A. Asumsi- asumsi dasar behaviorisme
Orang
cenderung mempelajari dan menunjukan prilaku yang menghasilkan, setidaknya di
mata mereka, konsekuensi- konsekuensi yang diinginkan. Dan lebih umum lagi,
prilaku orang sebagian besarnya merupakan hasil dari pengalaman mereka dengan
stimulus- stimulus lingkungan. Asumsi- asumsi dasar pandangan behaviorisme
tentang belajar yaitu:
1.
Prilaku
seorang sebagian besar merupakan hasil dari pengalaman meraka dengan stimulus-
stimulus lingkungan. Banyak behavioris percaya, bahwa seorang bayi lahir
bagaikan sebuah “kertas kosong” (tabula rasa) tampa kecendrungan bawaan untuk
berprilaku dengan cara tertentu. Selama bertahun- tahun, lingkungan lingkungan
akan “menulis” kertas kosong ini, membentuk secara perlahan, atau
mengkondisikan individu menjadi seorang yang memiliki karasteristik dan cara
berprilaku yang unik.
2.
Belajar
dapat digambarkan dalam kerangka asosiasi diantara peristiwa- peristiwa yang
dapat diamati- yaitu, asosiasi antara stimulus dan respon.
3.
Belajar
melibatkan perubahan prilaku.
4.
Belajar
cenderung terjadi ketika stimulus dan
respon muncul dala waktu yang berdekatan. Supaya hubungan stimulus dan respon
berkembang, kejadian- kejadian tertentu harus terjadi bersamaan dengan
kejadian- kejadian lain. Ketika dua kejadian muncul pada waktu yang kurang
lebih sama, dapat dikatakan ada kontiguitas kejadian tersebut.
5.
Banyak
spesies hewan, termasuk manusia, belajar dengan cara- carayang sama. Behaviors
terkenal dengan eksperimen mereka terhadap mereka terhadap hewan seperti tikus
dan merpati. Mereka berasumsi bahwa banyak spesies meiliki proses pembelajaran
yang sama
B. Kondisioning klasik
Pengkondisian
klasik pertama kali dijelaskan oleh ivan pavlov (1927) seorang fisiolog rusia,
tentang air liur anjing. Dalam istilah umum pengkondisian klasik berlangsung
sebagai berikut:
a.
Dimulai
dari stimulus respon yang terjadi sebelumnya- dengan kata lain, sebuah asosiasi
stimulus- respon tak terkendali.
b.
Kondisioning
terjadi ketika sebuah stimulus netral- yang tidak menimbulkan respon apapun-
disajikan segera sebelum stimulus tak terkondisi.
c.
Segera
setelahnya, stimulus yang baru itu juga menimbulkan sebuah respon, biasanya
sangat mirip dengan respon yang tidak terkendali.
1. Kondisioning klasik tentang respon-
respon emosional
Kondisioning
klasik terkadang dapat menjelaskan mengapa manusia dan organisme lainnya
memiliki reaksi emosional terhadap stimulus tertentu. Dalam beberapa kasus,
reaksi emosional terhadap sebuah lagu mungkin berkaitan dengan mood yang ada
pada lagu itu. Tetapi pada kasus lain, sebuah lagu mungkin dapat membantu anda
memiliki perasaan tertentu karena dikaitkan dengan peristiwa- peristiwa
tertentu. Kondisioning klasik seringkali digunakan utuk menjelaskan mengapa
orang terkadang menampilkan respon secara emosional terhadap apa yang dianggap
orang lain sebagai stimulus netral.
2. Fenomena umum dalam pengkondisian klasik
Dua
fenomena umum dalam pengkondisian klasik yaitu: generalisasi dan ekstinsi.
a.
Generalisasi,
ketika orang mempelajari respon terkondisi terhadap suatu stimulus baru, respon
yang sama terhadap stimulus yan serupa juga bisa terjadi, fenomena ini diebut
generalisasi.
b.
Ekstinsi,
Pavlov menemukan bahwa respon terkondisi tidak bertahan selamanya. Dengan
memasangkan cahaya dan daging supaya seekor anjing mengeluarkan air liur.
