain reaksi frustasi yang positif,ada pula reaksi frustasi yang negatif, yang sanat idak mengntungkan bagi pribadi yang mengalami frustasi dan merugikan ora lain juga. Juga mengakibakan gangguan kejiwaan.
Frustasi itu sendiri selalu mengandung dimensi ketegangan, sedangkan usaha menyelesaikan atau mengatasi frustasi itu selalu berupa usaha meredusir mengurangi ketegangan tersebut.
Bentuk- bentuk penyelesaian yang tidak riil, negatif sifatnya, dan tidak menguntungkan, yaitu dengan cara tidak menguntungkan dikenal dengan istilah defense mechanism. Disebut defense mechanism karena individu mencoba mengelak dan membela diridari kelemahan dan kekerdilan diri sendiri dan mencoba mempertahankan harga diri, yaitu dengan mengemukakan berbagai alasan.
Bentuk pertahanan diri yang negatif antara lain:
1.      Agresi
Agresi adalah  kemarahanyang meluap-luap, dan orang melakukan serangan secara kasar, dengan jalan yang tidak wajar.
Karena selalu gagal dalam usahanya reaksinya sangat primitif, berupa kemarahan dan luapan emosi kemarahan yang meledak- ledak. Kadang- kadang disertai dengan tindakan sadis dan usaha membunuh orang.
2.      Regresi
Regresi ialah rilaku surut kembali pada pola reaksi atau tingkat perkembangan yang primitif, yang tidak adekuat, dan pola tingkah laku yang kekanak- kanakan, infantil, dan tidak sesuai dengan tingkah laku usianya.
Hal ini disebabkan karena individuyang bersangkutan mengalami frustasi berat yang tidak tertanggungkan. Pola reaksinya antara lain berupa menjerit- jerit mengguing- guling, menangis meraung- raung dsb.eaksi tersebut disebabkan rasa kebimbangan, rasa dongkol, rasa tidak mampu, lalu ia ingin dihibur dan ditolong, agar ia bisa keluar dari kesulitannya.
3.      Fiksasi
Fiksasi adalah pelekatan atau pembatasan pada satu pola tingkah laku responsif yang tetap, sehingga tingkah laku menjadi stereotipis kaku.
Fiksasi adalah satu mode tngkah laku tegar yang ingin mempertahankan ketidakgunaan atau ketidaktahuan.
Jika seseorang selalu menghadapi jalan buntu dan kegagalan dalam usahanya, lambat laun dia bisa mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang khas, yang stereotipis.
4.      Kompleks terdesak
Pendesakan ialah usaha- usaha menghilangkan dan menekan isis- isi kejiwaan yang tidak menyenangkan dan kebutuhan manusiawi ke dalam ketidaksadaran atau ke bawah sadar.

5.      Rasionalisasi dan justifikasi diri
Rasionalisasi ialah cara menolong diri sendiri secara tidak wajar atauteknik pembenaran diri dengan membuat sesuatu yang tidak rasional serta tidak menyanamgkan menjadi hal yang rasional dan menyenangkan bgi diri sendiri.
Jika seseorang mengalami frustasi maka biasanya dia akan mencari asal penyebab dari orang lain, atau mencarinya pada keadaan diluar dirinya. Dia menganggap dirinya paling benar.
6.      Proyeksi
Proyeksi adalah usaha mensifatkan, melemparkan atau memproyeksika sifat, pikiran dan harapan yang negtif, juga kelemahan dan sikap diri sendiri yang keliru, kepada orang lain. Melemparkan kesalahan sendiri kepada orang lain.
7.      Teknik anggur asam ( soul crape tecnique)
Teknik anggur asam merupakan suatu usaha memberi atribut jelek, tidak berharga atau negatif pada objek yang tidak dapat dicapainya, sungguh pun objek tadi sangat diinginkannya.
8.      Teknik jeruk manis (sweet orange tecnique )
Teknik jeruk manis ialah usaha memberikan atribut yang bagus unggul, dan berlebih- lebihan pada satu kegagalan, kelemahan da kekurangan sendiri.
9.      Identifikasi
Ideentifikasi adalah proses mempersamakandiri sendiri dengan seseorang yang dianggap sukses dalam hidupnya. Orang yang frustasi biasanya tidak meelihat kekurangan dalam hidupnya. Dia selalu berusaha ( dalam imaginasinya) menyamakan diri dengan orang yang sukses.
10.  Narsisme
Narsisme adalah cinta diri yang ekstrim, paham yang menganggap diri sendiri sangat superior dan amat penting.
11.  Autisme
Autisme adalah gejalamenutupdiri secara total, dan tidak mau berhubungan dengan dunia luar. Keasyikan ekstrim dengan dunia dan fantasinya sendiri.