Tetapi selanjutunya Pvlov menyalakan cahaya tampa dilanjutkan dengan pemberian
daging, air lur semakin berkurang. Dan akhirnya tidak mengeluarkan air liur
sama sekali. Ketika stimulus terkondisi muncul berulang- ulang tampa diikuti
stimulus tak terkondisi, respon terkondisi akan berkurang dan pada akhirnya
menghilang, dengan kata lain ekstinsi terjadi.
C. Kondisioning operant
Prinsip
dasar pengkondisian operant adalah sebuah respon diperkuat- dan mungkin
karenanya akan terjadi lagi- ketika respon tersebut diikuti oleh sebuah
stimulus yang menguatkan. Ketika prilaku- prilaku diikuti dengan konsekuensi
yang diinginkan, maka prilaku tersebut cenderung meningkat frekuensinya.
1.
Membandingkan
pengkondisian klasik dengan pengkondisian operan
a.
Cara
kondisioning terjadi. Kondisionioning klasik diakibatka oleh pemasangan dua
stimulus, salah satunya stimulus tak terkondisi yang mulanya menimbulkan sebuah
respon yang sama atau serupa. Sebaliknya, kondisioning operan terjadi ketika
sebuah respon diikuti dengan sebuah stimulus.
b.
Hakikat
respons. Dalam kondisioning klasik, respon terjadi tampa direncanakan. Ketika
sebuah simulus terkodisi hadir, responnya hampir menyusul secara otomatis.
2.
Penguatan
di kelas
Penguat adalah setiap konsekuensi yang
meningkatkan frekuensi prilaku tertentu, terlepas dari apakah orang- orang
menganggap konsekuensi itu menyenangkan atau tidak.
a. Penguat primer dan penguat sekunder.
Beberapa penguat seperti sebatang permen merupakan penguat- penguat primer,
karena berhubungan dengan kebutuhan biologis dasar. Bila anda menginginkan uang
untuk membimbing teman- teman sekelasmu, itu berarti penguatan sekunder.
Penguat sekunder adalahtidak memuaskan setiap kebutuhan fisiologistetapi
menjadi pengut seiring waktu melalui asosiasinya dengan penguat- penguat yang
lain.
b. Penguatan positif dan penguatan negatif.
Setiap kalistimulus khusus dihadirkan setelah sebuah prilaku dan prilaku
tersebut meningkat hasilnya,maka penguatan psitif telah terjadi. Penguatan
negatif yaitu menyebabkan meningkatkan suatu prilaku melalui penghilangan suatu
stimulus (biasanya stimulus tidak menyenangkan).
3.
Menggunakan
penguatan scara efektif
Beberapa strategi yang selaras dengan
prnsip behavior abtara lain :
a.
Tentukan
prilaku yang diinginkan di awal pelajaran.
b.
Identifikasi
konsekuensi- konsekuensi yang benar- benar memberikan penguatan bagi masing-
masing siswa.
c.
Gunakan
penguat- penguat ekstrinsik hanya ketika prilaku yang diinginkan tidak akan
terjadi tampa penguat- penguat tersebut.
d.
Buatlah
kontigensi respon-konsekuensi eksplisit
e.
Jika
memberi penguatan di depan umum, pastikan semua siswa mempunyai kesempatan
untuk mendapatkannya
f.
Saaat
berusaha mendorong prilaku yang sama pada sekelompok siswa, pertimbangkan
menggunakan kontigensi kelompok.
g.
Jalanka
penguatan secara konsisten sampai prilaku yang diinginkan terjadi sebagaimana
yang diharapkan
h.
Ketika
suatuprilaku sudah terbentuk dengan baik, hentikan siswa dari penguatan
ekstrinsik, tetapi secara perlahan- lahan.
i.
monitor
kemajuan siswa
4.
Membentuk
prilaku baru
Melalui pembentukan, kita dapat membantu
siswa mendapatkan berbagai keterampilan akademik yang kompleks dan prilaku
kelas seiring waktu. Misalnya, anak kelas 1 diajarkan mencetak angka- angka di
atas kertas bergaris lebar, mereka dipuji karena hruf yang ditulis bagus
bentuknyadan tidak melewati garis atas dan garis bawah. Ketika anak- anak ke
jenjang yang lebih tinggipara gurusemakin rewel tentang bagaimana bagusnya
huruf dibentuk. Ketika keteramplan yang rumit terlibat, tidak masuk akal
mengharapkan siswa membuat perubahan yang dramatis dalam waktu semalam. Jika
kita ingin mereka menampilkan prilaku yang sama sekali berbeda dar apa yang
mereka lakukan sekarang, pertama- tama kia melakukan penguatan pada satu
langkah kecilke arah yang benar, lalu memberikan penguatan kecil selanjutnya
sampai prilaku yang diinginkan terjadi.
5.
Pengaruh
stimulus- stimulus dengan respon- respon antiseden
Stimulus- stimulus dan respon- respon
yang mendahului sebuah prilaku yang diinginkan(stimulus anteseden dan respon
anteseden) juga memberikan pengaruh.di sini kita dapat melihat beberapa
fenomena antara lain:
a. Pemberian isyarat, siswa mungkin
berprilaku pantas ketika mereka diberikan tanda pengingat(tanda, isyarat) atau
peringatan bahwa perilaku tertentu diinginkan.
b. Setting kejadian, dalam pemberian
isyarat, kita menggunakan stimulus spesifik sebagai peringatan terhadap siswa
supaya berprilaku dengan cara tertentu. Pendekatan alternatifnya yaitu
memebentuk lingkungan-sebuah setting kejadian-yang mudah mendorong prilaku yang
diinginkan.
c. Generalisasi begitu anak- anak telah
mempelajari bahwa sebuah respon mungkin akan diberikan penguatandalam satu
rangkaian keaadaan, mereka mudah membuat respon yang sama dalam suau yang sama.
d. Diskriminasi, terkadang orang belajar
bahwa respon diberikan penguatan hanya ketika stimulus tertentu ada.
D. Mengurangi dan menghilangkan perilaku
yang tidak diinginkan
1.
ekstinksi
Salah
satu cara mengurangi frekuensi prilaku yang tidak sesuai adalah memastikan
prilaku tersebut tidak diberi penguatan. Namun ada dua poin yang perlu
diperhatikan tentang ekstinsi dalam kondisioning operan. Pertama, begitu
penguatan berhenti, respon yang sebelumnya diberikan penguatan tidak selalu
berkurang dengan segera. Kedua,kita terkadang dapat menemukan situasi dimana
sebuah respon tidak penah menurun ketika kita menghilangkan suatu penguat.
2.
Memberikan
isyarat(cueing) terhadap prilaku yang tidak sesuai
Sebagaimana kita dapat menggunakan
isyarat untuk mengingatkan para siswa tentang apa yang seharusnya mereka
lakukan, kita juga harus memberi isyarat tentang apa yang seharusnya tidak
mereka lakukan.
3.
Memberikan
penguatan kepada peilaku yang bertentangan
Ketika usaha kita menghilangka prilaku
yang tidak sesuai atau memberikan isyarat gagal, penguatan terhadap satu atau
lebih prilaku yang bertentangan dengan prilaku yang bertentangan sering kali
efektif
4.
Hukuman
Beberapa prilaku yang tidak sesuai
memerlukan penanganan segera, misalnya prilaku yang dapat mengganggu
pembelajaran di kelas atau mencerminkan rsa tidak hormat terhadap hak
keselamatan orang lain, maka diperlukan suatu hukuman.
1. Hukuman yang efektif
a. Teguran verbal
b. Biaya respon
c. Konsekuensi logis
d. Time out
e. Skor di sekolah
2. Bentuk hubungan yang tidak efektif
a. Hukuman fisik
b. Hukuman psikologis
c. Tugas ekstra kelas
d. Skors tidak boleh sekolah
3. Menggunakan hukuman secara manusiawi
Berikut
beberapa petunjuk menggunakan hukuman secara efekti dan manusiawi:
a. Piliah konsekuensi yang benar- benar
menghukum tampa terlalu keras.
b. Beritahukan sebelumnya kepada para siswa
bahwa prilaku tertentu aka dihukum, da jelaskan bagaiman prilaku itu akan
dihukum
c. Laksanakan konsekuensiyang sudah
ditentukan sebelumnya.
d. Jalankan ukuman secara privat, khususnya
ketika siswa lain tidak menyadari kesalahannya.
e. Jelaskan megapa prilaku yang dihukum itu
tidak dapat diterima
f. Jalankan hukuman dalam suasana yang hangat
dan mendukung
g. Ajarkan dan berikan penguatan pada
prilaku alternatif yang diinginkan
h.
Monitor
keefektifan hukuman